Monthly Archives: Februari 2012

KERAWANAN SOSIAL DITINJAU DARI SUDUT PANDANG KETAHANAN PANGAN

KERAWANAN SOSIAL DITINJAU DARI SUDUT  PANDANG KETAHANAN PANGAN

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia diciptakan beragam atau poligenis. Keragaman itu berasal dari tingkat kemajemukan ilmu yang mereka miliki. Namun demikian, sebagian budaya mengatakan bahwa manusia berasal dari satu keturunan yang sama. Perbedaan terjadi selain dikarenakan kemajemukan ilmu, juga dikarenakan oleh wilayah dimana mereka hidup (Poerwanto, 2008).

Adanya perbedaan dalam diri manusia menyebabkan munculnya akulturasi, gagasan-gagasan baru, difusi, dan peleburan budaya. Dengan akal yang dimilikinya, manusia mampu menciptakan perubahan dan perkembangan. Menurut ahli antropologi Amerika A.L. Kroeber, proses evolusi kebudayaan terkadang berlangsung sangat cepat melebihi proses evolusi organik makhluk hidup (Poerwanto, 2008).

Khazanah kekayaan budaya suku bangsa di Indonesia sangatlah beragam. Kebudayaan indonesia selain dipengaruhi oleh budaya lokal, juga dipengaruhi oleh budaya asing yang dibawa oleh bangsa Eropa semasa Kolonial (Poerwanto, 2008). Menurut Koentjaraningrat (dalam Poerwanto, 2008) diantara 175 negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa, hanya 12  negara yang penduduknya relatif homogen; yaitu  Austria, Bostwana, Denmark, Jerman, Islandia, Jepang, Belanda,  Norwegia, Portugal, Somalia, dan Swaziland. Hal ini menunjukkan bahwa hapir di seluruh dunia, mayoritas negara memiliki masyarakat yang  majemuk, termasuk pula Indonesia.

Namun demikian, Bangsa Indonesia mengalami beberapa tantangan untuk dihadapi atas dasar konsekwensi dari beragamnya etnis yang dimiliki. Dalam rangka mempersatukan penduduk Indonesia yang beraneka ragam, Koentjaraningrat (dalam Poerwanto, 2008) melihat empat masalah pokok yang dihadapi, ialah (1) mempersatukan aneka suku dan bangsa, (2) hubungan antar umat beragama, (3) hubungan mayoritas dan minoritas, (4) integrasi kebudayaan di Irian Jaya dan Timor-Timur dengan kebudayaan Indonesia.

Hingga setelah 66 tahun Indonesia merdeka, masalah dari majemuknya bangsa ini masih dapat terlihat. Salah satunya adaalah gerakan separatisme atau pemisahan. Secara umum diakui bahwa gerakan pemisahan diri cenderung terjadi di daerah-daerah pinggiran (periphery) yang jauh dari pusat pemerintahan (centre), kaya akan sumber alam, dan memiliki perasaan etnik yang kuat serta berbeda dengan elite politik yang memerintah  (http://community.gunadarma.ac.id). READMORE

Iklan
%d blogger menyukai ini: