Monthly Archives: Januari 2015

Harus Jadi Masuk Akal

Sampai kapan, hingga hidup ini bisa jadi masuk akal ? Itu pertanyaan yang harus saya lontarkan ke Tuhan.

Ya, hidup ini -hidup saya, jauh dari kata masuk akal. Sederhananya seperti ini : Bahagia ketika orang bersedih, bersedih ketika orang terluka, bekerja ketika yang lain bersantai, bersantai ketika yang lain giat bekerja, dewasa sebelum waktunya, kekanak-kanakkan ketika yang lain beranjak dewasa. Berjalan ketika yang lain berhenti, berhenti ketika yang lain mulai berjalan, khawatir disaat yang lain bersantai, bersantai disaat yang lain khawatir.

Awal 2013 saya tulis cita cita sebelum berusia 25 tahun. Tahun lalu, saya tulis resolusi untuk tahun 2014. Awal tahun 2015, tidak muluk-muluk, harus ada yang dibenahi. Apa ? Saya coba hidup lebih normal. Down to earth. Sudah lelah jadi gila dengan idealisme kosong saya sendiri. Lebih rendah hati. Akui saja bahwa terkadang ego itu ada.

Kalau diibaratkan sebuah rumah. Sudah terlalu sering untuk renovasi outlook rumah supaya sesuai ekpetasi saya dilihat orang, sudah terlalu lelah benahi interior yang damai nyaman. Walaupun rumah idaman itu sifatnya sawang-sinawang, tapi 2015 ini sudah sebaiknya saya benahi si pemilik rumah.

Teori saya segudang, tapi untuk menangkan hati adik laki-laki saya saja susah. Sudah bisa menangkan hati bapak dan ibuk 6 bulan sebelum ini. Adik jago pertama ini sarat pengalaman, pengalaman hidup bukan teori, tapi coba saya kejar.

Apa coba yang tidak saya pelajari, sombong dikit tidak masalah. Teori batin, teori hidup, teori pria, teori wanita, teori sosial, teori ilmiah, teori alam, teori cinta, teori yang belum ditemukan. Kalau saya bisa menangkan hati adik saya, saya bisa menangkan kehidupan. Bukankah kakak laki-laki harus jadi panutan adik laki-lakinya? Kalau tidak demikian, maka ada yang salah dari si jalu pertama. Harus saya benahi.

“A” type of man, dengan sedikit nuansa sentimental. Sudah lengkap.

%d blogger menyukai ini: