ANALISIS PERTANIAN BERKELANJUTAN PADA JOGLO TANI, PT KPI, DAN LEMBAH HIJAU MULTIFARM


ANALISIS KEBERLANJUTAN PADA JOGLO TANI, PT KPI, SLEMAN YOGYAKARTA

I. PENDAHULUAN

1.1 latar Belakang

Sektor pertanian merupakan bagian integral dari sistem pembangunan nasional dirasakan akan semakin penting dan strategis. Hal tersebut dikarenakan sektor pertanian tidak terlepas dan sejalan dengan arah perubahan dan dinamika lingkup nasional maupun internasional (Departemen Pertanian, 2010).

Dalam satu abad  terakhir jumlah penduduk dunia telah meningkat secara eksponensial dan diperkirakan mencapai angka 8,3 miliar menjelang tahun 2025. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan lahan untuk pemukiman dan aktifitas industri meningkat, sehingga memaksa manusia berusaha tani pada lahan yang marginal. Guna memenuhi kebutuhan pangan bagi penduduk dunia yang diproyeksikan terus meningkat ini, produksi rata-rata tanaman serealia harus meningkat setidaknya 80 persen hingga tahun 2025 (Zulkarnaen, 2009).

Di lain pihak, hampir seluruh lahan pertanian di dunia telah menurun secara drastis secara kualitas  ekosistem dikarenakan oleh sistem pertanian terdahulu yang disebut dengan sistem pertanian tradisional dan Revolusi Hijau atau sistem pertanian konvensional. Diperlukan suatu strategi pertanian khusus untuk bisa tetap bertahan agraris yakni pertanian berkelanjutan.

Definisi komprehensif bagi pertanian berkelanjutan meliputi 3 fungsi dasar pembangunan pertanian berkelanjutan. Fungsi tersebut adalah fungsi sosial, fungsi ekonomi, dan fungsi ekologi. Fungsi tersebut direpresentasikan dengan sistem pertanian yang melaksanakan pengurangan input bahan-bahan kimia dibandingkan pada sistem pertanian tradisional, erosi tanah terkendali, dan pengendalian gulma, memiliki efisiensi kegiatan pertanian (on-farm) dan bahan-bahan input maksimum, pemeliharaan kesuburan tanah dengan menambahkan nutrisi tanaman, dan penggunaan dasar-dasar biologi pada pelaksanaan pertanian.

Salah satu pendekatan pertanian berkelanjutan adalah input minimal (low input). Penggunaan input minimal dalam pendekatan berkelanjutan pada sistem pertanian digunakan dengan alasan bahwa pertanian itu sendiri memiliki kapasitas internal yang besar untuk melakukan regenerasi dengan menggunakan sumberdaya-sumberdaya internal (Departemen Pertanian, 2010).

Tujuan dari sustainable agriculture adalah peningkatan daur ulang secara alami untuk memaksimalakan input menggunakan bahan-bahan organik. Konsep pertanian berbasis ekologi telah berkembang pesat sejalan meningkatnya taraf hidup dan kesadaran lingkungan. Sistem pertanian ekologis (sustainable agriculture) yang dikembangkan antara lain LISA (low input sustainable agriculture), pertanian ekologis terpadu (integrated ecological farming system), dan pertanian organik (organic farming system) (Zulkarnaen, 2009). Untuk lebih mengetahui tentang konsep pertanian berkelanjutan, maka diadakan kunjungan lapang di Jogjakarta dan Solo. Kunjungan lapang tersebut kemudian dirangkum dalam sebuah makalah.

2.1 Tujuan

  1. Untuk mengetahui konsep sistem pertanian berkelanjutan.
  2. Untuk mengetahui indikator pertanian berkalanjutan ditinjau dari sisi ekonomi, ekologi  dan sosial
  3. Untuk mengetahui contoh penerapan sistem pertanian berkelanjutan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Sistem Pertanian Berkelanjutan

Pertanian  merupakan basis negara agraris seperti Indonesia. Pertanian merupakan sentral utama penghidupan negara Indonesia. Pertanian tradisional adalah salah satu model pertanian yang masih sangat sederhana dan merupakan perkembangan pertanian yang masih sangat sederhana dengan pola masyarakat yang serba kurang menerima teknologi.  Pertanian tradisional merupakan buntut dari pertanian zaman prasejarah yang mulai mengalami peningkatan pola fikir dari sebelumnya huma (ladang berpindah) menjadi pertanian menetap.

Sistem pertanian tradisional adalah sistem pertanian yang masih bersifat ekstensif dan tidak  memaksimalkan input yang ada. Sistem  pertanian tradisional salah satu contohnya adalah sistem  ladang berpindah. Sistem  dallang berpindah  telah tidak sejalan lagi  dengan  kebutuhan  lahan yang  semakin meningkat akibat  bertambahnya penduduk.

Sistem pertanian Revolusi Hijau juga  dikenal dengan sistem pertanian yang konvensional.  Program Revolusi hijau diusahakan melalui pemuliaan tanaman untuk mendapatkan varietas baru yang melampaui daerah adaptasi dari varietas yang ada. Varietas tanaman yang dihasilkan adalah yang responsive terhadap pengairan dan pemupukan, adaptasi geografis yang luas, dan resisten terhadap hama dan penyakit. Gerakan ini diawali oleh Ford dan Rockefeller Foundation, yang mengembangkan gandum di Meksiko (1950) dan padi diFilipina (1960). Revolusi hijau menekankan pada tanaman serelia seperti padi, jagung, gandum, dan lain-lain.

Gagasan tersebut telah merubah wajah pertanian dunia, tak terkecuali wajah pertanian Indonesia. Perubahan yang nyata adalah bergesernya praktik budidaya tanaman dari praktik budidaya secara tradisional menjadi praktik budidaya yang modern dan semi-modern yang dicirikan dengan maraknya pemakaian input dan intensifnya eksploitasi lahan. Hal tersebut merupakan konsekwensi dari penanaman varietas unggul yang responsif terhadap pemupukan dan resisten terhadap penggunaan pestisida dan herbisida. Berubahnya wajah pertanian ini ternyata diikuti oleh berubahnya wajah lahan pertanian kita yang makin hari makin menjadi kritis sebagai dampak negatif dari penggunaan pupuk anorganik, pestisida, dan herbisida serta tindakan agronomi yang intensif dalam jangka panjang (Departemen Pertanian, 2010).

Data Direktorat Bina Rehabilitasi dan Pengembangan Lahan tahun 1993 menunjukkan bahwa luas lahan bermasalah sudah mencapai sekitar 18,4 juta ha dengan rincian 7,5 juta ha potensial kritis; 6,0 juta semikritis; 4,9 juta ha kritis. Bila diasumsikan, laju penggundulan hutan sekitar 2-3 juta ha pertahun dan ditambah dengan lahan  bekas  tambang  maka  luas lahan  kritis di  Indonesia saat ini diperkirakan sekitar 30-40 juta  hektar (Zulkarnaen, 2009).

Keadaan tersebut akan semakin parah karena adanya konversi  lahan  ke nonpertanian, pengrusakan hutan yang mencapai 25  ha permenit atau 2 juta ha per tahun. Selain itu, pemakaian berbagai senyawa xenobiotika seperti  pestisida dan  fungisida berlangsung secara intensif dalam merusak lingkungan antara 300.000 – 600.000 hektar per tahun. Penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan juga menyebabkan lahan menjadi kritis. Berdasarkan hasil kajian Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, sebagian lahan pertanian di Indonesia  memiliki kandungan C-organik kurang dari 1%. Hal  tersebut mengindikasikan bahwa anorganik  dengan dosis berapa pun tidak  akan  meningkatkan  produksi (Zulkarnaen, 2009).

Adanya dinamika tersebut menyebabkan munculnya ide untuk mengembangkan suatu sistem pertanian yang dapat bertahan hingga generasi berikutnya dan tidak merusak alam. Dalam dalam dua dekade terakhir telah mulai diupayakan metode alternatif dalam melakukan praktik pertanian yang dinilai berwawasan lingkungan  dan berkelanjutan (environtmentally sound and sustainable agriculture). Salah satu caranya adalah menggunakan konsep pertanian berkelanjutan (Departemen Pertanian, 2010).

Pertanian berkelanjutan atau pembangunan pertanian berkelanjutan pertama kali menjadi pembicaraan dunia pada tahun 1987, tahun 1992 diterima sebagai agenda politik oleh semua negara di dunia sebagaimana dikemukakan dalam Agenda 21, Rio de Jeneiro. Dalam pertemuan tersebut ditegaskan bahwa pembangunan ekonomi jangka panjang dapat dilakukan bila dikaitkan dengan masalah perlindungan lingkungan. Pertemuan Johanesberg, Afrika Selatan (2-4 September 2002) yang merupakan pertemuan puncak Pembangunan Berkelanjutan (”World Summit On Sustainable Development”) menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan membutuhkan pandangan dan penanganan jangka panjang dengan partisipasi penuh semua pihak. Secara jelas dinyatakan bahwa pembangunan yang dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan generasi masa kini tanpa harus mengorbankan kebutuhan dan aspirasi generasi mendatang. Di bidang pertanian diterapkan dengan pendekatan pembangunan pertanian berkelanjutan atau berwawasan lingkungan, yang dalam pelaksanaannya sudah termasuk aspek pertanian organik.

2.2 Ciri Pertanian Berkelanjutan

A. Fungsi Ekologi

1. Pengendalian Hama Alami: Pada pertanian berkelanjutan, salah satu cara untuk mengendalikan hama adalah dengan cara metode  mengimpor musuh alami hama tertentu. Metode ini dikenal sekitar 1 abad laludi California. Di sana serangga bersisik (Icerya purchasi) dibasmi mengggunakan serangga  jenis kumbang  (Rodolia cardinalis). Kumbang Rodolia cardinalistelah berhasil memberantas hama serangga bersisik di berbagai belaahan dunia (Espig, 1988).

Selain itu, contoh pengendalian hama menggunakan pemangsa alami juga terjadi pada kumbang badak atau dikenal dengan Oryctes rhonoceros. Kumbang badak diberantas dengan virus yang bersifat patogen (Espig, 1988).

2. Pestisida Alami: Pestisida alami sangat penting bagi  pertanian berkelanjutan. Pestisida alami mengandung senyawa kimia alami yang dapat mengusir hama tanaman budidaya. Contohnya adalah: ekstrak biji daun nimba (Azadirachta indica); ekstrak biji bunga krisan (Chrysanthemum cinerariifolium) efektif mengendalikan semut, aphid, ulat, dan kutu daun;  ekstrak biji bawang putih (Allium sativum) efektif  mengendalikan serangan aphid, ekstrak daun paitan (Tithonia diversifolia) efektif mengendalikan  serangan rayap, bakteri Bacillus thuringiensis efektif  mengendalikan ulat Plutella xylostella dan Crocidolomia binotalis; cendawan Trichoderma sp. dapat menekan serangan Fusarium sp. Rhizoctonia sp., dan Phythium  sp. terhadap  tanaman  hortikultura (Zulkarnaen, 2009).

3. Agroforestri: Pada pertanian berkelanjutan, salah satu pola tanam yang digunakan adalah menggunakan pola tanam berbasis agroforestri. Pola tanam ini secara umum adalah pola tanam yang memadukan integrasi pohon hutan dengan ladang.  Fungsi ekologi pohon hutan dapat memberi manfaat berupa pengangkutan unsur hara, penambatan nitrogen, kenaikan bahan organik tanah, perbaikan strutuktur tanah, dan pengendalian erosi. Pohon dapat  mengembangkan sistem perakaran yang jauh lebih dalam dari tanaman musiman, sehingga  pohon dapat menyerap unsur hara yang tidak diserap oleh tanaman budidaya. Unsur hara  yang didapat oleh pohon hutan  dibawa kembali kedalam  daur biologi kedalam kayu pohon, daun, serta buah pohon. Salah satu pohon yang memiliki biomasa  terbesar adalah lamtoro. Penaman pohon lamtoro dalam sistem agroforestri dapat memberikan  dampak positif bagi sistem pertanian berkelanjutan (Espig, 1988).

4. Skema Suksesi: Pada pertanian berkelanjutan, salah satu pola bertanamnya adalah meniru suksesi hutan. Metode suksesi biasanya dilakukan pada lahan yang keanekaragamanhayatinya kurang. Konsepnya adalah petani menanam suatu tanaman, kemudian tanaman tersebut tidak dipanen secara total dan membiarkan tanaman budidaya di tumbuhi ilalang dan semak belukar. Dengan adanya metode suksesi, keanekaragaman hayati akan bertambah, sehingga konsep keberlanjutan akan dapat diwujudkan (Sutejo, 1987).

 5. Keanekaragaman Tanaman: Ciri umum  dari pertanian  berkelanjutan adalah keanekaragaman  tanaman. Bahkan sistem yang berorientasi pasar pun akan menghasilkan beberapa produk. Salah satu sistem pertanian berkelanjutan yang berorientasi pasar adalah sistem pertanian drip di Meksiko. Dalam banyak hal, mencampurkan tanaman akan  meningkatkan pertumbuhan, bukan  menghalanginya. Penggunaan kacang-kacangan  sebagai  tanaman sela akan  meningkatkan  kesuburan  tanah. Di  Tomo  Acu misalnya, petani  menggunakan pohon  pengikat nitrogen  sebagai  pengganti tiang untuk  tanaman  merica yang merambat.Dengan berbagai jenis tanaman yang ditanam, hal ini akan menghindari kekurangan pangan  karena beragamnya  tanaman yang akan dipanen (Sutejo, 1987).

6. Rotasi Tanaman: Salah satu metode  pertanian berkelanjutan adalah menerapkan sistem rotasi tanam. Rotasi tanam dapat meningkatkan kandungan bahan mineral tanah. Rotasi tanam yang  disarankan adalah Rhizobium, Phaseolus sp, dan lain lain. Hal tersebut karena  kedua jenis tanaman  tersebut dapat menimbun N (Sutejo, 1987).

7. Sistem Pengolahan Minimal: Pertanian berkelanjutan juga menggunakan metode sistem pengolahan minimal. Pada tanah yang memiliki  top soil tipis, atau pada tanah yang kemiringannya curam, sebisa  mungkin mengolah tanah  secara minimal untuk pengembalian atau peningkatan unsur hara (Sutejo, 1987).

 8. Daur Ulang Zat Hara: Daur ulang zat hara didaerah tropika  berlangsung cepat dan efisien. Kebanyakan hara terikat pada vegetasi hidup. Ketika vegetasi hidup itu mati, zat  hara akan di urai  oleh  mikroba dan  zathara  tersebut  dapat  digunakan  oleh  tanamanan. Pada konsep  pertanian berkelanjutan, hara di lahan pertanian lebih  banyak karena terdapat  pola  daur  ulang hara  dari  tumbuhan  yang telah  mati  lalu  dibiarkan. Dengan  hara yang lebih banyak, lahan dapat ditanami secara lebih intensif tanpa merusak kesuburan  lahan pertanian (Gradwohl dan Greenberg, 1991).

 9. Pengembalian Sisa Tanam: Salah  satu metode  pertanian berkelanjutan adalah pengembalian sisa tanaman. Pengembalian sisa-sisa tanaman dari musim panen pada tanah sedapat  mungkin harus  dilakukan. Dengan teknik pengembalian sisa tanaman pada tanah, sisa tanaman akakn cepat terombak melalui penguraianoleh jasad renik sehingga akan menjadi bahan organik tanah. Adanya bahan organik tanah akan meningkatkan kualitas tanah, sehingga tanaman budidaya akan  tumbuh lebih baik (Sutejo, 1987).           

 10. Penggunaan Pupuk Organik: Pupuk oraganik selalu digunakan pada sistem pertanian berkelanjutan. Pupuk organik  berasal dari serasah  tumbuhan atau sisa hewan yang telah  mati. Pupuk organik harus memiliki beberapa persyaratan yaitu: N harus mudah  diserap oleh tanaman dalam bentuk organik, pupuk tidak  meninggalkan asam organik  dalam  tanah, Pupuk sebaiknyamemiliki kandungan C yang tinggi seperti hidrat arang. Pupuk organik memiliki peran penting  untuk menggemburkan lapisan top soil. Pupuk organik dapat  meningkatkan pertumbuhan jasad renik yang baik untuk kesuburan tanah. Walaupun demikian, pupuk organik tidak bis diandalkan karenakandungan mineralnya sedikit (Sutejo, 1987).

11. Menggunakan Pupuk Hijau: Pupuk hijau diperlukan dalam sistem pertanian berkelanjutan. Pupuk hijau didapat dengan menggunakan famili leguminosa. Tanaman dari famili leguminosa digunakan karena banyak mengandung N. Adanya N akan  mendorong zat renik untuk menguraikannya. Dalam hidupnya, zat  renik membutuhkan N  untuk hidup. Kandungan N yang tinggi (perbandingan C/N besar) melebihi tersedianya N yang diperlukan jasad renik, kelebihannya ini dimanfaatkan tanaman bagi peningkatan pertumbuhan dan perkembangannya (Sutejo, 1987).

12. Penggunaan Bioteknologi Tanah: Pada pertanian berkelajutan, penggunaan biologi tanah cukup menjanjikan. Dengan menggunakan bioteknolgi  tanah, penggunaan pupuk buatan akan dapat dikurangi juga meningkatkan  efisiensi input (Zulkarnaen, 2009). Contoh bioteknologi  tanah adalah:

  1. Legin dan Rhizogin: Penggunaan Legin dan Rhizogin yang mampu mengurangi penggunaan pupuk Urea sebesar 50-75%
  2. Azolla: Penggunaan Azolla padapadi sawah  dapat menghemat pemakaian Urea hingga50%
  3. Azotobacter:Inokulassibakteri Azotobacter pada area pertanian biji-bijian  mampu menekan penggunaan urea  antara 60-70 kg ha-1.
  4. Azoxpirilium. Dengan inokulasi bakteri Azosprilium  pemakaian urea dapat dihemat  antara 50-100 kg ha-1.
  5. Ganggang Biru-hijau: Penggunaannya akan menghemat 100 kg ha-1 urea.
  6. Mikoriza: Mikoriza  dapat  melarutkan  fosfat, sehingga dapat menekan penggunaan pupuk TSP antara  70-90%.

13. Metode Konsevasi Tanah: Pada  pertanian berkelanjutan, fungsi ekologi sangat diperhatikan. Salah satunya dengan cara menjaga kesuburan tanah. Dalam konsep pertanian berkelanjutan dalam hal konservasi tanah, dikenal sebuah istilah  yaiutu using for immediate needs and saving for future use yang artinya adalah bahwa dalam mengelola dan pengelolaan tanah, dibutuhkan perhatian mengenai kebutuhan yang segera (sekarang) serta manfaatnya yang akan datang bagi generasi penerusnya (Kartasapoetra et. al., 1985). Cara pengkonversian tanah yang bisa dilakukan dalam sistem pertanian yang berkelanjutan adalah:

  1. Berdaya upaya agar permukaan tanah tetap tertutupi tanaman pelindung, sehingga kandungan organiknya dapat dipertahankan.
  2. Pembuatan sengkedan yang mengikuti kontur tanah agar tidak  terjadi  erosi.
  3. Segala tindakan atau perlakuan dalam melakukan pengolahan tanah seperti membajak, menggaru, menyimpan bedengan pembibitan, dan lain-lain harus sejajar dengan garis kontur tanah agar tidak terjadi erosi.

14. Metode Konservasi Air: Metode konservasi air dapat dilakukan dengan sistem pengaturan jadwal irigasi, atau dengan cara yang lebih mudah yaitu mengembangkan tanaman rerumputan yangg tidak mengganggu di sela-sela tanaman budidaya yang dapat berfungsi ganda yang dapat mencegah erosi serta menjadi  makanan ternak (Kartasapoetra et. al., 1985).

Salah satu tanaman rumput yang digunakan adalah Cynodon dactylon (bermuda grass), Pennisctum clanddestium (kikuyu grass), dan Pueraria phaseolides (Tropical kudzu). Penggunaan  tanaman rumput diatas sangat  beralasan  karena  tanaman rumput tersebut dapat tumbuh dengan  cepat sehingga dalam waktu  pendek  tanah dapat tertutup pleh rumput tersebut. Rumput tersebut  secara sistematis berfungsi  sebagai  pelindung permukaan  tanah dari tumbukan  butir-butir air  hujan dan  memperlabat  aliran  permukaan, sedangkan bagian  akar  rumput  dapat memperkuat  resistensi  tanah dan  membantu  melancarkan infiltrasi air kedalam tanah (Kartasapoetra et. al., 1985).

B. Fungsi Sosial

Pertanian berkelanjutan hadir sebagai salah satu jalan pemutus mata rantai kemiskinan utamanya yang ada di pedesaan. Stabilitas produksi yang terus meningkat dengan harga bahan hasil panen pertanian organik yang tinggi mulai menjajikan input bagi pedesaan miskin. Selain itu, pertanian berkelanjutan juga berkorelasi positif dengan peningkatan kesehatan masyarakat. Hal ini karena produk pertanian yang dihasilkan memiliki sertifikasi aman dimakan, baik dalam jangka waktu yang berkepanjangan, dan bebas pestisida, serta persenyawaan sintetis lainnya.

Pertanian berkelanjutan juga telah berisi campur tangan pemerintah dan para ahli lingkungan pertanian yang mulai tersadar untuk hidup optimal, baik optimal secara ekonomi ataupun optimal dalam menjaga lingkungan agar terus bisa hidup.  Selain itu sumber daya manusia yang digunakan sudah lebih dewasa, lebih terbuka sehingga lebih mengerti benar tentang alam dan bagaimana merawatnya tanpa harus mengabaikan aktivitas ekonomi usaha tani yang berorientasi profit. Pengetahuan didapatkan secara formal mauopun nonformal dari sharing para penuluh lapang.

C. Fungsi Ekonomi

Pendapatan aktual yang dituai memang lebih rendah ketimbang sistem pertanian yang lain hanya saja hal ini akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya laju perbaikan kualitas lahan-lahan. Sistem permodalan yang digunakan harus bersumber dari dana pribadi, ataupun pinjaman dari bank-bank negeri, koperasi pemerintahan ataupun lembaga penyedia jasa kredit resmi lainnya. Hal ini untuk menghindari terselenggaranya praktek pembungaan pinjaman yang salah. Selain itu diharapkan petani berkontribusi aktif mengikuti asuransi sehingga ketika hasil yang dituai belum maksimal masih tersedia uang untuk tetap betahan hidup. Daya saing ekonomis produk konvensional lebih tinggi. Hal ini karena orientasi pasar yang dituju pertama kali adalah konsumen tingkat atas yang mapan dalam hal membeli. Hasil panenan akan lebih terjual mahal seiring dengan laju kesadaran masyarakat akan pentingnya pangan organik sebagai salah satu produk dari pertanian berkelanjutan.

III. METODOLOGI

3.1    Waktu dan Tempat

Kunjungan lapang dilaksanakan pada hari Selasa 13 November 2012 hingga Kamis  15 November 2012. Kunjungan bertempat di Joglo Tani, Yogyakarta, PT. KPI, dan Lembah Hijau, Solo.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

1. Kamera

2. Alat tulis

3. Kuisioner

BAB 4. PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

4.1.1 Hasil Scoring Joglo Tani

Tabel 3.1. Tabel Informasi Umum Sistem AGROFORESTRY

No.

Jenis Komoditas

Produksi

1.

Padi 6,7kg/0,2 ha x (@Rp,12.000,00)x 2 musim = Rp, 160.800,00

2.

Cabai Rawit 10 pohon, 5kg/pohon(@Rp,2.000,00)= Rp 100.000

3.

Adenium 20 pohon, (@2000,00) = Rp, 40.000,00

4.

Pak Coy 18 media, 2 tanaman/media(@1000,00)x12= Rp, 432.000,00

5.

Tebu 3 rumpun, 50 batang/rumpun(@2500,00)= Rp, 375.000,00

6.

Pisang 30 pohon, x 2 tandan/rumpun (Rp 20.000,00/tandan)= Rp, 1.200.000.00

7.

Mangga 6 pohon, 3kg/pohon(@Rp,15.000)=Rp, 270.000,00

8.

Sawi 2 bedengan, 20 ikat/bedegan (@Rp,2000,00)=Rp, 20.000,00

9.

Nangka 5 pohon, (25 buah/pohon x Rp 50.000,00/buah)/tahun= Rp 6.250.000.00

10.

Ayam Broiler 50 ekor x @Rp 40.000,00= Rp 2.250.000.00

11.

Telur 50 butir, ¼ kg Rp 3800,00= 47.500×1 tahun= Rp, 17.337.500,00

12.

Sapi 4 ekor, @ Rp, 10.000.000 = Rp, 40.000.000,00

Tabel3.2.Skor Penilaian Indikator EKOLOGIS pada Sistem AGROFORESTRY

No.

Uraian

Klasifikasi Skor

Sangat Rendah

Rendah

Tinggi

Sangat Tinggi

1.

Membantu kelestarian kesuburan tanah?

1

2

3

4

2.

Melestarikan mutu dan ketersediaan air?

1

2

3

4

3.

Meningkatkan keragaman hayati?

1

2

3

4

4.

Menyebarkan zat berbahaya?

4

3

2

1

5.

Mempengaruhi Landscape?

4

3

2

1

6.

Menggunakan energi  berlebihan?

4

3

2

1

7.

Berdampak terhadap perubahan iklim?

4

3

2

1

8.

Penggunaan benih? (hibrida à lokal)

1

2

3

4

 

Tabel 3.3. Skor Penilaian Indikator EKONOMI pada Sistem AGROFORESTRY

No.

Uraian

Klasifikasi Skor

Sangat Rendah

Rendah

Tinggi

Sangat Tinggi

1.

Hasil produksinya?

1

2

3

4

2.

Harga jual produksi di pasaran? (jika dijual)

1

2

3

4

3.

Modal yang dibutuhkan?

4

3

2

1

4.

Biaya perawatannya?

4

3

2

1

5.

Keuntungan yang dihasilkan?

1

2

3

4

6.

Penghasilan petani sekitar?

1

2

3

4

7.

Biaya tenaga kerja?

4

3

2

1

8.

Pendapatan petani per musim?

1

2

3

4

9.

Sifat kepemilikan lahan? (sendiri/orang lain/sewa/buruh)

4

3

2

1

10.

Luas lahan yang dimiliki? (≤0,25; 0,26-0,50 ha; 0,51-075 ha; 0,76-1,00 ha; dan  ≥1,00 ha)

1

2

3

4

 

Tabel 3.4. Skor Penilaian Indikator SOSIAL pada Sistem AGROFORESTRY

No.

Uraian

Klasifikasi Skor

Sangat Rendah

Rendah

Tinggi

Sangat Tinggi

1.

Minat petani?

1

2

3

4

2.

Kualitas Sumberdaya? (tidak sekolah à Sarjana)

1

2

3

4

3.

Solidaritas petani?

1

2

3

4

4.

Tingkat pengetahuan petani?

1

2

3

4

5.

Persengkatan lahan?

4

3

2

1

6.

Kemungkinan pencurian?

4

3

2

1

7.

Tingkat kepuasan konsumen?

1

2

3

4

4.2 Pembahasan

4.2.1. Pembahasan Hasil Fieldtrip di Joglo Tani

Dari hasil fieltrip di tempat joglo tani dimana joglo tani menerapkan sistem pertanian berkelanjutan secara terpadu dimana dari proses produksi yang dilakukan semuanya menggunakan sistem pertanian organik. Dimana joglo tani mengembangkan beberapa  jenis komoditi dengan sistem monokultur kemudian dilakukan tumpang sari dan agropastura-fishery. Agropastura-fishery sendiri yaitu sistem yang menggabungkan antara tanaman pertanian dengan digabungkan dengan peternakan (ayam,kambing,sapi dan lain-lain) dan perikanan. Dalam hal ini joglo tani menerapkan sitem tersebut dengan didukung penggunaan input pupuk dan pestisida di dalamnya.

Dalam tabel skor scoring perhitungan yang kami lakukan dikatakan bahwa untuk tempat joglo tani menunjukan ke arah pertanian berkelanjutan yang sempurna dimana menunujukan total penilaian lebih dari 56%. Hal  ini didukung dengan adanya beberapa aspek seperti ekonomi yang menyatakan memberikan keuntungan yang lebih dalam produksi  kemudian pada aspek ekologi dimana penggunaan yang dilakukan sebagian besar menggunakan bahan organik yang bertujuan menjaga kestabilan  ekosistem dan terakhir pada aspek sosial yaitu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar contohnya adanya organisasi kambangan laras mandiri (KALAM). KALAM yaitu kelompok ibu-ibu peternak itik dimanav ibu-ibu yang bertempat tingga di sekitar diberi usaha atau pekerjaan sehingga meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan sekitar.

1. Pada Aspek Ekologi

Di dalam sistem pertanian berkelajutan di joglotani di aspek ekologi di jelaskan bahwa adanya keterkaitan antara satu dengan yang lainnya seperti contoh di joglo tani terdapat kandang ternak seperti kandang itik, ayam dan lain-lain dimana hasil dari kotoran dapat digunakan sebagai pupuk kompos. Dari pupuk tersebut digunakan untuk pemupukan pada tanaman yang ada disana seperti padi tomat cabai dan lain-lain dimana dapat mengurangi  ketergantungan terhadap pupuk anorganik dan dapat mengurangi pengeluaran dalam pembelian pupuk. Kemudian di joglo tani menggunakan sebagian besar menggunakan varietas lokal di daerah sana sehingga termasuk salah satu prinsip dari pertanian berkelanjutan. Selain itu adanya urine sapi dan kambing yang dihasilkan dimana urine tersebut digunakan dengan cara mengolah menjadi pupuk cair dan di berikan pada komoditi yang ada di joglo tani dan juga penggunaan kotoran keong yang dipergunakan sebagai ZPT alami.

Terdapat juga kolam ikan disana didukung dengan keberadaan kandang ayam yang mana hasil kotoran dari ayam tersebut di berikan langsung terhadap ikan sebagai makanan ikan dan mengurangi pengeluaran terhadap pembelian makanan ikan. Dari penjelasan tersebut dijelaskan bahwa di tempat joglo tani berperan aktif dalam pelestarian lingungan sekitar dengan adanya keterkaitan pertanian perikanan dan peternakan di dukung dengan penggunaan  bahan organik untuk menjaga kestabilan ekosistem dan sumber daya di sekitar.

2. Aspek Ekonomi

Dari segi ekomoni di joglo tani memberikan keuntungan ang lebih dimana di joglo tani menggunakan pupuk yang dibuat sendiri dari adanya kandang ternak disana,sehingga tidak memerlukan lagi pupuk buatan untuk pemupukan pada komditi disana. Kemudian tidak membeli perstisida dikarenakan di joglo tani membuat suatu formula yang mana digunakan sebagai pestisida nabati seperti penggunaan bahan urineyang diolah menjadi pestisida alami dan penggunaan bawang untuk mengusir hama pada komoditi tertentu.Di joglo tani juga menerapkan tumpang sari yang mana dpat meningkatkan pendapatan dari petani karena dapat melakukan budidaya tanaman lebih dari satu. Dan terakhir penjualan dari hasil produknya seperti beras yang dihasilkan di jual lebih mahal sebesar Rp 12.000,- yang mana harga tersebut lebih mahal dibandingkan beras dipasaran berkisar Rp 8.000,-  dengan alasan bahwa hasil beras tersebut menggunakan bahan input organik sehingga baik untuk kesehatan manusia jika mengonsumsi. Sehingga dapat memberikan keuntungan yang lebih bagi petani  yang melakukan budidaya padi di joglo tani.

3. Aspek Sosial

 Dari segi sosial sendiri di joglo tani menerapkan sistem pertanian berkelanjutan yang mana tidak meninggalkan aspek sekitar yaitu aspek sosial. Sebagai contohnya adanya organisasi yang disebut kambangan laras mandiri (KALAM) yaitu kelompok ibu-ibu di sekitar yang mengolah peternak itik dimana ibu-ibu yang bertempat tinggal di sekitar diberi usaha atau pekerjaan sehingga meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan hidupnya. Kemudian di joglo tani merupakan kelembagaan yang bersifat membantu petani untuk menuju kepada sistem pertanian berkelanjutan. Sehingga petani yang ada di sekitar di harapkan dapat mengolah budidaya menuju pertanian berkelanjutan.

Kemudian di joglo tani terdapat peternakan pertanian dan perikanan sehingga termasuk pertanian agropastura-fishery dengan konsep pertanian terpadu. Kemudian dijoglo tani dilakukan tumpang sari sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menuju pertanian berkelanjutan. Dan juga di joglo tani mengelola sumber daya yang ada seoptimal mungkin menjadi barang yang bermanfaat. Dan pengolahan limbah yang dihasilkan dimanfaatkan seoptimal mungkin menjadi barang yang bermanfaat lagi seperti kompos sehigga tidak mencemari lingkungan sekitar. Sehingga dikatakan bahwa dengan penilaian indikator yang ada maka sistem yang di kembangkan di joglo tani termasuk ke dalam pertanian berkelanjutan. Sehingga Joglo tani merupakan prinsip yang bisa di jadikan contoh bagi petani yang ada saat ini.

4.2.2 Pembahasan Hasil Fieldtrip PT. Kepurun Pawana Indonesia

Tempat kedua yang dikunjungi adalah PT. Kepurun Pawana Indonesia, atau yang disigkat PT. KPI yang berada di Klaten Jogja. PT KPI menerapkan sistem pertanian berkelanjutan dengan konsep agropastura dan agrofishery. PT. Kepurun Pawanan Indonesia atau KPI adalah badan usaha persero yang dikelola oleh swasta. PT KPI berdiri pada tanggal 28 Oktober 1997 dan nama pemiliknya adalah Ir. Djiteng Marsudi. Bapak Djiteng adalah seorang purna tugas PT. PLN. PT. Kepurun Pawana Indonesia didirikan dengan berdasarkan pemikiran tentang kenyataan potensi alam dan sumberdaya manusia yang begitu besar serta kondusif di bidang usaha pertanian, peternakan dan perikanan namun belum dikelola secara optimal. PT Kepurun Pawana Indonesia menerapkan sistem agropastura yaitu mengintegrasikan tanaman pangan dengan peternakan. Hewan ternak yang ada di PT. Kepurun ini antara lain sapi, kambing, dan juga hewan lain yang dibiakkan untuk kebutuhan rekreasi dan edukasi.

PT. Kepurun menerapkan sistem agribisnis dan agroindustri dalam usahanya. Peternakan pada PT. KPI dikelola dengan baik sehingga semua hasil peternakan bahkan limbah yang dihasilkan juga dimanfaatkan. Limbah kotoran ternak biasanya disebut dengan emas hitam. Dinamakan demikian karena limbah kotoran ternak tersebut jika diolah dengan benar dapat dijadikan pupuk, sedangkan limbah cairnya yaitu urine ternak dapat diolah menjadi biogas yang dimanfaatkan oleh PT. Kepurun Indonesia sebagai bahan bakar dalam proses pengolahan produk turunan yang dihasilkan dari usaha peternakannya berupa makanan seperti bakso, sosis, dendeng, dan lain sebagainya.

PT. Kepurun Pawana Indonesia memiliki usaha – usaha yang dikembangkan antara lain dibidang Farm, Processing, Retail, Training Centre dan Konsultan. Pada tahun 1997 bekerjasama dengan PT. Lembu Jantan Perkasa dalam Pengadaan Sapi Perah dari Australia bagi Peternak Sapi Perah Binaan PUKK PT. PLN (PERSERO) Tahap I, sejumlah 100 ekor dan Tahap II, sejumlah 100 ekor. Pada tahun 1998 bekerjasama dengan PT. Lembu Jantan Perkasa dalam Pengadaan Sapi Perah dari Australia bagi Peternak Sapi Perah Binaan PUKK PT. PLN (PERSERO) Tahap I, sejumlah 156 ekor. Dari budidaya sapi perah hasil Susu disetorkan ke KUD dan sebagian lainnya diolah menjadi susu kemasan. Serta diupayakan untuk menambah populasi, menerapkan teknologi pemerahan dengan mesin perah, guna mendukung produksi susu kemasan yang kian meningkat pemasarannya.

Pada tahun1999 memulai usaha budidaya sapi potong, sejumlah 25 ekor. Tahun 2000 mengelola usaha penggemukkan sapi potong, disamping dikandang PT. KPI Kepurun, juga bekerjasama dengan PLTA Garung Banjarnegara membuka kandang dan menggemukkan sapi potong sejumlah 50 ekor di lokasi PLTA Garung Banjarnegara. Pada tahun 2002 mengelola usaha penggemukkan sapi potong, menambah populasi sapi potong di kandang PT. KPI Kepurun dengan sapi ex Brahman dari Australia, sehingga jumlah sapi potong di Kepurun mencapai 100 ekor. Tahun 2003 jumlah populasi sapi potong untuk penggemukkan dikurangi, karena usaha sapi potong di tahun ini relative lesu, harga jual sapi jauh menurun karena banyaknya suplai sapi dan daging dari Australia yang membuat banyak petenak sapi potong lokal gulung tikar. PT. KPI menyisakan sapi 30 ekor, namun bukan untuk penggemukkan, melainkan lebih diarahkan kepada trading dengan perputaran uang lebih cepat.

Tahun 2004 usaha sapi potong tetap lebih dikonsentrasikan pada Trading dan diarahkan untuk mendukung unit usaha KPI-FOOD, yakni sebagai penyedia bahan baku untuk produk olahan daging (bakso, sosis, beef berger, dendeng, keripik paru,dan lain-lain), yang permintaan pasarnya kian meningkat dari hari ke hari cukup signifikan. Pengolahan susu dilakukan dalam rangka meningkatkan nilai ekonomis dan nilai jual produksi susu. Pengolahan bakso dimulai awal tahun 2004, yang selanjutnya akan disusul dengan pengolahan daging lainnya. Produk bakso yang dihasilkan PT. KPI terus meningkat dari waktu ke waktu karena mendapat respon pasar yang baik. Upaya untuk melengkapi sarana produksi serta ijin produksi juga telah dilakukan dan hingga saat ini sedang dalam tahap penyelesaian.

Penjualan bakso merupakan salah satu usaha yang dilakukan oleh KPI RETAIL, yang selanjutnya akan terus dikembangkan untuk memasarkan produk-produk olahan daging lainnya, yakni : Sosis, dendeng, beef berger, keripik paru dan berbagai produk olahan hasil ternak lainnya. Untuk tahun-tahun selanjutnya akan diupayakan untuk membuka outlet atau meatshop sebagai sarana/ tepat penjualan produk-produk agro yang dihasilkan oleh PT. KPI.

Selain dimanfaatkan dagingnya, ternak sapi yang ada di PT KPI juga dimanfaatkan susunya. Pengolahan susu kemasan lebih diintensifkan dan mulai dipasarkan dan secara bertahap permintaan susu kemasan dengan berbagai rasa ini meningkat dari waktu ke waktu. Upaya untuk meningkatkan kualitas kemasan susu dan mengurus ijin produksi telah dilakukan. Pada tahun 2003 ini telah dilakukan upaya memproduksi susu olahan (susu kemasan berbagai rasa dan yogurt), namun langkah ini lebih diorientasikan sebagai uji coba dan materi pelajaran dalam program pelatihan.

Selain mengolah daging ternak yang dihasilkan dari peternakan milik sendiri, PT Kepurun Pawana Indonesia juga melakukan pengolahan pada limbah peternakannya. PT. KPI  memanfaatkan limbah hasil peternakannya untuk memproduksi pupuk kompos dengan membangun instalsi pengolahan pupuk kandang. Produksi pupuk kompos mulai dipasarkan dilingkungan sekitar desa Kepurun serta produksi pupuk kompos dipasarkan lebih luas, bekerjasama dengan PT. Dua Alam Rahayu (PT. DAR). Selain produksi pupuk kompos PT KPI juga melakukan inovasi yang lebih diintensifkan. Upaya untuk memanfaatkan limbah air seni sapi untuk pupuk cair juga dilakukan. Penjualan pupuk kompos telah dimulai sejak tahun 2003, namun masih belum ditangani secara baik dan professional. Ditahun 2004 upaya untuk meningkatkan penjualan pupuk dipersiapkan dengan memperbaiki instalasi pengolahan kompos dan dikembangkan sebagai pupuk kandang dan kemasan serta tempat untuk memajang produk pupuk. Pemanfaatan lainnya yaitu produksi biogas yang dihasilkan dari pengolahan limbah cair urin ternak, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar produksi pembuatan bakso dan lain sebagainya.

Selain pengolahan limbah ternak juga terdapat unit pengolahan pakan ternak, pada awalnya didirikan guna mendukung usaha sapi perah dan sapi potong. Jadi pakan ternak yang dihasilkan lebih diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan sendiri (intern).Tahun 2002 produk pakan ternak PT. KPI mulai diketahui/ dikenal masyarakat, sehingga secara perlahan permintaan masyarakat mulai mengalir, dan PT. KPI mulai meningkatkan produksi.

 Produksi pakan ternak (konsentrat) sapi disamping untuk kebutuhan internal juga mulai  dipasarkan keluar/ memenuhi permintaan masyarakat peternak, terutama disekitar desa Kepurun. Produksi pakan ternak mulai diarahkan untuk melayani kebutuhan masyarakat peternak. Karung kemasan juga telah dicetak dan produk pakan ternak sapi dipasarkan dengan merk “KPI FEED”.

PT. Kepurun Pawana Indonesia juga mengembangkan usaha itik petelur yang didirikan dalam rangka memanfaatkan potensi alam di sekitar, yaitu sawah yang terdapat di sekitar lokasi usaha PT. KPI dan air yang selalu tersedia sepanjang tahun. PT KPI pada awal pendirian memiliki jumlah itik petelur sejumlah 300 ekor yang dijual pada pengepul atau bakul. Pada tahun 2002 dengan adanya perluasan jumlah itik ditambah hingga menjadi 600 ekor. Produksi telur itik masih dijual kepada bakul. Penjualan telur itik telah dilakukan sejak tahun 2001, namun masih sebatas penjualan telur segar. Penjualan telur olahan (telur asin) telah diupayakan, namun masih belum optimal.

Disamping itu penjualan telur segar masih terus dilakukan. Upaya optimalisasi penjualan telur itik telah dimulai pada pertengahan tahun 2004, yakni dengan mengolah dan mengemas produk telur itik kemudian memasarkannya secara lebih gencar. Disamping menjual telur, di tahun 2003 ini mulai dirintis pembibitan itik dengan jalan menetaskan telur itik dengan mesin tetas listrik. Bibit itik (meri) lebih diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan internal. Berlandaskan pengalaman budidaya itik sebagaimana tersebut di atas, maka untuk tahun-tahun selanjutnya telah dipersiapkan untuk mengem-bangkan usaha itik secara komprehensif, yang terdiri dari produksi dan penjualan pakan, bibit, telur. Juga dalam rangka mendukung unit usaha KPI-FOOD.

PT KPI juga  memeliharaan kambing perah peranakan Ettawa (PE) dan domba yang dilakukan sebagai sarana program pelatihan usaha kambing. Jadi belum diarahkan kearah usaha yang bersifat komersial. Berdasarkan pengalaman memelihara kambing PE dan domba, pada tahun 2004 telah dipersiapkan untuk mengembangkan usaha kambing PE dengan bekerjasama dengan kelompok peternak kambing PE “Sidomaju” di kecamatan Kaligesing Purworejo. Usaha meliputi pembibitan, pembesaran, pengolahan susu dan limbah. Disamping usaha kambing PE, juga akan dikembangkan usaha tanaman obat, dalam rangka menambah pendapatan yang diperoleh dari usaha peternakan kambing PE.

 PT Kepurun Pawana Indonesia menerapkan sistem agropastura yaitu integrasi tanaman pangan hortikultura dengan peternakan. Pada mulanya penanaman produk hortikultura dimaksud dalam rangka optimalisasi pemanfaatan lahan-lahan kosong di lokasi usaha PT. KPI. Hasil panen hortikultura atau sayuran dijual kepada pedagang sayuran di sekitar desa Kepurun. Hasil panen sayuran mulai diminati oleh beberapa restoran. Upaya untuk mengembangkan usaha tanaman sayuran untuk tahun-tahun selanjutnya telah dipersiapkan dengan mulai menjalankan usaha trading sayuran dengan mengambil/ membeli dari daerah penghasil sayur dan dijual ke daerah yang membutuhkan.

Dalam budidaya tanaman hirtikultura mereka menerapkan sistem pertanaman secara vertikultur. Sistem pertanaman vertikultur adalah sistem pertanaman dengan menanam tanaman secara vertikal atau bertingkat – tingkat. Tanaman yang ditanam dalam sistem pertanaman vertikultur di PT Kepurun Pawana Indonesia adalah tanaman selada, bwang prei serta tanaman lain yang memanfaatkan pipa paralon serta dari gerabah.

Pemasaran sayuran dilanjutkan dengan mengajukan penawaran ke hotel, rumah makan, super market, warung-warung makan yang melayani mahasiswa. Untuk mengatasi kemungkinan tidak terjualnya sayuran, segera dibangun ruang pendingin penampung sayur, dapur untuk mengolah masakan berbasis sayuran berikut kantin-kantin untuk menjual sayuran masak. Upaya untuk memproduksi sayuran organik juga mulai dipersiapkan mengingat mulai ada permintaan. Kerjasama dengan petani disekitar desa Kepurun untuk memproduksi sayuran juga mulai dirintis/ dilakukan. Selain tanaman hortikultura PT KPI juga menanam tanaman buah. Mengingat peluang usaha buah-buahan dan tanaman industri prospektif untuk dikelola dan dikembangkan, selanjutnya PT. KPI mulai merintis dan mengembangkan usaha tanaman buah-buahan. Usaha tersebut antara lain yaitu penjualan buah. Penjualan tanaman buah yang dimaksud terdiri dari : bibit tanaman buah-buahan yang sudah mulai dilakukan, selanjutnya akan disusul dengan penjualan buah segar dan buah olahan dalam kemasan. Persiapan pendirian outlet jus buah komprehensif juga telah dilakukan. Selain itu PT KPI juga memproduksi produk turuna dari tanaman buah – buahan yaitu pembuatan kripik buah. Pada mulanya unit pengolahan kripik buah didirikan dan dikelola guna memenuhi permintaan peserta palatihan, yakni agar dalam program pelatihan agribisnis terdapat materi pelatihan pengolahan keripik buah. Mengingat pengolahan keripik buah ini merupakan salah satu alternative untuk meningkatkan nilai ekonomis buah-buahan terutama saat terjadi over supply pada saat panen raya, disamping itu PT. KPI telah memiliki mesin instalasi pengolah keripik buah; selanjutnya unit pengolahan keripik buah ini akan dikelolasalah satu unit usaha PT. KPI, yang dalam beberapa hal juga untuk mendukung unit usaha farm buah-buahan.

 1.    PT Kepurun Pawana Indonesia ditinjau dari aspek Ekologi

Dari segi ekologi, PT Kepurun Pawana Indonesia sudah termasuk dalam sistem pertanian berkelanjutan. Hal tersebut didasarkan pada kegiatan pertanian maupu industri yang dijalankan oleh PT. KPI tidak merusak lingkungan bahkan ikut melestarikan dan menjaga lingkungan. PT KPI dalam kegiatan produksi hanya menghasilkan sedikit sekali limbah. Limbah hasil produksi dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk menunjang kegiatan produksi sehingga selain dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk kegiatan produksi juga dijual sebagai pupuk.

PT Kepurun PI juga membudidayakan tanaman buah yang sebagai contoh mangga apel yang keberadaannya belum banyak diketahui. Berdasarkan hal tersebut PT KPI juga ikut melestarikan plasma nutfah. Selain itu PT KPI juga menerapkan pertanian organik yang tidak menggunakan bahan kimia dalam kegiatann budidayanya. Penggunaan bahan kimia sangat diminimalisir, mereka memanfatkann bahan alami seperti pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk. Sistem pertanaman sayuran dengan vertikultur juga memiliki banyak manfaat selain mengatasi permasalahan lahan sempit yaitu produk yang dihasilkan lebih segar, dan dapat mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida sehingga ramah lingkungan.  Penerapan sistem agrofishery yang dilakukan juga menguntungkan dari segi ekologi, karena limbah hasil budidaya hortikultura sayuran dan buah – buahan dimanfaatkan dalam budidaya perikanan sehingga tidak mencemari lingkungan.

 2.    PT Kepurun Pawana Indonesia ditinjau dari aspek Ekonomi

Ditinjau dari segi ekonomi, PT Kepurun Pawana Indonesia sudah termasuk berkelanjutan. Hasil kegiatan agrobisnis dan agroindustri yang dilakukan dapat menghasilkan produksi yang tinggi dari usaha budidaya sayuran dan tanaman buah, peternakan sapi, kambig serta itik, dan pengembangan produk turunan dari pertanian dan peternakan.

Pemanfaatan limbah yang dilakukan PT KPI juga sagat menguntungkan. PT KPI mampu mengolah limbah padat kotoran ternak menjadi emas hitam yaitu pupuk kompos yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Pemanfaatan limbah cair ternak menjadi biogas dapat mengurangi biaya produksi untuk pembelian bahan bakar. Bahan bakar dari biogas juga ramah lingkungan selain itu dalam pembuatannya juga tidak membutuhkan biaya yang mahal.

 3.    PT Kepurun Pawana Indonesia ditinjau dari aspek Sosial

Ditinjau dari aspek sosial, PT KPI juga termasuk dalam sistem pertanian berkelanjutan karena mampu mengurangi angka pengangguran. PT Kepurun Pawana Indonesia memanfaatkan sumber daya manusia sekitar lokasi usaha sebagai tenaga kerja. Selain itu PT KPI juga sebagai tempat konsultasi bagi masyarakat untuk menjalankan usaha pertanian maupun peternakan berbasis agribisnis dan agroindustri. Penjualan hasil produksi sayuran kepda masyarakat sekitar juga membuktikan bahwa hubungan antara PT KPI dengan masyarakat sekitar berlangsung baik sehingga jika dilihat dari segi sosial termasuk berkelanjutan.

4.2.3 Pembahasan Hasil Fieldtrip di PT. Lembah Hijau Multifarm

Dari hasil fieltrip di PT. Lembah Hijau Multifarm di katakan bahwa  PT Lembah Hijau dapat dikatakan nererapkan  sistemIntegrating Farming System (sistem peternakan terpadu) yang mana mengacu pada pertanian organik. Di dalam sistem pertanian di PT. Lembah Hijau terdapat pola penanaman pertanian yaitu tumpang sari dari keseluruhan termasuk agropastura-fishery karena terdapat tanaman pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan.

Di PT. Lembah hijau dari pertaniannya terdapat kebun-kebun tanaman buah dalam pot (tabulapot) dan juga tanaman buah di pekarangan seperti mangga dan  jambu biji merah dan juga terdapat taman bunga di sana dengan nilai ekonomi yang tinggi. Kemudian terdapat peternakan sapi yang berskala besar dimana digunakan untuk diperah susunya kemudian diambil dagingnya dan juga terdpat kotorannya digunakan  sebagai pupuk organik yang mana  di berikan pada pertanian yang ada disana. Kemudian di PT Lembah hijau juga terdapat budidaya ikan patin. Dimana ikan patin yang ada di PT lembah hijau memiliki nilai kolesterol rendah dan protein yang tinggi sehingga nilai jual ikan patin di sana relatif mahal. Dan yang terpenting di PT lembah hijau mengembangkan bioteknologi dimana menggunakan bahan-bahan dari kotoran ternak yang ada yatu kotoran sapi yang jumlahnya relatif banyak.

Pada tabel scoring yang ada PT lembah hijau termasuk sistem pertanian berkelanjutan karena terdapat pertenakan pertanian dan perikanan di dalamnya dengan didukung oelh pengolahan  yang ada seperti sisa-sisa/lkotoran hewan di olah menjadi  pupuk  dan lain-lain.Sehingga di PT lembah hijau menerapkan sistem pertanian berkelanjutan dengan memperhatikan ekosistem sekitar dan penggunaan sumber daya yang ada untuk dugunakan  kembali.

1. Aspek Ekologi

            Dari segi ekologi yang ada di PT lembah hijau yang ada menggunakan sistem pertanian yang memperhatikan ekosistem sekitar  dengan menjaga sumber daya alam dan juga penggunaan bahan organik dalam pemberian inputnya seperti kompos bagi tanaman yang ada di sana. Sehingga kestabilan ekosstem yang ada disana terjaga dan tidak mengurangi keanekaragamaan hayati yang ada.

2  Aspeki ekonomi

Dari segi ekonomi dikatakan bahwa di PT lembah hijau dalam bahan input yang di berikan seperti pupuk dan pestisida  pada tanaman di buat seniri sehingga dapat mengurangi pengeluaran dalam pembelian bahan input. Kemudian adanya penjualan dari budidaya ikan patin sehingga meningkatkan ekonomi di PT lembah hijau. Dari hasil penjualan buah-buaha n yang ada juga dapat meningkatkan pendapatan dari PT lembah hijau. Dan terakhir adanya produk hasil dari PT lembah hijau seperti starbio yaitu bakteri yang digunakan untuk fermentasi jerami sebagai makanan ternak dan produk-produk yang lain dari hasil PT lembah hijau  dapat di jual sehingga  juga dpat eningkatkan nilai ekonomi dapri PT lembah hijau .

3. Aspek Sosial

Pada aspek sosial di PT lembah hijau dikatakan bahwa penggunaan jasa tenaga kerja di PT Lembah hijau menggunakan orang di sekitar. Sehingga memberikan ksejahteraan bagi  masyarakat sekitar. Dan juga adanya keuntungan di PT lembah hijau dai hasil penjualan produk seperti kompos, hasil buah-buahan ,starbio dan produk yang lain sehingga meningkatkan kesejahteraan bagi pekerja yang ada di PT lembah hijau.

 Sehingga PT.Lembah Hijau termasuk kearah sempurna pertanian berkelanjutan, karena dari aspek ekonomi yang memberikan keuntungan, ekologi  yaitu terjaganya ekosistem sekitar dan sosial yaitu pemberian  keuntungan tenaga kerja yang ada di PT lembah hjau  totalnya adalah lebih dari 56%. Berdasarkan teori, jika melebihi dari kisaran nilai tersebut, maka termasuk pertanian berkelanjutan .

DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. 1989. Peralatan Produksi Tradisional dan Perkembangannya di Daerah Isitimewa Yogyakarta.  Jakarta: Depdikbud Press.

Djojosumarto P. 2000. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Yogyakarta: Kanisius.

Elpig Gustaf. 1988. Ekologi. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Grandwohl Judith dan Greenberg  Russel. 1991. Menyelamatkan Hutan Tropika. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

IPB. 2002. Tahun 1963 Perguruan Tinggi  Menjawab Tantangan Masalah Pangan. Bogor : IPB Press.

Kartasapoetra A.G dkk.. 1985. Teknologi  Konesrvasi  Tanah  dan  Air. Jakarta: Rineka Cipta.

Soetriono dkk. 2006. Pengantar Ilmu Pertanian. Jakarta : Bayumedia.

Sutejo Mul Mulyani. 1987. Pupuk dan Cara Pemupukan. Jakarta : Rineka Cipta.

Tim Direktorat Jenderal Produksi Hortikultura dan Aneka Tanaman. 2000. Kebijakan Perlindungan Tanaman Hortikultura Dengan Orientasi Pasar Global. Jakarta : Departemen Pertanian

Zulkarnaen. 2009. Dasar-Dasar Hortikultura. Jakarta : Bumi aksara.

Iklan

Posted on April 26, 2014, in Social. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: