PENYAKIT TANAMAN AKIBAT JAMUR PATOGEN


TUGAS LAYANAN KLINIK TANAMAN

MACAM-MACAM GEJALA PENYAKIT PADA TANAMAN

AKIBAT JAMUR PATOGEN

 

 

 

OLEH

ARGHYA NARENDRA

NIM : 111510501105

 

PROGRAM S-1 BEASISWA UNGGULAN AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JEMBER

2013

 

 I.     PENDAHULUAN

Kegiatan budidaya tanaman dalam prakteknya selalu terkait dengan keberadaan OPT karena tanaman tidak selamanya bisa hidup tanpa gangguan. Keberadaan OPT yang berada pada lahan pertanian bisa disebabkan oleh adanya hama, penyakit, maupun gulma. Penyakit yang terjadi pada tumbuhan dapat disebabkan oleh mikroorganime dari berbagai jenis yang tidak bisa kita lihat dengan menggunakan mata telanjang. Dampak dari serangan penyakit berbeda-beda setiap jenis tumbuhan yang diseranggnya. Mikroorganisme yang menyebabkan terjadinya penyakit pada tumbuhan seperti Jamur, Bakteri, Virus dan Nematoda.

Tumbuhan menjadi sakit apabila tumbuhan tersebut diserang oleh patogen (parasit) atau dipengaruhi oleh agensia abiotik (fisiopath). Oleh karena itu, untuk terjadinya penyakit tumbuhan, sedikitnya harus terjadi kontak dan terjadi interaksi
antara dua komponen (tumbuhan dan patogen). Jika pada saat terjadinya kontak dan untuk beberapa saat kemudian terjadi keadaan yang sangat dingin, sangat panas, sangat kering, atau beberapa keadaan ekstrim lainnya, maka patogen
mungkin tidak mampu menyerang atau tumbuhan mungkin mampu menahan serangan, meskipun telah terjadi kontak antara keduanya, penyakit tidak berkembang. Nampaknya komponen ketiga juga harus terdapat untuk dapat berkembangnya penyakit. Akan tetapi, masing-masing dari ketiga komponen tersebut dapat memperlihatkan keragaman yang luar biasa, dan apabila salah satu komponen tersebut berubah, maka akan mempengaruhi tingkat serangan penyakit dalam individu tumbuhan atau dalam populasi tumbuhan.

Interaksi ketiga komponen tersebut telah umum digambarkan sebagai suatu segitiga, umumnya disebut segitiga penyakit (disease triangle). Setiap sisi sebanding dengan total jumlah sifat-sifat tiap komponen yang memungkinkan terjadinya penyakit. Sebagai contoh, jika tumbuhan bersifat tahan, umumnya pada tingkat yang tidak menguntungkan atau dengan jarak tanam yang lebar maka segitiga penyakit dan jumlah penyakit akan kecil atau tidak ada, sedangkan jika tuimbuhan rentan, pada tingkat pertumbuhan yang rentan atau dengan jarak tanam rapat, maka sisi inangnya akan panjang dan jumlah potensial penyakit akan bertambah besar. Dengan cara yang sama, patogen lebih virulen, dalam jumlah berlimpah dan dalam keadaan aktif, maka sisi patogen akan bertambah panjang dan jumlah potensial penyakitnya lebih besar. Juga keadaan lebih menguntungkan yang membantu patogen, sebagai contoh suhu, kelembaban dan angin yang dapat menurunkan tingkat ketahanan inang, maka sisi lingkungan akan menjadi lebih panjang dan jumlah potensial penyakit lebih besar.

 Jenis patogen yang menyerang diantaranya adalah dari golongan jamur. Jamur adalah salah satu organisme penyebab penyakit yang menyerang hampir semua bagian tumbuhan, mulai dari akar, batang, ranting, daun, bunga, hingga buahnya. Penyakit ini menyebabkan bagian tumbuhan yang terserang, misalnya buah, akan menjadi busuk. Jika menyerang bagian ranting dan permukaan daun, akan menyebabkan bercak–bercak kecokelatan. Dari bercak – bercak tersebut akan keluar jamur berwarna putih atau oranye yang dapat meluas ke seluruh permukaan ranting atau daun sehingga pada akhirnya kering dan rontok.

Melihat fenomena bahwa banyaknya tanaman budidaya yang terserang Jamur, untuk itu sangat pentingnya dalam matakuliah Layanan Klinik Tanaman khususnya tentang Pengenalan Jamur dan Serangannya. Dengan tugas ini kita dapat mengetahui morfologi jamur, gejala serangan dan juga pangendalian serangan jamur sehingga dalam pengaplikasian dilapangan kita sudah mengetahui semua tentang jamur.

II.  PEMBAHASAN

Jamur merupakan mikrorganisme yang mempunyai dinding sel, umumnya tidak bergerak, tidak mempunyai klorofil serta tidak mampu melakukan proses fotosintesis atau menhasilkan bahan organik dari karbondioksida dan air (organisme heterotrof). Klasifikasi jamur terbagi atas Divisio Oomycotina, Divisio Zygomycotina, Divisio Ascomycotina, Divisio Basidiomycotina, dan Divisio Deuteromycotina (Robinson, 2001).

Sifat hidup jamur terbagi atas :

  1. Saprofit yakni sebagai organisme saprofit fungi hidup dari benda-benda atau bahan-bahan organik mati. Saprofit menghancurkan sisa-sisa  bahan tumbuhan dan hewan yang kompleks menjadi bahan yang lebih sederhana. Hasil penguraian ini kemudian dikembalikan ke tanah sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah.
  2. Parasit yakni fungi parasit menyerap bahan organik dari organisme yang masih hidup yang disebut inang. Fungi semacam itu dapat bersifat parasit obligat yaitu parasit sebenarnya dan parasit fakultatif yaitu organisme yang mula-mula bersifat parasit , kemudian membunuh inangnya, selanjutnya hidup pada inang yang mati tersebut sebagai saprofit.
  3. Simbion yakni jamur dapat bersimbiosis dengan organisme lain. Simbiosis dengan laga menghasilkan liken atau lumut kerak, sedangkan simbiosis dengan akar tumbuhan konifer menghasilkan mikoriza.

Jamur (fungi) memilki peran yang menguntungkan & merugikan. Peran menguntungkannya adalah sebagi berikut :

  1. Berperan sangat penting dalam siklus materi terutama siklus karbon, yang berperan bagi kelangsungan hidup seluruh organisme.
  2. Sebagai dekomposer kedua kelompok tersebut dapat menguraikan sisa-sisa tumbuhan, bangkai hewan dan bahan-bahan organic lainnya dan hasil penguraianya dikembalikan ke tanah sehingga dapat menyuburkan tanah.
  3. Selain itu, fungi saprofit bersama dengan protozoa dan bakteri saprofit merupakan organisme yang dapat menguraikan sampah.
  4. Berperan dalam industri fermentasi tersebut adalah fungi, terutama dari kelompok ragi. Contoh hasil fermentasi adalah: bir,roti,asam sitrat atau 2-hidroksipropan serta asam trikasboksilat.
  5. Berperan dalam industri antibiotik, antibiotik ini dihasilkan oleh fungi Penicllium notatum.
  6. Dapat sebagai bahan baku  sumber makanan baru yaitu protein sel tunggal (PST).
  7. Sumber makanan bagi manusia, contoh: Agaricus campestris, Volvariella volvaceae, Lentinus edodes, Pleurotes, Tuber melanosporum, Boletus spp, Cantharellus cibaricus dan lain-lain.

Selain memiliki peran yang menguntungkan, jamur (fungi) juga memiliki peran yang merugikan, berikut diantaranya :

  1. Dapat menurunkan kualitas maupun kuantitas makanan maupun bahan-bahan lain yang penting bagi manusia.
  2. Fungi dapat juga menyerang bahan-bahan lain yang bernilai ekonomi seperti kulit, kayu,  tekstil dan bahan-bahan baku pabrik lainnya.
  3. Fungi juga dapat berperan sebagai agen penyebab penyakit. Fungi pada umumnya lebih sering menyebabkan penyakit pada tumbuhan dibanding pada hewan atau  manusia.
  4. Fungi dapat menghasilkan racun,  racun yang dihasilkan beberapa fungi seperti seperti Amanita phalloides, A.muscaria maupun Aspergillus flavus (menghasilkan aflatoksin) yang sangat berbahaya bagi manusia karena dapat menyebabkan penyakit kronis seperti kanker dan bahkan kematian.

Berdasarkan hal diatas, berikut contoh jamur patogen yang dapat menyebabkan penyakit, diantaranya :

1.    Jamur Plasmodiophora brassicae

Plasmodiophora brassicae adalah patogen yang berasal dari kingdom fungi yang biasanya menyerang tanamn kubis-kubisan. Nama lapang dari penyakit yang ditimbulkan patogen ini adalah penyakit akar gada, atau akar bengkak, atau disebut pula dengan akar  pekuk. Serangan patogen jenis ini bisa dapat mengakibatkan kerugian usaha tani kubis berkisar dari 50-100% (gagal total).  Namun di Indonesia rata-rata patogen ini dapat menyebabkan kerusakan pada kubis-kubisan sekitar 88,60 %.

Disebut penyakit akar gada, karena akar tanamn yang terserang membengkak seperti gada. Pembengkakan pada jaringan akar dapat mengganggu fungsi akar seperti translokasi zat hara dan air dari dalam tanah ke daun. Akibatnya, tanaman  menjadi layu, kerdil, kering dan akhirnya mati. Jika suatu tanah telah terinfestasi oleh Plasmodiophora brassicae maka patogen tersebut akan selalu menjadi faktor pembatas dalam budi daya tanaman kubis (atau sefamili dengannya) didaerah tersebut. Hal ini karena patogen ini mempunyai daya tahan yang tinggi terhadap perubahan lingkungan dalam tanah dan tergolong patogen tular tanah yang unggul.

 2.    Jamur Aspergillus spp

A.      Morfologi Jamur Aspergilus spp

Aspergillus spp adalah jenis jamur udara yang berserabut. Spesies  Aspergillus sangat aerobik dan ditemukan pada hampir semua lingkungan yang kaya oksigen, dimana mereka umumnya tumbuh sebagai jamur pada  permukaan substrat, sebagai akibat dari ketegangan oksigen tinggi. Aspergillus spp ini hidup sebagai saproba pada bermacam-macam bahan organik, seperti pada roti, daging yang sudah diolah, butiran padi, kacang-kacangan dan lain-lain.

Aspergillus spp. membentuk badan spora yang disebut konidium dengan tangkainya konidiofor. Koloninya berwarna abu – abu, hitam, kuning atau cokelat. Aspergillus spp. memiliki ciri khas yaitu memiliki sterigma primer dan sterigma sekunder karena phialidesnya bercabang 2 kali (Robinson, 2001).

 B.       Taksonomi Jamur Aspergillus spp

Taksonomi dari jamur Aspergillus spp ialah sebagai berikut :

Kingdom         : Fungi

Filum               : Ascomycota

Subfilum         : Pezizomycotina

Kelas               : Eurotiomycetes

Ordo               : Eurotiales

Family            : Trichocomaceae

Genus             : Aspergillus

Spesies           : Aspergillus spp.

(Anonymous, 2010)

 C.      Jenis-Jenis Jamur Aspergilus spp

Spesies Aspergillus merupakan jamur yang umum ditemukan di materi organik. Meskipun terdapat lebih dari 100 spesies, jenis yang dapat menimbulkan penyakit pada manusia ialah Aspergillus fumigatus dan Aspergillus niger, kadang-kadang bisa juga akibat Aspergillus flavus dan Aspergillus clavatus yang semuanya menular dengan transmisi inhalasi.

Berikut jenis-jenis dari Aspergillus antara lain :

  1. Aspergillus fumigates, bersifat parasit yang menyebabkan penyakit pada saluran pernapasan unggas.
  2. Aspergillus flavus, penghasil flatoksin yang diduga sebagai penyebab penyakit kanker hati. Kapang ini benyak terdapat pada kacang tanah dan makanan yang terbuat darinya.
  3. Aspergillus niger, menghasilkan asam sitrat.
  4. Aspergillus oryzae, untuk merombak zat pati dalam pembuatan minuman berakohol.
  5. Aspergillus nidulan, parasit pada telinga menyebabkan outomikosis.
  6. Aspergillus soyae, untuk pembuatan kecap.

 D.      Siklus Hidup Aspergilus spp

Spesies Aspergillus secara alamiah ada dimana-mana, terutama pada makanan, sayuran basi, pada sampah daun atau tumpukan kompos. Konidia biasanya terdapat di udara baik di dalam maupun di luar ruangan dan sepanjang tahun. Aspergillus juga bisa tumbuh di daun-daun yang telah mati, gandum yang disimpan, kotoran burung, tumpukan pupuk dan tumbuhan yang membusuk lainnya.

 E.       Penyakit oleh Jamur Aspergilus spp pada Manusia

Beberapa spesies Aspergillus menyebabkan penyakit serius pada manusia. Yang paling umum adalah spesies patogenik yang disebabkan oleh Aspergillus fumigatus dan Aspergillus flavus. Aspergillus flavus menghasilkan aflatoxin yang bersifat racun dan karsinogen, dan yang dapat berpotensi mengkontaminasi makanan. Yang paling sering menyebabkan alergi penyakit ialah Aspergillus fumigatus dan Aspergillus clavatus.

Aspergillus dapat menyebabkan spektrum penyakit pada manusia, bisa jadi akibat reaksi hipersensitivitas hingga bisa karena angioinvasi langsung.  Umumnya Aspergillus akan menginfeksi paru – paru, yang menyebabkan empat sindrom penyakit, yakni Allergic Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA), Chronic Necrotizing Pneumonia Aspergillosis (CNPA), Aspergiloma, dan Aspergilosis invasif. Pada pasien yang Imunokompromais Aspergilosis juga dapat menyebar ke berbagai organ menyebabkan endoftalmitis, endokarditis, dan abses miokardium, ginjal, hepar, limpa, jaringan lunak, hingga tulang. (Surange, 1985)

 F.       Tanaman yang diserang Jamur Aspergillus spp

Aspergillus spp. pertama kali dilaporkan di Turki pada tahun 1960, bahwa kacang tanah yang diimpor dari Brasil tertular berat dan menyebabkan kerugian yang besar bagi usaha tanaman kacang tanah dan toksinnya pada waktu itu diberi nama aflatoksin (Swindale 1987). Aspergillus spp. kemudian dilaporkan di banyak negara dan menjadi kendala terutama dalam kualitas biji-bijian sebagai bahan pangan dan pakan. Christensen dan Meronuck (1986) melaporkan bahwa dari 33 spesies yang ditemukan, A. flavus dan A. farasiticus adalah cendawan yang mempunyai kesamaan yang erat dan menginfeksi biji-bijian dan beberapa jenis tanaman lainnya.

Dari beberapa spesies Aspergillus spp, A. flavus teridentifikasi sebagai penyakit penting yang menginfeksi biji jagung. Inang utama A. flavus adalah jagung, kacang tanah, dan kapas. Penyakit ini mempunyai banyak inang alternatif, sekitar 25 jenis tanaman, khususnya padi, sorgum, dan kacang tunggak (CAB International 2001). Pakki dan Muis (2006) melaporkan bahwa A. flavus ditemukan pada fase vegetatif dan generatif tanaman, serta pascapanen jagung.

Pada jagung, gejala Aspergillus spp. ditandai cendawan berwarna hitam, (spesies A. niger) dan berwarna hijau (A. flavus). Infeksi A. flavus pada daun menimbulkan gejala nekrotik, warna tidak normal, bercak melebar dan memanjang, mengikuti arah tulang daun. Bila terinfeksi berat, dan berwarna coklat kekuningan seperti terbakar. Gejala penularan pada biji dan tongkol jagung ditandai oleh kumpulan miselia yang menyelimuti biji (Gambar 6).

Hasil penelitian Pakki dan Muis (2006) menunjukkan adanya miselia berwarna hijau dan beberapa bagian agak coklat kekuningan. Pada klobot tongkol jagung, warna hitam kecoklatan umumnya menginfeksi bagian ujung klobot, perbedaan warna sangat jelas terlihat pada klobot tongkol yang muda. Bentuk konidia bulat sampai agak bulat umumnya menggumpal pada ujung hipa (Gambar 7), berdiameter 3-6 µm, sklerotia gelap hitam dan kemerahan, berdiameter 400-700 µm. Konidia A. flavus dapat ditemukan pada lahan pertanian. Pada areal pertanaman kapas, A. flavus ditemukan lebih dari 3.400 koloni/g tanah kering, dan pada area lahan pertanaman jagung 1.231/g tanah kering (Shearer et al. 1992). Keadaan ini menggambarkan bahwa populasi koloni pada media tumbuh jagung dapat menjadi sumber inokulum awal untuk perkembangannya. Perkembangan sklerotia dari tanah sampai mencapai rambut jagung hanya dalam tempo 8 hari (Wicklow et al, 1984).

 Dari 33 spesies yang telah dilaporkan CAB International tahun 2001, A. flavus merupakan spesies dominan yang menginfeksi jagung. A. flavus merupakan patogen utama pada pascapanen jagung dan banyak mendapat perhatian para peneliti mikotoksin di Indonesia. Patogen ini memproduksi toksin dan menginfeksi komoditas pertanian yang dikonsumsi manusia maupun ternak. Karakter bionomi A. flavus memberi gambaran bahwa cendawan tersebut mempunyai daya tular yang tinggi dari pertanaman ke tempat-tempat penyimpanan.

 3.    Jamur Piricularia aryzae

A.      Taksonomi Pyricularia oryzae

Kingdom         : Fungi

Filum               : Deuteromycetes

Famili              : Moniliaceae

Genus              : Pyricularia

Spesies            : Pyricularia oryzae

B.       Morfologi Patogen Pyricularia oryzae

 C.  Penyakit oleh Patogen Pyricularia oryzae

Penyakit blast atau busuk leher merupakan salah satu penyakit yang paling banyak menyerang padi dan serealia lainnya. Kerugian akibat penyakit blast sulit diperkirakan, namun kerugiannya selalu signifikan.

D.  Gejala Serangan

Oryzae Pyricularia menyebabkan bintik-bintik atau luka pada daun, tangkai, malai, dan biji, tetapi jarang pada pelepah daun. Gejala tersebut seperti nekrotik. Bercak  pada daun berbentuk gelendong dengan bagian tepi berwarna  coklat atau coklat kemerahan, bagian tengah bulat, dan berakhir runcing. Luka berkembang dengan panjang  1,0 – 1,5 cm dan lebar 0,3 – 0,5 cm. Karakteristik tersebut sangat berkaitan dengan usia luka, kerentanan tanaman, dan faktor lingkungan. Ketika tangkai terinfeksi, maka akan menjadi hitam dan busuk. Infeksi terjadi dari dasar malai dan menyebabkan busuk leher serta menyebabkan malai gugur atau jatuh. Pada infeksi berat, rachillae sekunder dan biji-bijian juga terpengaruh.

 4.    Jamur Plasmopara viticola

Domain    : Eukariota

Kerajaan : Chlromalveolata

Filum      : Heterokontophyta

Kelas      : Oomycetes

Ordo       : Peronosporales

Famili     : Peronosporaceae

Genus     : Plasmopara

Spesies   : Plasmopara viticola

B.  Gejala Serangan Jamur Plasmopara viticola

Serangan dari jamur Plasmopara viticola terdapat pada daun yang masih muda. Serangan pada daun berupa bercak-bercak berwarna kuning kehijauan dipermukaan daun bagian atas dan di bagian permukaan bawahnya muncul semacam tepung berwarna putih terdiri dari Sporangium dan Sporangiofor. Pada tunas dan sulur yang terserang akan memperlihatkan tepung putih di bawahnya, sehingga tidak dapat tumbuh dengan sempurna, produksi turun sampai 70% dalam satu musim.

 5.    Jamur Pythium deryanum

Pythium debaryanum merupakan jamur patogen yang menyebabkan kecambah busuk dan membusuknya akar pada tanaman budidaya (R. Hesse C. Dalam André dan  Cock. 2004). Serangan jamur ini terjadi dibeberapa tanaman budidaya, diantaranya menyerang daun dan buah tanaman kacang panjang.

 A.  Taksonomi Jamur Pythium debaryanum

Kingdom                     : Chromalveolata

Phylum                        : Heterokontophyta

Class                            : Oomycetes

Order                           : Pythiales

Family                         : Pythiaceae

Genus                          : Pythium

Species                        : Pythium debaryanum

Binomial name            : Pythium debaryanum

Sinomim                      : Eupythium debaryanum (R Hesse)

(Nieuwl dalam Van Der, 1981)

 6.    Jamur Sclerospora graminicola

A.  Morfologi Jamur Sclerospora graminicola

amur Sclerospora graminicola merupakan organisme penyebab penyakit bulu halus malai Downy mildew. Jamur ini mereproduksi secara aseksual melalui zoospora dengan cara membebaskan sporangium dan bereproduksi secara seksual melalui Oospora.

Ciri-ciri dari jamur ini sangat bervariasi seperti bereproduksi secara seksual melalui Oospora dalam jaringan daun yang terinfeksi. Infeksi jamur patogen tanaman ini timbul terutama melalui proses seksual, heterozigositas dan rekombinasi somatik, mutasi, dan seleksi. Pergeseran besar dalam patogenisitas terjadi karena perubahan ketahanan inang dan lingkungan. Jumlah variasi genetik pada populasi jamur patogen mempengaruhi kemampuannya untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan serta berfluktuasi dan mempengaruhi ketahanan inang sehingga ketahanan inang akan berubah dan menurun.

Ciri lain dari jamur ini adalah ukuran sporangiospora berkisar antara panjang 150-200μm, diameter 16-20μm dengan cabang utama yaitu spora yang mempunyai diameter kasar 8-16μm, yang berkerucut lalu bercabang kecil. Sporangium berbentuk oval dan lebar agak bulat, dengan ukuran panjang dan lebar 13-34μm × 12-23μm. Oospora berbentuk bulat mendekati oval, berwarna kuning pucat atau kuning-coklat dengan diameter 26-42μm.

B.  Gejala Serangan Jamur Sclerospora graminicola

Gejala terinfeksi jamur ini pada tanaman adalah sebgai berikut :

  1. Perbungaan – malai berubah warna
  2. Perbungaan – memutar dan distorsi
  3. Daun – terjadi proses nekrotik
  4. Daun – warna normal
  5. Daun – pertumbuhan jamur
  6. Daun – menguning atau mati
  7. Akar – lambat laun akan membusuk
  8. Batang – perubahan warna kulit batang

Gejala secara keseluruhan pada tanaman yang terinfeksi adalah adanya variasi yang cukup besar dalam gejala, yang hampir selalu berkembang sebagai akibat dari infeksi sistemik. Gejala bervariasi sesuai dengan ketahanan inangnya, serta kondisi lapangan atau lingkungan tempat terjadinya infeksi sistemik ini, biasanya diamati sejak 6 hari setelah tanam. Gejala sistemik umumnya muncul pada daun kedua, dan sesekali munculnya (jadi tidak secara bersamaan), dilanjutkan pada semua daun berikutnya dan malai juga menggambarkan gejala, kecuali dalam kasus-kasus resistensi pemulihan di mana tanaman dapat  mengatasi atau tahan terhadap infeksi tersebut (Singh dan Raja, 1988). Penyakit ini juga dapat muncul pada daun pertama ketika infeksi sudah parah perkembangannya.

Gejala daun dimulai dengan proses klorosis di dasar lamina daun dan menginfeksi daun baru berturut-turut serta menunjukkan perkembangan cakupan yang lebih besar dengan gejala daun. Gejala daun yang terinfeksi, ditandai dengan daerah bagian daun yaitu basal sakit dan menyebar  ke ujung. Dalam kondisi kelembaban tinggi, luas daun terinfeksi akan mendukung terjadinya klorosis dan menyebarnya sebagian besar spora, umumnya pada permukaan abaxial dari daun, memberi mereka penampilan berbulu halus pada daun. Jika gejala terjadi mulai awal, tanaman akan sangat kerdil dan klorosis dan selanjutnya akan mati, jika gejala yang tertunda, kekerdilan mungkin belum terjadi hal tersebut dikarenakan beberapa tunas mungkin lolos penyakit.

Tanaman sangat terinfeksi umumnya kerdil dan tidak menghasilkan malai. Istilah ‘Telinga hijau’ berasal dari penampilan malai yang berwarna hijau karena transformasi bagian bunga ke dalam struktur berdaun. Ini kadang-kadang disebut sebagai virescence (Arya dan Sharma, 1962). Dalam kasus-kasus tertentu, telinga hijau adalah satu-satunya manifestasi dari jamur ini. Gejala yang jarang terlihat sebagai lesi lokal atau bintik-bintik terisolasi pada bilah daun (Saccas, 1954; Girard, 1975). Tempat bervariasi dalam bentuk dan ukuran dan berada pada klorosis pertama dan menghasilkan sporangia, dan kemudian menjadi nekrotik.

7.    Jamur Penicillium sp

Patogen Penicillium spp. pada biji jagung ditemukan berupa gumpalan miselia berwarna putih menyelimuti biji, diselingi warna kebiru-biruan (Gambar 27). Patogen ini adalah patogen tular benih yang mempunyai inang utama jagung. Tanaman lain belum dilaporkan dapat menjadi inangnya, namun dapat menginfeksi tanaman jagung pada fase prapanen dan pascapanen.

Intensitas penularan pada biji jagung dapat mencapai lebih dari 50% (Handoo dan Aulakh 1999). Gejalanya ditandai oleh bercak pada kulit ari biji, bila menginfeksi tongkol secara optimal menyebabkan pembusukan. Pengaruh terhadap kualitas benih adalah penurunan daya tumbuh. Spesies P. oxalicum memproduksi oxalid acid dan bersifat toksik terhadap biji.

Penicillium spp. dapat ditularkan melalui biji. Apabila ditanam, biji-biji yang terinfeksi Penicillium spp. dari lokasi pertanaman dapat menularkan pada pertanaman selanjutnya. Patogen akan berkembang baik pada suhu < 15 dan akan tertekan perkembangannnya pada suhu > 25Oc. Penyebaran dalam suatu populasi serangga. Semakin tinggi populasi serangga, semakin besar intensitas biji terinfeksi Penicillium spp karena serangga dapat menjadi vektor penyebar perkembangan patogen ini di pertanaman dan tempat penyimpanan.

 

 III.   PENUTUP

Berdasarkan pembahasan diatas diperoleh kesimpulan bahwa jamur merupakan salah satu organisme penyebab penyakit yang menyerang hampir semua bagian tumbuhan, mulai dari akar, batang, ranting, daun, bunga, hingga buahnya. Penyakit ini menyebabkan bagian tumbuhan yang terserang, misalnya buah, akan menjadi busuk. Jika menyerang bagian ranting dan permukaan daun, akan menyebabkan bercak–bercak kecokelatan. Dari bercak – bercak tersebut akan keluar jamur berwarna putih atau oranye yang dapat meluas ke seluruh permukaan ranting atau daun sehingga pada akhirnya kering dan rontok. Jamur- jamur yang tergolong bersifat patogen terhadap tumbuhan diantaranya ialah Plasmodiophora brassicae, Aspergillus spp, Pyricularia oryzae, Plasmopara viticola, Pythium debaryanum, Sclerospora graminicola, dan Pinicillium spp

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

A J. van der Plaats-Niterink .1981. “Monograph of the genus Pythium“. Studies in Mycology 21: 1–242

Aguskrisno. 2012. Pemanfaatan Mikroorganisme dalam Mengendalikan Penyakit pada Tumbuhan. http://aguskrisnoblog.wordpress.com. [Diakses 11 Maret 2013].

C. André Lévesque & Arthur W. M. de Cock. 2004. Molecular phylogeny and taxonomy of the genus Pythiu. Mycological Research, 108 (12) : 1363–1383

Jawetz. E , Melnick & Adelberg. 1996. Microbiologi Kedokteran. Jakarta : EGC

Robinson, Richard. 2001. Biology Macmillan Science Library. Macmillan Reference. USA

Tjahjadi, Nur. 1989. Hama dan Penyakit Tanaman. Yogyakarta : Kanisius

 

Posted on April 14, 2013, in Agriculture and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 7 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: