SINGKRONISASI AKTIVITAS HORMON GIBERELIN DENGAN HORMON TUMBUHAN LAINNYA


Sinkronisasi Aktivitas Hormon Giberelin dengan Hormon Tumbuhan Lainnya

Giberelin adalah hormon pada tumbuhan yang memiliki fungsi sebagai agen perangsang pemanjangan sel sehingga bagian tanaman menjadi lebih besar dari ukuran normalnya. Giberelin mula-mula diketemukan di Jepang oleh Kurosawa pada tahun 1926. Menurut Abidin (1990) Kurosawa melakukan penelitian terhadap penyakit ”bakane” yang menyerang tanaman padi dan ternyata penyebab dari penyakit ini adalah jamur Giberella fujikuroi. Penyakit bakane menyebabkan tumbuhan padi rebah, hal ini akibat dari tanaman padi tumbuh tinggi melebihi ukuran normal.  Dengan kata lain cendawan tersebut mampu mengakibatkan pemanjangan ruas-ruas yang berlebihan pada batang dan daun sehingga padi lebih mudah rebah.

Hormon giberelin merupakan zat pengatur tumbuh yang sering digunakan untuk memperbesar ukuran hasil panen komoditas pertanian. Oleh karena itulah hormon ini sering dijadikan faktor kunci dalam perangkaian teknologi inovasi pertanian khususnya dalam hal memperbesar komoditas panen. Giberelin mampu mematahkan dormansi atau hambatan pertumbuhan tanaman sehingga tanaman dapattumbuh normal (tidak kerdil), memacu proses perkecambahan biji, merangsang pembelahan sel dan perpanjangan, merangsang pembungaan, merangsang produksi enzim (a-amilase), menyebabkan parthenocarpic (tanpa biji) pengembangan buah, dan menunda penuaan dalam daun dan buah jeruk.

Dalam hal pembesaran suatu organ dalam tanaman giberelin tidak bekerja sendiri. Giberelin menjalin kerjas sama dengan hormon dan ezim lainnya. Giberelin mampu membentuk enzim yang dapat  melunakkan dinding sel terutama enzim proteolitik yang akan melepaskan amino triptofan sebagai prekusor/pembentuk auksin sehingga kadar auxin dalam tanaman tersebut meningkat. Secara tidak langsung, giberelin dapat dikatan mengaktivkan auksin yang dalam tubuh tanaman yang diperlakukan. Auksin dan giberelin bekerja sama dalam hal pemanjangan sel sehingga kecepatan tumbuh tanaman meningkat dan daya tumbuh organ tanaman melebihi batas normalnya.

Selain itu giberelin juga mampu membentuk enzim alpha amilase yang berfungsi sebagai katalisator pada reaksi perombakan pati menjadi gula sederhana (glukosa) yang memeiliki karakteristik rasa lebih manis. Sehingga secara logika tanaman yang diperlakukan dengan giberelin akan meningkat kualitas rasanya dalam hal kemanisan. Selain itu jika konsentrasi gula meningkat, tekanan osmotik di dalam sel juga menjadi naik, sehingga ada kecenderungan sel tersebut berkembang.

Pendapat dari ahli mengenai Cell elongation atau pemanjangan sel adalah  giberelin mendukung pengembangan dinding sel. Penggunaan giberelin akan mendukung pembentukan enzim proteolitik yang akan membebaskan triptopan sebagai asal bentuk dari auksin. Hal ini berarti bahwa kehadiran giberelin tersebut akan meningkatkan kandungan auksin. Mekanisme lainnya menerangkan bahwa giberelin akan menstimulasi cell elongation , karena adanya hidrolisa pati yang dihasilkan dari giberelin, akan mendukung terbentuknya α amylase (Abidin,1990).

Selain auksin, secara tidak langsung ada sinergisme aktivitas dengan hormon sitokinin. Misalnya pada kasus pembentukan kuncup liar. Pembentukan kuncup liar dianggap terjadi karena dipacu oleh adanya sinergisme antara auksin dan sitokinin. (Heide,1972) dalam Handayani (2004). Golongan sitokinin sangat penting dalam pengaturan pembelahan sel dan morfogenesis (Winata, 1988 dalam Handayani, 2004). Sitokinin sebagai senyawa organik yang mendorong pembelahan sel tanaman dan menentukan arah diferensiasi sel tanaman. Wattimena (1988) dalam Handayani (2004) menjelaskan bahwa sitokinin juga dapat memperlambat proses penghancuran butir-butir klorofil pada daun, dan memperlambat proses senesen pada daun, buah dan organ-organ lainnya. Dari sini mulai terkuak bahwa penyebab terjadinya penundaan penuaan pada organ tanaman adalah berkat kerjasama giberelin-auksin-sitokinin misalnya penundaan penuaan  daun dan buah jeruk.

Hormon giberelin diaplikasikan melalui perendaman namun dapat juga disemprotkan pada fase tertentu pada tanaman, bergantung jenis tanaman dan umur tanaman yang akan diperlakukan. Pada tanaman anggrek untuk menciptakan anggrek yang berbunga serempak maka hormon giberelin diberikan pada saat tanamna hampir melakukan inisiasi bunga dengan cukup disemprotkan dengan dosis sebesar 2 mg/liter. Sedangkan pada semangka, perlakuan giberelin diberikan pada saat tanaman berupa bibit atau benih siap tanam.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin,Zainal.1990. Dasar-Dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuhan. Bandung :Angkasa.

Handayani, Rd. Selvy. 2004. Respon Pertumbuhan Bibit Duku (Lansium domesticum Corr.) dengan penyemprotan Giberelin, Sitokinin, dan Triakontanol. Bogor : Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor

Harjadi,Sri Setyati.2009.Zat Pengatur Tumbuhan. Jakarta : Penebar Swadaya.

Iklan

Posted on Desember 7, 2012, in Agriculture and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: