LABA-LABA DI ATAS PAGAR RUMAH KU.


LABA-LABA DI ATAS PAGAR RUMAH KU.

Hanya sebuah pemikiran, tapi sebenarnya hampir disetiap hal disekeliling kita memberikan perlambang dan pertanda, tentang kehidupan dan isyarat Tuhan kepada apa yang Dia ciptakan.

 OAM       

Kami adalah keluarga yang “one of the kind”. Hanya segelintir keluarga saja yang hampir setiap tahunnya pindah rumah. sejak ibu dan ayah menikah di tahun 1991, keluarga kami sudah pindah 7x. Setiap rumah yang kami singgahi punya banyak filosofi. Maklum, karena keluarga kami berasal dari jawa. Orang Jawa itu suka mencari makna dibalik sesuatu.  Istilahnya Otak Atik Matuk (OAM).

Orang yang paling (sok) filosofistis dikeluarga kami adalah Ayah saya, dan peringkat kedua adalah saya sendiri. Contoh yang paling mudah, dulu waktu rumah kami sempat tinggal 4 tahun di Jl Dr Soebandi, keuarga kami secara mental “sakit-sakitan”. Hal itu tidak terlepas dari filosofi rumah kami yang berdekatan dengan rumah sakit.

Sekarang lain lagi. Kami mungkin tinggal 2 tahun untuk mengontrak rumah di perumahan dekat kota. Sudah satu tahun berjalan. Kami tinggal disini kurang setahun lagi. Secara relatif saya bisa mengatakan kalau bukan rumah sendiri, tidak ada gairah untuk merawat rumah, mengindahkan rumah, dan hidup seperti dan secara normal. Namanya juga rumah kontrakan, bukan rumah sendiri, sehingga aura rumah nampak suram, karena bukan rumah sendiri.

DINAUNGI SARANG LABA-LABA         

Tepat di atas atap rumah, ada segerumul laba-laba, induk dan anak-anaknya. Filosofinya apa? Saya coba OAM (Otak Atik Matuk) sedikit. Rumah jika di atas pagar rumah dihuni laba-laba, berarti rumah itu hampir tidak ditinggali, mirip sebuah goa.  Aura negatif juga pasti akan muncul, karena sebenarnya rumah seharusnya dinaungi oleh kebahagiaan, bukan dinaungi oleh bayang-bayang sarang laba-laba. Mungkin seharusnya keluarga kami menyingkirkan laba-laba itu. Tapi biarlah, toh ini bukan rumah tetap kami, dan kami akan segera pindah.

NURANI DARI TUHAN

Saya bukan orang Islam murni. Agama terbaik saya adalah nurani saya. Nurani yang berarti Nur, cahaya. Nurani adalah ciptaan Tuhan, agar manusia dapat dekat dan berkomunikasi dengan –Nya.

Iklan

Posted on Agustus 24, 2012, in Living Me, Opinion and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: