TANAMAN KARET HULU-HILIR


TANAMAN KARET HULU-HILIR

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Karet memiliki nama latin Havea Brasilienis Mucll. Ang. Tanaman karet termasuk famili Euphorbiace atau tanaman getah-getahan. Dinamakan demikian karena golongan famili ini mempunyai jaringan tanaman yang banyak mengandung getah (lateks) dan getah tersebut mengalir keluar apabila jaringan tanaman terlukai. Tanaman karet merupakan tanaman industri (Syamsulbahri, 1985).

Tanaman karet pada mulanya berasal dari lembah Sungai Amazon. Karet liar atau semi liar masih banyak ditemukan di bagain utara Amerika Selatan, mulai dari Brazil, Venezuela, Kolombia, dan Peru (Ghani et al., 1989). Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada tahun 1995 dan 2.0 juta ton pada tahun 2005. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada semester pertama tahun 2006 mencapai US$ 2.0 milyar, dan diperkirakan nilai ekspor karet pada tahun 2006 akan mencapai US $ 4,2 milyar (Anwar, Tanpa Tahun).

Pada tahun 1876, tanaman karet pertamakali diintroduksikan ke Asia tenggara. Karet mulai menjadi komoditas yang dipentingkan setelah industri mobil mulai berkembang di benua Amerika. Revolusi Industri dibidang perkaretan mulai menggeliat sekitar awal abad 19 ketika Charles Good Year tahun 1839 dari Amerika Serikat berhasil mengolah lateks dengan belerang. Proses menggunakan belerang tersebut dinamakan vulkanisasi. Dunlop orang Inggris tahun 1888 berhasil menciptakan ban mobil. Dengan kemajuan dibidang industri lateks, maka permintaan dunia akan laeks terus meningkat (Syamsulbahri, 1985).

Hal tersebut kemudian menandai pesanya penanaman karet alam secara besar-besaran, terutama pada daerah beriklim sama dengan hutan Amazon. Tahun 1900 perkebunan kare sudah melanda seluruh dunia termasuk Srilangka, India, Malaysia, dan Indonesia (Syamsulbahri, 1985).

Konsumsi total karet dunia pada tahun 1986 adalah 13,6 juta ton. Namun demikian produksi karet alam hanya 4,39 juta ton atau sekitar 32,3% saja. Dari produk karet tersebut, 92 % poduksi dihasilkan dari negara-negara Malaysia, Indoneisa, Thailand dan Srilangka. Dari areal perkaretan dunia tersebut, sebagain besar perkebunan karet adalah diusahakan oleh perkebunan rakyat (Syamsulbahri, 1985).

Indonesia adalah negara terbesar ke 2 dalam hal penghasil karet dan memiliki louas lahan karet terbesar di dunia (USAID, 2007). Sekitar 84% dari kebun karet yang ada di Indonesia dimiliki oleh perkebunan rakyat. Pada tahun 2005, rata-rata panen pohon karet di Indonesia adalah 862 kg/ha per tahun. Hal ini sangat berbeda dengan Malaysia, Thailand, Vietnam, dan India yang telah mencapai lebih dari 1000 kg/ha per tahun (USAID, 2007).
Di Indonesia karet merupakan komoditi yang penting. Hal ini disebabkan karena selain potensi ekonominya, juga potensi alam dan iklim yang sangat mendukung.

Potensi ekonomi yang dimiliki Indonesia terhadap karet cukup besar dikarenakan adanya peningkatan karet dunia yakni 4-5% pertahun. Sekalipun tampaknya produksi karet sintetis dewasa ini mampu mendesak pasok produk karet alam. Pada saat ini, produksi kare dunia sebesar 15 juta dengan produksi karet alam sebesar 6 juta ton sedangkan produksi karet sintetis sebesar 9 juta ton (Anonim, 1991).
Untuk peningkatan dan pemberdayaan komoditas karet di Indonesia, perlu adanya pemahaman menyeluruh dari sektor hulu ke sekor hilir. Pada makalah kali ini akan dibahas secara singkat dan jelas mengenai usaha pertanian dibidang perkebunan karet khususnya perkebunan karet di Indonesia.

1.2 Tujuan
Makalah ini dibuat untuk lebih memahami usaha pertanian dibidang komoditas karet mulai dari sektor budidaya hingga pasca panen. Selain itu, mengingat potensi Indonesia pada perkebunan karet cukup potensial, maka makalah ini akan menjelaskan prospek perkebunan karet indonesia dimasa depan.

II. PEMBAHASAN

2.1 Karakteristik Tanaman Karet
2.1.1 Ciri Umum

Tanaman karet berupa pohon, ketinggiannya dapat mencapai 30-40 meter. Sistem perakarannya pada/kompak, akar tunggangnya dapat menembus tanah hingga kedalaman 1-2 meter, sedangkan akar lateralnya dapat menyebar sejauh 10 meter. Bentuk batang tanaman karet bulat dengan kulit kayu yang halus-rata bewarna putih kecoklatan.

2.1.2 Ciri Akar
Termasuk tanaman yang berakar tunggang. Perakaran tanaman karet alam menyebar secara ekstensif, oleh karena itu memerlukan drainase yang baik. Akar tanman karet mampu menetrasi tanah hingga kedalaman 1 meter. Banjir yang sering melanda tanaman karet dapat merusak perakarannya.

2.1.3 Ciri Bagian KayuKayu karet bila dipotong bewarna putih kekuningan. Percabangan batang tanaman karet dimulai sejak bibit berumur satu tahun sesudah masa tanaman. Sesudah percabangan, diameter batang meningkat secara teratur dan kontinyu, namun sesudah tanaman disadap, pertumbuhan tanaman berhenti sama sekali. Kayu tersebut dapat dijadikan kerajinan tangan dan perabot rumah tangga. Namun demikian, kayu pohon karet kuang tahan terhadap serangan serangga seperti rayap, serangga dan jamur (Syamsulbahri, 1985).

Dari lapisan kulit terluar (periperi) hingga menuju pisat kayu terdiri dari lapisan kulit terluar, lapisan gabus, kulit keras, dan kulit lunak. Kulit lunak ini sebagian besar terdiri atas pembuluh ayak yang vertikal dan pembuluh lateks. Pembuluh lateks merupakan modifikasi dari pembuluh ayak (sieve tubes). Sieve tube atau pembuluh ayak merupakan bagian dari pembuluh angkut floem. Pembuluh lateks tersebut tumbuh dari lapisan kambium. Pembuluh lateks tersusun secara memanjang (longitudinal). Pembuluh lateks berbentuk tabung memutar melingkari batang dengan sudut kemiringan 3,50 arah verikal. Oleh karena itu, pada pengambilan cairan lateks pada pohon karet, dilakukan penyayatan sadap miring. Penyayatan dimulai dari sebelah kiri atas mengarah kesebelah kanan bawah.

2.1.4 Ciri Bagian Daun
Daun tanaman karet adalah trifolia dengan tangkai daun yang panjang,serat daun tampak jelas dan bersifat kasar. Daun tersusun secara spiral dan berambut. Daun baru tanaman karet berwarna merah tua, selanjutnya berangsur-angsur akan berubah menjadi hijau tua. Perkembangan semenjak daun muncul hingga masak memerlukan waktu 36 hari, dengan rincian 18 hari digunakan untuk perkembangan daun hingga mencapai ukuran maksimal, sedangkan sisa harinya digunakan untuk pematangan daun dengan diakhiri perubahan warna daun menjadi hijau tua (Syamsulbahri, 1985).
Tanaman karet secara reguler merontokkan daun-daunnya (deciduous). Rontoknya daun-daun ini hanya terjadi pada bulan tertentu. Biasanya rontok terjadi pada bulan kering. Apabila terjadi rontok daun, maka produksi lateks akan berkurang.

2.1.5 Ciri Bagian Bunga
Bunga pada pohon karet hidup dan tumbuh bergerombol. Bunga pohon karet tumbuh pada bagian ketiak daun. Individu bunga bertangkai pendek dan bunga betina terletak di ujung tangkai. Bunga karet mekar berbarengan dengan tumbuhnya daun pohon karet setelah masa kemarau. Proporsi bunga jantan pohon karet lebih banyak ketimbang bunga betina. Bunga jantan hanya memiliki waktu mekar selama satu hari kemudian rontok. Berbeda dengan bunga jantan, bunga betina mekar selama 3-4 hari, pada waktu yang sama maih tedapat bunga jantan yang belum rontok, sehingga penyerbukan dapat terjadi. Dikarenakan perbedaan fase tumbuh antara bunga jantan dan betina yang berbeda dalam waktu, maka hanya beberapa bunga betina yang mampu menghasilkan buah (Syamsulbahri, 1985).

Tanaman karet dapat menyerbuk sendiri atau menyerbuk secara silang. Sesudah terjadi penyerbukan, hanya sebagian kecil saja bunga betina yang bekembang menjadi buah. Sekalipun dengan penyerbukan buataan, tidak lebih dari 5% bunga yang tumbuh menjadi buah (Ghani et al., 1989).

2.1.6 Ciri Bagian Buah
Buah dari karet masak sesudah 5-6 bulan setelah pembuahan. Buah yang masak tampak kompak, padat dan besar. Buah terrsebut terdiri dari 3 ruang bakal biji. Biji karet besar dan sedikit padat, ukurannya 2-3,5 x 1,5-3 cm, mengkilat dengan bobot biji antara 2-4 gram (Syamsulbahri, 1985).

2.1.7 Fase Perkecambahan
Perkecambahan biji karet terjadi 7-10 hari sesudah disemaikan. Bibit karet ataupun tanaman karet dewasa mempunyai pertumbuhan yang berperiodik, setiap pertumbuhan daun dinamakan mupus atau flush. Setiap periode pertumbuhan tunas juga dikenal sebagai pertumbuhan daun payung (Syamsulbahri, 1985).

2.2 Lahan Tanam
Jenis tumbuhan karet liar banyak ditemukan di daerah hutan hujan tropis kawasan lembah Amazon. Daerah tersebut secara periodik mengalami banjir/genangan. Pohon karet yang besar tumbuh pada dataran yang tinggi. Tanaman karet adalah tanaman tropis. Kebanyakan perkebunan karet diusahakan pada kawasan dengan letak lintang antaraq 15o LU hingga 10o LS (Syamsulbahri, 1985).
Vegetasi yang sesuai untuk kondisi lintang tersebut adalah hutan hujan tropis yang disertai dengan suhu panas dan kelembapan tinggi. Sekalipun demikian, pada umumnya poduksi maksimum lateks dapat tercapai apabila ditanam pada lokasi yang semakin mendekati garis khatulistiwa (5-6o LU/LS).
Daerah yang mempunyai perbedaan suhu tinggi (antara maksimum dan minimum) serta adanya bulan-bulan kering sepanjang tahun tidak sesuai untuk pertumbuhan tanaman ini (Purseglove, 1968). Tanaman Karet menghendaki adanya hujan hampir sepanjang ahun dengan bulan kering kurang dai 4 bulan. Dengan curah hujan yang sedikit yaitu dibawah 2000 mm/tahun, produksi lateks sangat tendah. Sebaliknya, apabila curah hujan terlampau tinggi, banyak menimbulkan hama penyakit (Hariyono, 1989).
Tanaman karet dapat tumbuh pada dataran rendah, yaitu 0 hingga 200 m diatas permukaan laut. Tinggi tempat berpengaruh saat penyadapan pertama. Pada kenaikan tinggi tempat untuk setiap 100 meter dimulai dari ketinggian 200 meter di atas permukaan laut akan terjadi kelambatan saat sadapan pertama selama 6 bulan (Syamsulbahri, 1985). Tanaman karet dapat tumbuh baik pada tanah berpasir hingga laterit merah dan podsolik kuning, tanah abu gunung, tana beliat serta tanah mengandung Nitrogen. Karet tidak memerlukan keseburan tanah yang khusus ataupun opografi tertentu.

2.3 Perkembangbiakan
2.3.1 Jenis Bibit Karet Unggul di Indonesia
Bibit unggul paling tidak harus memenuhi dua kriteria, yaitu unggul genetis dan unggul agronomis. Unggul agronomis berarti cepat umbuh dan dapat ditanam dikisara iklim yang luas. Anjuran menggunakan klon unggul terutama ditujukan untuk membebaskan tanaman karet dari serangan hama penyakit daun Coletotricum dan Corynespora. Penyakit daun tesebut mengancam tanaman karet yang memiliki curah hujan lebih dari 1500 mm dan kelembapan tinggi. Benih karet yang baik untuk digunakan sebagai batang bawah adalah LCB 1320. Jenis tersebut memiliki pertumbuhan cepat serta daya gabung klon yang tinggi. Benih karet yang akan digunakan untuk bibit batang bawah harus dipilih yang tua dan murni dalam arti tidak terkontaminasi jenis lain. Berdasarkan Peeremuan Tteknis di Pontianak 1990 jenis bibit unggul yang dianjurkan adalan sebagai berikut (Puslitbang Getas, 1991) ;
No Untuk Perkebunan Rakyat Untuk Perkebunan Besar
1 PR 261 PR 261
2 PR 300 PR 255
3 P 303 BPM 1
4 Avros 2037 PR 300
5 BPM 1 BPM 24
6 BPM 24 Avros 2037
7 GT 1 Lcb 1320

2.3.2 Pembibitan
Budidaya tanaman karet alam diperkebunan diawali dari pengadaan benih, perkecambahan, penanaman kecambah dilapang, okulasi, dan penanaman bibit unggul di lapang. Pengadaan benih dilakukan dengan memilih pohon induk yang memang disediakan untuk produksi benih. Benih karet dipilih pada buah yang benar-benar masak.

Biji karet termasuk golongan rekalsitrant artinya tidak bisa disimpan pada kadar air yang rendah. Kadar air yang rendah dapat menurunkan viabilitasnya. Biji jenis tersebut berbeda dengan biji yang digunakan untuk benih padi, jagung, kedelai, dan kacang hijau yang justru menghendaki kadar biji yang rendah..
Perbedaan Iklim menyebabkan waktu berbuah karet di Indonesia berbeda-beda. Di pulau Jawa misalnya, musim buah karet adalah pada bulan Januari-April, sedangkan di Sumatra jatuh pada bulan September-November.

Di Jawa Musim tanam karet dimulai pada bulan Januari-April. Okulasi dilakukan setelah bibit batang bawah berumur 4-5 atau pada bulan Juli-Agustus. Untuk lebih jelasnya tertera sebagai berikut (Puslitbang Getas 1988);

Musim biji : Bulan 1-2
Musim kecambah dan perawatan : Bulan 4-7
Okulasi : Bulan 7-8
Tanam di polibag : Bulan 9-11
Tanam di kebun : Bulan 12
Masa okulasi tanaman karet berlangsung selama 2 bulan. Okulasi dapat dilakukan langsung pada saat di polibag. Okulasi dini juga memecahkan permasalahan bibit batang kadaluarsa (mempunyai tiga atau dua daun payung) (Syamsulbahri, 1985).

2.4 Perkebunan Karet di Indonesia
Indonesia adalah negara terbesar ke 2 dalam hal penghasil karet dan memiliki louas lahan karet terbesar di dunia (USAID, 2007). Perkebunan karet di Indonesia memberikan kontribusi 4% dari total ekspor pendapatan negara. Sekitar 84% dari kebun karet yang ada di Indonesia dimiliki oleh perkebunan rakyat. Rata-rata perkebunan rakyat memiliki luas sekitar 2 ha. Pada tahun 2005, rata-rata panen pohon karet di Indonesia adalah 862 kg/ha per tahun. Hal ini sangat berbeda dengan Malaysia, Thailand, Vietnam, dan India yang telah mencapai lebih dari 1000 kg/ha per tahun (USAID, 2007).

Produksi karet (dalam ribu ton)
2000 2001 2002 2003 2004 2005
PR 1215 1210 1223 1365 1662 1839
Pemerintah 170 181 189 195 196 210
P. Swasta 206 216 218 232 208 222
Total 1591 1607 1630 1792 206 2271

Perkebunan rakyat mengalami peningkatan produksi dalam 5 tahun terakhir. Hal ini dikarenakan banyak klon dan jenis baru yang digunakan untuk mendapakan keuntungan yang besar (USAID, 2007).

2.5 Area Perkebunan
Sumatra dan Kalimantan merupakan tempat perkebunan karet utama di Indonesia. Diperkirakan sekitar 7 juta orang mencari nafkah dari 2 area tersebut. 84% perkebunan rakyat berasal dari Sumatra Utara, Riau, jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Sumatra Selatan. Tabel dibawah ini akan menjelaskan lebih lanjut.

2.6 Jenis Perkebunan Karet di Indonesia
Karet ditanam secara intensif pada perkebunana bersistem agroforestri, atau juga lebih dikenal sebagai kebun karet (rubber garden). Pada perkebunan intensif, perkebunan rakyat akan memiliki sekitar 400 pohon dalam 1 hektar. Data menyebutkan bahwa beberapa tempat perkebunan agroforestri di Jambi justu memiliki produkifitas yang tinggi ketimbang sistem monokultur. Pada daerah penanaman bersistem agoforestri, pohon karet ditanam berbarengan dengan pohon buah dan timber crops.

2.7 Persiapan Lahan dan Bahan Tanam
Persiapan lahan secara umum sering menggunakan metode tebang dan bakar lahan. Untuk lahan yang dahulu sudah ditanam pohon karet dan ingi mengganikan pohon karet yang tidak produktif dengan yang pohon karet baru sering hanya menggunakan sistem tebang saja.
Sebagian dari benih sebagai bahan tanam berasal dari hasil silang para petani rakyat sendiri. Dibeberapa area, petani lebih suka menggunakan tunggul pohon ketimbang bibit dari pemerintah. Tunggul pohon memiliki tinggi hingga 3 meter. Tunggul pohon yang besar merupakan bibit yang lebih tahan terhadap penyakit dari pada bibit yang lebih muda dan kecil. Selain menggunakan tunggul pohon, para petani juga dapat menggunakan tunas. Harga tunas rata-rata sekitar Rp1500 – Rp2100 per tunas.

2.7.1 Biaya Pembuatan Lahan dan Oprasional
Tanaman karet memerlukan waktu 5-6 tahun untuk dapat disadap, oleh karena itu pembangunan perkebunan karet memerlukan investasi jangka 15 panjang dengan masa tenggang 5-6 tahun. Biaya investasi an pemeliharaan TBM dan TM dapat dilihat pada Tabel berikut ;

Dengan asumsi tingkat produksi rata-rata 1.576 kg karet kering/ha/tahun, harga FOB SIR 20 : US $ 1,70/kg dan kurs: Rp 9.000/US $ (awal tahun 2006) dan harga di tingkat petani 80% FOB, dilakukan perhitungan kelayakan finansial usaha perkebunan karet diukur dengan tingkat Internal Rate of Return (IRR), Net Present Value (NPV) dan B/C ratio. Bila IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang diberlakukan yaitu 18%, maka usaha perkebunan karet layak secara finansial. Bila NPV lebih besar dari nol (positif) maka usaha adalah layak, pada discount rate yang ditentukan yaitu sebesar 18%. Perhitungan nilai IRR dan NPV berdasarkan pada arus kas selama 30 tahun dengan asumsi biaya tetap, namun harga jual menggunakan 3 skenario yaitu: harga naik 20%, harga saat ini dan harga turun 10%, adalah seperti yang tertera pada Tabel dibawah. Tabel tersebut akan menunjukkan bahwa proyek pada tingkat bunga 18% usaha perkebunan karet masih layak, demikian juga pada saat harga karet turun 20%, nilai NPV masih positif dan IRR lebih dari 18%. Apabila ada skim kredit yang tingkat bunganya lebih rendah (14%), maka tingkat kelayakan usaha akan semakin tinggi (Anwar, Tanpa Tahun).

2.8 Penyayatan dan Pengumpulan Getah Karet
Tanaman karet termasuk tanaman industri. Komoditi ini ditanam dengan tujuan untuk mendapatkan getah/lateks yang selanjutnyua digunakan unuk industri. Lateks tersebu terdapat dijaringan tanaman yang teletak kuli kayu (silem) dan kayu (floem), Oleh karena itu dalam menyayat kulitkayu haruslah hati-hati agar tidak terlalu dalam sehingga dapatmengakibatkan rusaknya kambium tersebut (Syamsulbahri, 1985)

Pohon karet biasanya dapat disadap sesudah berumur 5-6 tahun. Semakin bertambah umur tanaman semakin meningkat produksi lateksnya. Pada umur 26 tahun, produksi lateks pohon karet mulai menurun (Syamsulbahri, 1985).
Penadapan tanaman karet diusahakan untuk diambil terutama produksi getah/lateksnya. Lateks tersebut merupakan hasil fotosintesis yang kemudian disimpan dalam jaringan tanaman terentu. Pembuluh lateks tersebut berposisi miring. Makin kearah dalam (kearah kambium) jumlah pembuluh akan semakin banyak. Namun agar dalam penyadapan tidak membahayakan kesehatan tanaman, penyayatan diusahakan tidak terlau dalam (Syamsulbahri, 1985).
Di Indonesia sering tewrjadi kesalahan dalam penyadapanlateks sehingga hasilnya tidak maksimal. Kerusakan pada jaringan kulit kayu akan mempengaruhi kualitas produksi lateks secara menyeluruh pada satu pohon. Penyadapan yang telalu intensif akan meusak kambium dan mengurangi hasil produksi. Lebih dari 50% hasli produksi lateks tidak bisa dipanen karena kesalahan dalam proses penyadapan. Selain masalah tersebut, penyadapan pada usia tanaman yang terlalu muda dan menggunakan arah dan alur yang salah dalam menyayat karet akan mengurangi hasil lateks (USAID, 2007).

2.9 Pemanenan Getah Karet
Karet yang diproses di Indonesia terutama dalam bentuk Technically Spesified Rubber (TSR) yang lebih dikenal dengan sebutan SIR (Sandart Indonesian Rubber) yang digunakan untuk industri ban mobil global. Perkebunan besar lebih sering menggunakan hasil panennya unuk diproduksi menjadi 60% DRC (dry rubber content) sebagai kondom, serung angan dan balon. Latesk dengan kualitas tinggi seperti SIR 3L, SIR 3CV dan SIR 3 dan beberapa klualitas unggul lain juga dimiliki dan diproses oleh perkebunan besar (USAID, 2007).
Jenis karet ekspor berdasarkan kualitas pada tahun 200-2005 diunjukkan pada tabel berikut (USAID, 2007) ;

2.10 Pemprosesan Getah Karet
Pemprosesan awal dimulai dari lapangan temapt dimana lateks dipanen. Bahan mentah dipersiapkan oleh petani lokal dalam bentuk coagulate dan terasapi. Lateks yang telah dikoagulasi dibenuk dalam ukuran 2-3 inchi untuk memudahkan pengeringan. Bahan pengkoagulasi adalah formic acid adam asam sulfat serta ditambah beberapa larutan asam lain (USAID, 2007).

Proses lebih lanjut dilaksanakan di pabrik. Di Indonesia terdapat 123 pabrik lateks untuk pengolahan lebih lanjut. Sebagian besar dari pabrik karet di Indonesia memproduksi karet jenis SIR 20, bentuk karet batangan jadi yang di ekspor Indonesia (USAID, 2007).

Pabrik pengolahan karet di Indonesia merubah lateks yang terkoagulasi atau lembaran lateks menjadi bentuk butiran. Alur pertama yang digunakan adalah menghancurkan lateks setengah jadi yang diperoleh dari kebun atau lapang kemudian digiling. Hasil dari penghancuran dan penggilingan itu adalah berbentuk kain kenyal hitam yang kemudian dikering anginkan selama 10-14 hari. Setelah dikeringan anginkan dan dikering ovenkan karet dibenuk kotak dengan berat dan konsistensi tertentu. Kemudian dikemas dalam polyethylene dan siap di ekspor (USAID, 2007).

2.11 Pasar Global Karet Indonesia

Harga karet alam yang membaik saat ini harus dijadikan momentum yang mampu mendorong percepatan pembenahan dan peremajaan karet yang kurang produktif dengan menggunakan klon-klon unggul dan perbaikan teknologi budidaya lainnya. Pemerintah telah menetapkan sasaran pengembangan produksi karet alam Indonesia sebesar 3 – 4 juta ton/tahun pada tahun 2025. Sasaran produksi tersebut hanya dapat dicapai apabila areal kebun karet (rakyat) yang saat ini kurang produktif berhasil diremajakan dengan menggunakan klon karet unggul secara berkesinambungan (Anwar, Tanpa Tahun).

Penawaran karet alam dunia meningkat lebih dari tiga persen per tahun dalam dua dekade terakhir, dimana mencapai 8.81 juta ton pada tahun 2005. Pertumbuhan tersebut berasal dari negara produsen Thailand, Indonesia, Malaysia, India, China dan lainnya. Produksi karet Thailand menjadi dua kali lipat selama periode 1980-1990 dan 1990-2000. Malaysia sejak tahun 1991 tidak lagi menjadi produsen utama karet alam dunia tetapi digeser oleh Thailand, sementara itu Indonesia tetap sebagai negara produsen kedua. Thailand memproduksi lebih dari 33% karet alam dunia pada tahun 2005, sementara Indonesia dengan pangsa produksi 26% dan Malaysia tinggal 13% (Anwar, Tanpa Tahun).

2.12 Pengembangan Agribisnis Karet di Indonesia

Dengan kondisi harga karet sekarang ini yang cukup tinggi, maka momen tersebut perlu dimanfaatkan dengan melakukan percepatan peremajaan karet rakyat dengan menggunakan klon-klon unggul, mengembangkan industri hilir untuk meningkatkan nilai tambah, dan meningkatkan pendapatan petani. Strategi di tingkat on-farm yang diperlukan adalah : (a) penggunaan klon unggul dengan produktivitas tinggi (2-3 ton/ha/th); (b) percepatan peremajaan karet tua seluas 400 ribu ha sampai dengan tahun 2009 dan 1,2 juta ha sampai dengan 2025; (c) diversifikasi usahatani karet dengan tanaman pangan sebagai tanaman sela dan ternak; dan (d) peningkatan efisiensi usahatani. Sedangkan di tingkat off-farm adalah : (a) peningkatan kualitas bokar berdasarkan SNI; (b) peningkatan efisiensi pemasaran untuk meningkatkan marjin harga petani; (c) penyediaan kredit untuk peremajaan, pengolahan dan pemasaran bersama; (d) pengembangan infrastruktur; (e) peningkatan nilai tambah melalui pengembangan industri hilir; dan (f) peningkatan pendapatan petani melalui
perbaikan sistem pemasaran (Anwar, Tanpa Tahun).

KESIMPULAN

Karet merupakan tanaman yang dapat ditanam di Indonesia karena merupakan tanaman beiklim tropis. Komoditas karet merupakan komoditas yang memiliki prospek kedepan yang baik karena permintaan terus meningkat. Pengembangan Industri karet diperlukan untuk mewujudkan visi Indonesia 2025 yaitu dapat memproduksi karet hingga 2-4 juta ton per tahun.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar Chairil. 2006. Perkembangan Pasar dan Prospek Agribisnis Karet di Indonesia. Pusat Penelitian Karet : Medan.

Ghani, A.M.N, O.S. Huat, dan M. Wessel. 1989. Hevea Brasilienis Muell.ag. pudoc: Wageniengen.

Haryono,D. 1989. Permasalahan dan Budidaya Tanaman Perkebunan Utama Komoditi Karet. Fakulas Pertanian Brawijaya : Malang.

Purseglove, J.W. 1968. Tropical Crops Dicotyledons. longmans Scientific and technical : New York.

Pustlitbang Getas. 1988. Buletin Research Center. Getas : Salatiga.

Pustlubang Getas. 1991. Bibit Karet Unggul Untuk Perkebunan. Pusat Peneluitian Perkebunan Getas: Salatiga.

USAID. 2007. A Value Chain Assessment of The Rubber Industry in Indonesia. USAID : Amerika Serikat.

Posted on Desember 27, 2011, in Agriculture and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. karet masih menjadi komoditas ekonomis tinggi ya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: