TANAMAN TEBU HULU-HILIR


1. Sejarah Tebu di Indonesia

Tebu, saccharum officinarum L, memiliki sejarah yang panjang sebagai komoditas pertanian komersial. Tebu diperkirakan berasal dari Papua dan mulai dibudidayakan sejak tahun 8000 SM. Tanaman ini kemudian menyebar di berbagai belahan dunia melalui migrasi manusia. Sekitar tahun 1493 Columbus membawa tebu dari pulau Canary ke Republik Dominika. Ini merupakan langkah awal penyebaran tebu di Amerika, Mexico, Brazil dan Peru. Tahun 1800-an, tebu mulai dikenal di Afrika dan Australia.

Di Jawa, tanaman tebu diperkirakan sudah ditanam sejak zaman Aji Saka. Perantau China yang bernama I Tsing mencatat bahwa perdagangan nira yang berasal dari gula tebu telah di perdagangkan di Nusantara (895 M). Industri Tebu dan pabrik gula mulai berkembang di Nusantara ketika masa penjajahan Belanda di mulai (1700-an). Pada awal abad ke-17 industri gula berdiri di sekitar selatan Batavia, yang dikelola oleh orang-orang China bersama pejabat VOC.

Pada pertengahan abad ke-18, telah dilakukan ekspor gula dari 130 pabri Gula tradisional di Jawa. Dalam perkembangannya, ekspor gula yang dilakukan oleh kolonial Belanda mengalami naik turun akibat keterbatasan modal, kekurangan lahan, dan persaingan ekspor gula dengan India. Industri gula kolonial yang menggunakan tenaga pribumi mulai bergeliat kembali seiring diberlakukannya Cultuurstelsel oleh van den Bosch. Liberalisasi Industri gula di pasung. Semua sektor perekonomian gula di kuasai oleh pemerintah kolonial belanda. Meskipun menimbulkan penderitaan bagi kaum pribumi, kebijakan ini menjadikan Nusantara sebagai pengimpor gula terbesar dan mampu mendominasi pasar dunia. Ketika penjajahan telah berakhir, sebagian besar dari pabrik gula yang ada di Jawa masih merupakan bekas peninggalan Belanda

2. Taksonomi dan Genetik

Divisio Spermatophyta

Subdivisio Angiospermae

Kelas Monocotyledoneae

Ordo Graminalis

Familia Gramineae

Genus Saccharum

Spesies Saccharum officinarum

No Spesies Klasifikasi Kadar Gula Jumlah Kromosom

1 S. spontaneum Wild spesies Nil 2n= 40-128

2 S. robustum Wild spesies Nil 2n= 60-200

3 S. officinarum Noble canes High 2n= 80

4 S. barberi Ancient hybird Low 2n= 111-120

5 S. sinensa Ancient hybird Low 2n= 80 – 124

6 S. edule Wild spesies Low 2n= 60-80

3. Bagian-Bagian Tanaman

3.1. Bagian Akar

Fungsi dari akar tanaman tebu adalah untuk menyerap air dari tanah dan berfungsi sebagai penahan tanaman agar tidak roboh. Ada dua jenis akar, yaitu :

Set Root

Adalah akar yang tipis bercabang, yang keluar dari akar utama

Shoot Root

Berasal dari akar utama bagian bawah, tebal, lengket, dan sedikit cabang.

3.2 Bagian Daun

Daun pada tebu dibagi dalam 2 bagian, yaitu bagian sheat (pelepah) dan blade (helai). Bagian pelepah menutupi sebagian dari batang, membentang pada bagian internode. Pelepah sering ditemukan menempel pada bagian node.

3.3 Bagian Batang

Bagian batang terdiri dari segmen segmen. Setiap segmen terdiri dari node dan internode. Node adalah tempat dimana daun tumbuh dan tempat dimana tunas dan akar primordial tumbuh. Internode adalah bagian diantara node. Semakin muda, bagian node akan semakin panjang.

4. Lahan Tanam

4.1. Iklim

Hujan yang merata diperlukan setelah tanaman berumur 8 bulan dan kebutuhan ini berkurang sampai menjelang panen.Tanaman tumbuh baik pada daerah beriklim panas dan lembab.Kelembaban yang baik untuk pertumbuhan tanaman in i> 70%.

Suhu udara berkisar antara 28-34 derajat C.

4.2. Media Tanam

Tanah yang terbaik adalah tanah subur dan cukup air tetapi tidak tergenang.Jikaditanam di tanah sawah denga nirigasi pengairan mudah diatur tetapi jikaditanam di ladang/tanah kering yang tadah hujan penanaman harus dilakukan di musim hujan.

4.3 Irigasi

Sebagai tanaman asli (origin plant) dari daerah tropika basah, tebu digolongkan ke dalam tanaman yang memerlukan air dalam jumlah banyak namun peka terhadap kondisi lingkungan tumbuh yang berdrainase jelek. Tanaman ini relatif toleran terhadap cekaman air (water stress) sehingga pada daerah dengan curah hujan sekitar 1000 mm/th tebu masih mampu bertahan.

Selain masa tanam yang tepat dan tercukupinya makanan, faktor lain yang menjamin keberhasilan budidaya tebu yaitu air dapat dikendalikan. Dalam arti bila terjadi defisit air tanaman tebu dapat diberi tambahan air pengairan, demikian sebaliknya apabila terjadi kelebihan air dapat dipatus. Hasil penelitian menunjukkan untuk menghasilkan 1 kg tebu atau setara dengan 0,1 kg gula diperlukan sekitar 100 kg air; sedangkan untuk memproduksi 1 g berat tebu (segar), 1 g berat kering dan 1 g gula, diperlukan air berturut-turut sebesar 50 – 60, 135 – 150, dan 1000 – 2000 g air. Jumlah kebutuhan air sejalan dengan umur tanaman tebu sangat bervariasi tergantung pada fase pertumbuhan dan lingkungan tumbuhnya (agroekologi). Secara garis besar fase pertumbuhan tebu dibagi menjadi 4, yaitu: (1) perkecambahan (0 – 5 minggu), (2) pertunasan (5 minggu – 3,5 bulan), (3) pertumbuhan cepat (3,5 – 9 bulan), dan (4) pamasakan batang (~ 9 bulan). Puncakkebutuhan air pada tanamantebuterjadi pada fase pertumbuhancepat, yaitumencapai 0,75 – 0,85 cm air / hari.

Irigasi bertujuan untuk memberi suplai air bagi tanaman, merangsang pertumbuhan tunas tanaman, dan meningkatkan kelembaban areal. Irigasi yang dilakukan yaitu irigasi terbuka pada saat sebelum bibit di-cover dan irigasi tertutup pada saat bibit sudah di-cover dengan lama irigasi 2 jam per perlakuan. Alat yang digunakan untuk irigasi berupa big gun sprinkler. Biasanya irigasi dilakukan sebelum covering setelah bibit dicacah, hal ini dilakukan agar tanah yang digunakan untuk menutup bibit tetap lembab, dan ini diharapkan mampu menjaga kelembapan untuk bibit sehingga dapat memacu perkecambahan tunas dengan baik.

4.3. KetinggianTempat

Ketinggian tempat yang baik untuk pertumbuhan tebu adalah 5-500 m dpl.

5. Pembibitan

5.1 Pembibitan Pucuk

Bibit pucuk Bibit diambil dari bagian pucuk tebu yang akan digiling berumur 12 bulan. Jumlah mata (bakal tunas baru) yang diambil 2-3 sepanjang 20 cm. Daun kering yang membungkus batang tidak dibuang agar melindungi mata tebu. Biaya bibit lebih murah karena tidak memerlukan pembibitan, bibit mudah diangkut karena tidak mudah rusak, pertumbuhan bibit pucuk tidak memerlukan banyak air. Penggunaan bibit pucuk hanya dapat dilakukan jika kebun telah berporduksi.

5.2 Pembibitan Batang

Muda Bibit batang muda Dikenal pula dengan nama bibit mentah / bibit krecekan. Berasal dari tanaman berumur 5-7 bulan. Seluruh batang tebu dapat diambil dan dijadikan 3 stek. Setiap stek terdiri atas 2-3 mata tunas. Untuk mendapatkan bibit, tanaman dipotong, daun pembungkus batang tidak dibuang. 1 hektar tanaman kebun bibit bagal dapat menghasilkan bibit untuk keperluan 10 hektar.

5.3 Pembibitan Rayungan

Bibit rayungan (1 atau 2 tunas) Bibit diambil dari tanaman tebu khusus untuk pembibitan berupa stek yang tumbuh tunasnya tetapi akar belum keluar. Bibit ini dibuat dengan cara:

1. Melepas daun-daun agar pertumbuhan mata tunas tidak terhambat.

2. Batang tanaman tebu dipangkas 1 bulan sebelum bibit rayungan dipakai.

3. Tanaman tebu dipupuk sebanyak 50 kg/ha Bibit ini memerlukan banyak air dan pertumbuhannya lebih cepat daripada bibit bagal. 1 hektar tanaman kebun bibit rayungan dapat menghasilkan bibit untuk 10 hektar areal tebu.

Kelemahan bibit rayungan adalah tunas sering rusak pada waktu pengangkutan dan tidak dapat disimpan lama seperti halnya bibit bagal.

5.4 Pembibiyan Siwilan

Bibit siwilan Bibit ini diambil dari tunas-tunas baru dari tanaman yang pucuknya sudah mati. Perawatan bibit siwilan sama dengan bibit rayungan.

6. Penanaman

6.1 Penentuan Pola Tanam

Umumnya tebu ditanam pada pola monokultur pada bulan Juni-Agustus (di tanah berpengairan) atau pada akhir musim hujan (di tanah tegalan/sawah tadah hujan).Terdapat dua cara bertanam tebu yaitu dalam aluran dan pada lubang tanam. Pada carapertama bibit diletakkan sepanjang aluran, ditutup tanah setebal 2-3 cm dan disiram. Cara ini banyak dilakukan dikebun Reynoso. Cara kedua bibit diletakan melintang sepanjang solokan penanaman dengan jarak 30-40 cm. Pada kedua cara di atas bibit tebu diletakkan dengan cara direbahkan.Bibit yang diperlukan dalam 1 ha adalah 20.000 bibit.

6.2 Cara Penanaman

Sebelum tanam, tanah disiram agar bibit bisa melekat ke tanah.Bibit stek (potongan tebu) ditanam berimpitan secara memanjang agar jumlah anakan yang dihasilkan banyak. Dibutuhkan 70.000 bibit stek/ha.Untuk bibit bagal/generasi, tanah digaris dengan kedalaman 5-10 cm, bibit dimasukkan ke dalamnya dengan mata menghadap ke samping lalu bibit ditimbun dengan tanah.

Untuk bibit rayungan bermata satu, bibit dipendam dan tunasnya dihadapkan ke samping dengan kemiringan 45 derajat, sedangkan untuk rayungan bermata dua bibit dipendam dan tunasnya dihadapkan ke samping dengan kedalaman 1 cm.Satu hari setelah tanam lakukan penyiraman jika tidak turun hujan. Penyiraman ini tidak boleh terlambat tetapi juga tidak boleh terlalu banyak.

6.3 Pemeliharaan Tanaman Tebu

6.3.1. Penjarangan dan Penyulaman

Sulaman pertama untuk tanaman yang berasal dari bibit rayungan bermata satu dilakukan 5-7 hari setelah tanam. Bibit rayungan sulaman disiapkan di dekat tanaman yang diragukan pertumbuhannya. Setelah itu tanaman disiram. Penyulaman kedua dilakukan 3-4 minggu setelah penyulaman pertama.

Sulaman untuk tanaman yang berasal dari bibit rayungan bermata dua dilakukan tiga minggu setelah tanam (tanaman berdaun 3-4 helai). Sulaman diambil dari persediaan bibit dengan cara membongkar tanaman beserta akar dan tanah padat di sekitarnya. Bibit yang mati dicabut, lubang diisi tanah gembur kering yang diambil dari guludan, tanah disirami dan bibit ditanam dan akhirnya ditimbun tanah. Tanah disiram lagi dan dipadatkan.

Sulaman untuk tanaman yang berasal dari bibit pucuk. Penyulaman pertama dilakukan pada minggu ke 3. Penyulaman kedua dilakukan bersamaan dengan pemupukan dan penyiraman ke dua yaitu 1,5 bulan setelah tanam.

Penyulaman ekstra dilakukan jika perlu beberapa hari sebelum pembumbunan ke 6. Adanya penyulaman ekstra menunjukkan cara penanaman yang kurang baik.

Penyulaman bongkaran. Hanya boleh dilakukan jika ada bencana alam atau serangan penyakit yang menyebabkan 50% tanaman mati.

Tanaman sehat yang sudah besar dibongkar dengan hati-hati dan dipakai menyulan tanaman mati. Kurangi daun-daun tanaman sulaman agar penguapan tidak terlalu banyak dan beri pupuk 100-200 Kg/ha.

6.3.2. Penyiangan

Penyiangan gulma dilakukan bersamaan dengan saat pembubunan tanah dan dilakukan beberapa kali tergantung dari pertumbuhan gulma. Pemberantasan gulma dengan herbisida di kebun dilaksanakan pada bulan Agustus sampai November dengan campuran 2-4 Kg Gesapas 80 dan 3-4 Kg Hedanol power.

6.3.3. Pembubunan

Sebelum pembubunan tanah harus disirami sampai jenuh agar struktur tanah tidak rusak. Pembumbunan pertama dilakukan pada waktu umur 3-4 minggu. Tebal bumbunan tidak boleh lebih dari 5-8 cm secara merata. Ruas bibit harus tertimbun tanah agar tidak cepat mengering.Pembumbun ke dua dilakukan pada waktu umur 2 bulan.Pembumbuna ke tiga dilakukan pada waktu umur 3 bulan.

6.3.4. Perempalan

Daun-daun kering harus dilepaskan sehingga ruas-ruas tebu bersih dari daun tebu kering dan menghindari kebakaran. Bersamaan dengan pelepasan daun kering, anakan tebu yang tidak tumbuh baik dibuang. Perempalan pertama dilakukan pada saat 4 bulan setelah tanam dan yang kedua ketika tebu berumur 6-7 bulan.

6.3.5. Pemupukan

Pemupukan dilakukan dua kali yaitu (1) saat tanam atau sampai 7 hari setelah tanam dengan dosis 7 gram urea, 8 gram TSP dan 35 gram KCl per tanaman (120 kg urea, 160 kg TSP dan 300 kg KCl/ha).dan (2) pada 30 hari setelah pemupukan ke satu dengan 10 gram urea per tanaman atau 200 kg urea per hektar.

Pupuk diletakkan di lubang pupuk (dibuat dengan tugal) sejauh 7-10 cm dari bibit dan ditimbun tanah. Setelah pemupukan semua petak segera disiram supaya pupuk tidak keluar dari daerah perakaran tebu. Pemupukan dan penyiraman harus selesai dalam satu hari.

Agar rendeman tebu tinggi, digunakan zat pengatur tumbuh seperti Cytozyme (1 liter/ha) yang diberikan dua kali pada 45 dan 75 hst.

6.4.6. Pengairan dan Penyiraman

Air dari bendungan dialirkan melalui saluran penanaman.Penyiraman lubang tanam ketika tebu masih muda. Waktu tanaman berumur 3 bulan, dilakukan pengairan lagi melalui saluran-saluran kebun.Air siraman diambil dari saluran pengairan dan disiramkan ke tanaman.Membendung got-got sehingga air mengalir ke lubang tanam.

Pengairan dilakukan pada saat:

a) Waktu tanam

b) Tanaman berada pada fase pertumbuhan vegetatif

c) Pematangan.

7. Fase Pertumbuhan Tanaman Tebu

Pertumbuhan tanaman tebu terdiri dari 5 fase, yaitu :

7.1. Fase Perkecambahan

Pada fase ini menunjukkan adanya pertumbuhan perkecambahan dari mata tunas tebu. Fase ini berjalan pada 0- 5 minggu.

7.2. Fase Pertunasan

Pada fase ini terjadi pertumbuhan anakan tunas dari batang tebu hingga membentuk rumpun tebu. Fase ini berlangsung pada 5 minggu – 3 bulan.

7.3. Fase Pertumbuhan /Pemanjangan Batang

Pada fase ini terjadi pengembangan tajuk daun, akar, pemanjangan batang, pembentukan biomasa pada batang dan peningkatan fotosintesis. Proses yang paling dominan adalah proses pemanjangan batang. Pembentukan ruas tebu sekitar 3 – 4 ruas per bulan selama fase ini dan akan menurun dengan bertambahnya umur (tua). Fase ini berlangsung pada 3 – 9 bulan.

7.4. Fase Kemasakan

Pada fase ini berlangsung proses pengisian batang-batang tebu dengan gula (sukrosa) hasil proses fotosintesis tanaman. Proses kemasakan berjalan dari ruas bawah ke atas. Pada tebu muda kadar sucrose (C12H22O11) pada pangkal batang di atas tanah lebih tinggi dibanding bagian lainnya. Fase ini dapat berlangsung pada umur 9 – 12 bulan.

7.5. Fase Kematian

Pada fase ini tanaman tebu mulai mati setelah melalui kemasakan optimum hingga kembali menurun kadar gulanya.

8. Pemanenan

CiridanUmurPanenUmurpanentergantungdarijenistebu:

a) Varitas genjah masak optimal pada< 12 bulan b) Varitas sedang masak optimal pada 12-14 bulan c) Varitas dalam masak optimal pada> 14 bulan.

Panen dilakukan pada bulan Agustus pada saat rendeman (persentase gula tebu) maksimal dicapai.

8.1 Cara Panen

Mencangkul tanah di sekitar rumpun tebu sedalam 20 cm. Pangkal tebu dipotong dengan arit jika tanaman akan ditumbuhkan kembali. Batang dipotong dengan menyisakan 3 buku dari pangkal batang.Mencabut batang tebu sampai ke akarnya jika kebun akan dibongkar. Potong akar batang dan 3 buku dari permukaan pangkal batang.Pucuk dibuang. Batang tebudiikat menjadi satu (30-50 batang/ikatan) untuk dibawa kepabrik untuk segera digiling Panen dilakukan satu kali di akhir musim tanam.

8.2.Pascapanen

Pengumpulan Hasil tanam dari lahan panen dikumpulkan dengan cara diikat untuk dibawa kepengolahan. Penyortiran dan Penggolongan Syarat batang tebu siap giling supaya rendeman berkualitas baik. Ciri ciri kualitas rendeman yang baik adalah :

a) Tidak mengandung pucuk tebu

b) Bersih dari daduk-daduk (pelepah daun yang mengering)

c) Berumur maksimum 36 jam setelah tebang.

10. Sentra Produksi Tebu

10.1 . Luas Area perkebunan

Pada 10 tahun terakhir, perkebunan tebu di Indonesia telah perkembang 3.75% per tahun dari 340.000 hektar pada tahun 2000 menjadi 473.000 hektar pada tahun 2009 dengan produksi mencapai 2.85 juta ton. Produktivitas 5,1 ton per hektar.

Pada tahun 2010, pengembangan lahan perkebunan akan di tambah 150.000 hektar di khususnya di Jawa dan Lampung sebagai pusat penanaman serta daerah lain seperti Riau, Sumatra Selatan, Sulawesi Tengah, dan Papua.

10.2 . Kepemilikan Lahan

Pada tahun 2009, smallholder plantation atau sering di sebut perkebunan rakyat menguasai 57,6% atau 255.000 hektar dari jumlah total luas perkebunan 443.000 hektar di Indonesia. Kemudian disusul oleh perkebunan swasta dan pemerintah masing-masing 24,4% dan 18%.

No Jenis Perkebunan Jumlah Dalam Hektare Jumlah Dalam %

1 Perkebunan rakyat 255.513 hektar 57,6%

2 Perkebunan swasta 108.450 hektar 24,4 %

3 Perkebunan pemerintah 80. 069 hektar 18 %

Sebelum tahun 2000-an, perkebunan Tebu di Indonesia di dominasi oleh perkebunan pemerintah. Sektor swasta kemudian tumbuh lebih cepat dan mengambil alih peran dalam perkebunan tebu di Indonesia. PT Sugar Group Companies adalah perkebunan gula swasta terbesar diIndonesia, dengan luas perkebunan mencapai 94.000 hektar. Perusahaan swasta besar lainnya adalah PT. Kebon Agung dan PT. Gunung Madu yang memiliki perkebunan di daerah Lampung dan Jawa.

10.2.1 Profil Perusahaan dan Sentra Produksi

10.2.1.1 PT. Sugar Group Companies (SGS)

SGS memiliki 3 sentra produksi pabrik, yaitu PT Gula Putih Mataram, PT Sweet Indo Lampung, dan PT Indo Lampung Perkasa. Tiga perusahaan ini memproduksi produk gula terkenal di Indonesia yaitu Gulaku. Total wilayah perkebunannya adalah 94.000 hektar yang bertempat di Lampung.

10.2.1.2 PT. Perkebunan Nusantara XI (PTPN XI)

PTPN XI didirikan pada tahun 1996 melalui penggabungan PTP XX dan PTP XXIV-XXV. PTPN XI melaksanakan perkebunan dan pabrik di daerah Jawa Timur. Perkebunan gula yang dimiliki beradapada daerah lahan tanam padi, lahan keringdengan total 69.516 hektar. PTPN XI menghasilkan produk olahan berupa gula murni, molase, alkohol dan spirit.

10.3 Lokasi Perkebunan Tebu di Indonesia

Berdasarkan data yang diperoleh, perkebunan gula di Indonesia hanya terdapat di 9 provinsi, meliputi Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. Pada tahun 2008, Jawa memiliki total wilayah perkebunan terluasyaitu 301.343 hektar atau 65,5% dari total luas area perkebunan tebu nasional. Didaerah jawa, provinsi Jawa Timur memiliki area perkebunan terbesar dengan total 213.914 hektar diikuti oleh provinsi Jawa Tengah dengan luar area 60.616 hektar. Sumatra memiliki luas perkebunan 141.228 hektar (30.7%). Hampir semua wilayah perkebunan berada didaerah Lampung dan kemudian di ikuti oleh provinsi Sumatra Selatan. Sulawesi hanya memiliki 17.835 hektar atau 3,8% dari total perkebunan secara nasional. Gorontalo 5.000 hektar dan Sulawesi Selatan 12.760 hektar.

No Wilayah Provinsi Luas Area (hektar)

1 Jawa Timur 213.914

2 Jawa Tengah 60.616

3 Lampung 116.360

4 Sumatra Selatan 12.502

5 Gorontalo 5.075

6 Sulawesi Selatan 12.760

10.4 . Daerah Potensi Sentra Produksi

Papua Selatan sangat baik dijadikan sentra produksi tebu. Sebagian dari produksi gula Papua Selatan akan di ekspor ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Eropa dan Korea selatan.

11. Cara Pengolahan Tebu Manfaat

Tebu dapat dipanen dengan cara manual atau menggunakan mesin-mesin pemotong tebu. Daun kemudian dipisahkan dari batang tebu, kemudian baru dibawa kepabrik untuk diproses menjadi gula. Tahapan-tahapan dalam proses pembuatan gula dimulai dari penanaman tebu, proses ektrasi, pembersihan kotoran, penguapan, kritalisasi, afinasi, karbonasi, penghilangan warna, dan sampai proses pengepakan sehingga sampai ketangan konsumen.

11.1. Pengolahan Tebu

11.1.1. Ekstraksi

Tahap pertama pembuatan gula tebu adalah ekstraksi jus atau sari tebu. Caranya dengan menghancurkan tebu dengan mesin penggiling untuk memisahkan ampas tebu dengan cairannya. Cairan tebu kemudian dipanaskan dengan boiler.

11.1.2. Pengendapan kotoran dengan kapur (Liming)

Jus tebu dibersihkan dengan menggunakan semacam kapur (slaked lime) yang akan mengendapkan sebanyak mungkin kotoran , kemudian kotoran ini dapat dikirim kembali ke lahan. Proses ini dinamakan liming.

11.1.3. Penguapan (Evaporasi)

Setelah mengalami proses liming, proses evaporasi dilakukan untuk mengentalkan jus menjadi sirup dengan cara menguapkan air menggunakan uap panas (steam). Terkadang sirup dibersihkan lagi tetapi lebih sering langsung menuju ke tahap pembuatan kristal tanpa adanya pembersihan lagi.

11.1.4. Pendidihan/ Kristalisasi

Pada tahap akhir pengolahan, sirup ditempatkan ke dalam wadah yang sangat besar untuk dididihkan. Di dalam wadah ini air diuapkan sehingga kondisi untuk pertumbuhan kristal gula tercapai. Pembentukan kristal diawali dengan mencampurkan sejumlah kristal ke dalam sirup. Sekali kristal terbentuk, kristal campur yang dihasilkan dan larutan induk (mother liquor) diputar di dalam alat sentrifugasi untuk memisahkan keduanya, bisa diumpamakan seperti pada proses mencuci dengan menggunakan pengering berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas sebelum disimpan.

11.1.5. Penyimpanan

Gula kasar yang dihasilkan akan membentuk gunungan coklat lengket selama penyimpanan dan terlihat lebih menyerupai gula coklat lunak yang sering dijumpai di dapur-dapur rumah tangga. Gula ini sebenarnya sudah dapat digunakan, tetapi karena kotor dalam penyimpanan dan memiliki rasa yang berbeda maka gula ini biasanya tidak diinginkan orang.

11.1.6. Afinasi (Affination)

Tahap pertama pemurnian gula yang masih kasar adalah pelunakan dan pembersihan lapisan cairan induk yang melapisi permukaan kristal dengan proses yang dinamakan dengan “afinasi”. Gula kasar dicampur dengan sirup kental (konsentrat) hangat dengan kemurnian sedikit lebih tinggi dibandingkan lapisan sirup sehingga tidak akan melarutkan kristal, tetapi hanya sekeliling cairan (coklat). Campuran hasil (‘magma’) di-sentrifugasi untuk memisahkan kristal dari sirup sehingga kotoran dapat dipisahkan dari gula dan dihasilkan kristal yang siap untuk dilarutkan sebelum proses karbonatasi.

11.1.7. Karbonatasi

Tahap pengolahan cairan (liquor) gula berikutnya bertujuan untuk membersihkan cairan dari berbagai padatan yang menyebabkan cairan gula keruh. Pada tahap ini beberapa komponen warna juga akan ikut hilang. Selain karbonatasi, t eknik yang lain berupa fosfatasi. Secara kimiawi teknik ini sama dengan karbonatasi tetapi yang terjadi adalah pembentukan fosfat dan bukan karbonat. Fosfatasi merupakan proses yang sedikit lebih kompleks, dan dapat dicapai dengan menambahkan asam fosfat ke cairan setelah liming seperti yang sudah dijelaskan di atas.

11.1.8. Penghilangan warna

Ada dua metoda umum untuk menghilangkan warna dari sirup gula, keduanya mengandalkan pada teknik penyerapan melalui pemompaan cairan melalui kolom-kolom medium. Salah satunya dengan menggunakan karbon teraktivasi granular [granular activated carbon, GAC] yang mampu menghilangkan hampir seluruh zat warna. GAC merupakan cara modern setingkat “bone char”, sebuah granula karbon yang terbuat dari tulang-tulang hewan. Karbon pada saat ini terbuat dari pengolahan karbon mineral yang diolah secara khusus untuk menghasilkan granula yang tidak hanya sangat aktif tetapi juga sangat kuat. Karbon dibuat dalam sebuah oven panas dimana warna akan terbakar keluar dari karbon.

Cara yang lain adalah dengan menggunakan resin penukar ion yang menghilangkan lebih sedikit warna daripada GAC tetapi juga menghilangkan beberapa garam yang ada. Resin dibuat secara kimiawi yang meningkatkan jumlah cairan yang tidak diharapkan.

11.1.9. Pendidihan

Sejumlah air diuapkan di dalam panci sampai pada keadaan yang tepat untuk tumbuhnya kristal gula. Proses ini dapat diumpamakan dengan tahap pengeringan pakaian dalam mesin cuci yang berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas sebelum dikemas dan/ atau disimpan siap untuk didistribusikan.

11.2. Ampas Tebu dan Produk Turunan

Tebu digiling kemudian diekstrak niranya, hasil samping dari proses giling ini adalah ampas tebu. Rata – rata ampas yang diperoleh dari proses giling 32 % tebu. Dengan produksi tebu di Indonesia pada tahun 2007 sebesar 21 juta ton potensi ampas yang dihasilkan sekitar 6 juta ton ampas per tahun. Selama ini ampas hanya digunakan sebagai bahan bakar boiler. Apabila Pabrik gula dapat efisien dalam penggunaan bahan bakar maka ada potensi ampas lebih. Potensi ampas yang berlebih dapat dimanfaatkan untuk diproses sebagai produk turunan. Ampas dapat diproses menjadi produk antara lain :

• Partikel Board

Ampas dapat digunakan sebagai papan, antara lain papan insulasi, papan keras, partikel board dll. Sebelum diproses menjadi papan, ampas dari gilingan disimpan di gudang besar. Partikel board dibuat dari bagian kecil lignocellulostic dengan menambah adhesive organik dengan cara ditekan dan dipanaskan. Ada tiga tahap proses yaitu multiplaten hot press process, proses extrusi, dan continuous pressing. Untuk papan yang keras ditambahkan dengan vinyl chloride – vinyl asetat, methyl methacrylate, styrene atau methyl methacrylate polimer. Dengan komposisi polimer sebesar 40 % akan lebih kuat, dan kemampuan menyerap air turun dari 180 % menjadi lebih rendah dari 20 %.

• Plastik

Ada beberapa proses yang menggunakan ampas sebagai bahan baku plastik. Komposisi utama ampas yang berperan pada proses pembuatan plastik adalah lignin, setelah serabut selulosa dihilangkan. Akan tetapi kelemahan plastik dari ampas adalah warnanya gelap, sehinga kurang kompetitif untuk bersaing dengan jenis plastik yang lain.

• Pith

Ampas mengandung 30 % pith, yang mempunyai densitas 120 – 200 kg/m3, kadar air 45 – 55 %, kadar sabut 46 – 56 % dan komponen lain 2 – 4 %. Dari hasil analisa kimia kandungannya adalah karbon 45 %, oxygen 38 %, hydrogen 6 %, abu 10 %, dan nitrogen, sulfur, chloride sebesar 1 %. Nilai kalor dari pith sebesar 4600 Kcal/kg sampai 4250 kcal/kg. Pith yang dipisahkan dari ampas untuk membuat pulp dapat digunakan sebagai bahan bakar boiler.

• Xylitol

Ampas tebu mengandung 30 % pentosan. Dengan menggunakan asam, sekitar 13 % zat kering dapat diekstrak menjadi xylose (C5H10O5). Xylose adalah pentosa dan biasa disebut “gula kayu”. Xylitol (C5H12O5) atau xylite adalah sebuah alcohol pentahidrat tuunan dari xylosa. Xylose digunakan sebagai pemanis dan rasanya hampir menyamai sukrosa, dan mempunyai efek dingin pada lidah. 1 gram xylitol mengandung 4.06 kcal, hampir sama dengan karbohidrat. Xylitol tidak karsiogenik karena diuraikan oleh bakteri (streptococci) yang terdapat dalam mulut. Reaksi proses pembuatan xylitol dari ampas tebu sebagai berikut :

• Furfural

Pembuatan furfural dari ampas merupakan salah satu obyek yang banyak diteliti. Beberapa pabrik gula di China telah memproduksi furfural dari ampas tebu. Furfural dapat diperolah dari tumbuh-tumbuhan yang mengandung pentosan. Kandungan pentosan pada ampas tebu lebih tinggi daripada kayu keras maupun lunak, lebih dari 90 % dalam bentuk xylan. Dengan hidrolisis asam, xylan menghasilkan xylose, lalu diproses menjadi furfural dengan menghilangan 3 molekul air. Reaksi pembuatan furfural dari ampas tebu sebagai berikut :

Yield furfural dari ampas tebu sekitar 9 – 10 %. Dengan menggunakan asam sulfat selain dapat diproduksi furfural juga dapat menghasilkan asam levulinic, gambar 1. Yield yang dapat dihasilkan sekitar 25 %, dimana efisiensi konversinya 56 %.Dengan menggunakan uap dan mendistilasi uap air nya, dari 14 ton ampas kering dapat dihasilkan : 1 ton furfural, 500 unit asam asetat, 20 unit alkohol dan 95 % dari sabut diproses kembali sebagai bahan bakar boiler. Furfural juga dapat diproduksi dari daun tebu.

• Kertas Waterproof

Selama ini sisa ampas batang tebu di Indonesia hanya dijadikan bahan bakar pabrik gula. Tapi sekarang ada teknologi menjadikan ampas tebu tadi bahan baku membuat kertas waterproof yang setelah tidak berguna dapat hancur melalui proses pembusukan.

Penemuan ini terjadi baru-baru ini di Australia. Melalui proses bio-engineering selulosa pada ampas tebu disulap menjadi kertas dan karton waterproof. Kalau sudah tak terpakai, tidak perlu dimasukkan ke incinerator cukup dibawa ke tempat pembuangan sampah biasa nanti akan hancur dengan sendirinya dimakan bakteri. Atau sampahnya didaur ulang kembali menjadi kertas dan karton waterproof. Sekarang karton yang dipakai perusahaan movers dilapisi dengan lilin berbasis produk minyak atau berlapis plastik sehingga karton tidak dapat didaur ulang. Selama ini berapa ribu ton ampas tebu kita bakar begitu saja yang hanya menambah pencemaran udara. Padahal dari ampas tebu kita dapat membuat karton waterproof yang sangat kita perlukan untuk industri packaging yang punya nilai komersial tinggi.

Kegiatan ini memerlukan sinergi antara perkebunan tebu – pabrik gula – pabrik kertas untuk menghasilkan karton kemasan dan kertas waterproof terbikin dari limbah bahan nabati yang sepenuhnya dapat didaur ulang serta ramah lingkungan.

12. Masalah

12.1. Limbah Pabrik Gula

• Pucuk Tebu

Pucuk tebu adalah ujung atas batang tebu berikut 5-7 helai daun yang dipotong dari tebu giling ataupun bibit. Diperkirakan dari 100 ton tebu dapat diperoleh sekitar 14 ton pucuk tebu segar. Pucuk tebu segar maupun dalam bentuk awetan, sebagai silase atau jerami dapat menggantikan rumput gajah yang merupakan pakan ternak yang sudah umum digunakan di Indonesia.

• Ampas Tebu

Tebu diekstrak di stasiun gilingan menghasilkan nira dan bahan bersabut yang disebut ampas. Ampas terdiri dari air, sabut dan padatan terlarut. Komposisi ampas rata-rata terdiri dari kadar air : 46 – 52 %; Sabut 43 – 52 %; padatan terlarut 2 – 6 %. Umumnya ampas tebu digunakan sebagai bahan bakar ketel (boiler) untuk pemenuhan kebutuhan energi pabrik. Pabrik gula yang efisien dapat mencukupi kebutuhan bahan bakar boilernya dari ampas, bahkan berlebih. Ampas yang berlebih dapat dimanfaatkan untuk pembuatan briket, partikel board, bahan baku pulp dan bahan kimia seperti furfural, xylitol, methanol, metana, dll.

• Blotong

Pada proses pemurnian nira yang diendapkan di clarifier akan menghasilkan nira kotor yang kemudian diolah di rotary vacuum filter. Di alat ini akan dihasilkan nira tapis dan endapan yang biasanya disebut “blotong” (filter cake). Blotong dari PG Sulfitasi rata-rata berkadar air 67 %, kadar pol 3 %, sedangkan dari PG. Karbonatasi kadar airnya 53 % dan kadar pol 2 %. Blotong dapat dimanfaatkan antara lain untuk pakan ternak, pupuk dan pabrik wax. Penggunaan yang paling menguntungkan saat ini adalah sebagai pupuk di lahan tebu.

• Tetes

Tetes (molasses) adalah sisa sirup terakhir dari masakan (massecuite) yang telah dipisahkan gulanya melalui kristalisasi berulangkali sehingga tak mungkin lagi menghasilkan gula dengan kristalisasi konvensional. Penggunaan tetes antara lain sebagai pupuk dan pakan ternak dan pupuk. Selain itu juga sebagai bahan baku fermentasi yang dapat menghasilkan etanol, asam asetat, asam sitrat, MSG, asam laktat dll.

• Asap

Telah disebutkan di atas hasil sampingan (limbah) pabrik gula cukup beragam. Agar limbah ini tidak menjadi masalah bagi lingkungan sekitar, maka diperlukan suatu pengelolaan terhadap limbah tersebut. Cara- cara yang bisa digunakan dalm pengolahan limbah yaitu menetralkan limbah sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan , dan dengan merubah limbah menjadi barang lain yang lebih bernilai tinggi.

Posted on Oktober 8, 2011, in Agriculture and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: