GURU YANG RIDAK BERBUDI PEKERTI


GURU TANPA BUDIPEKERTI

PROPORSI DALAM MENDIDIK DAN MENGAJAR

 Salah satu guru kesenian saya pernah berkata, tugas guru adalah mendidik dan mengajar peserta didik. Secara tersirat beliau mengatakan, proporsi guru dalam mendidik murid adalah lebih besar dari pada proporsi kewajiban guru dalam mengajar. Mendidik lebih dari sekedar mengajar, mendidik berarti  memelihara, merawat dan memberi latihan agar seseorang memiliki pengertian tentang akal budi dan sopan santun sesuai norma, sedangkan mengajar hanya berbentuk penyampaian ilmu secara tersurat kepada peserta didik.

Apa yang dikatakan beliau benar adanya. Disatu sisi memang terlihat bahwa ilmu formal yang disampaikan guru adalah hal terpenting, tapi memberi nasihat dan pengertian tentang akal budi, bukan hanya sekedar akal, namun juga berbudi pekerti jauh terlihat lebih penting.

GURU = HITLER DALAM SETIAP SUDUT KELAS

 Hanya saja permasalahan nyata yang dihadapi disetiap sudut pendidikan sekilas sama,  yaitu anggapan ego personal seorang guru yang menganggap dirinya adalah tokoh otoritas tertingggi dikelas dengan peserta  didik sebagai “anak-buahnya”. Anggapan egois dari seorang –atau mungkin hampir semua guru ini yang menyebabkan sering  terjadi pelanggaran “kecil” seorang guru pada muridnya.

PENYELEWENGAN GURU SERING TERJADI PADA PESERTA DIDIK DIBAWAH UMUR 17 TAHUN.

 Artikel ini berdasarkan kisah nyata yang dialami oleh adik kandung saya –dan mungkin saya dan juga anda pernah mengalami atau menyaksikan penyimpangan yang dilakukan guru, namun sialnya kita sudah menganggap hal seperti itu wajar adanya. Pagi tadi adik saya yang masih duduk dibangku SMP bercerita, kalau salah seorang guru merampas  sepatu siswa yang terlihat menggunakan kombinasi selain hitam saat proses belajar mengajar berlangsung merampas. Memang menggunakan sepatu berwarna selain hitam dilarang, namun adalah wajar jika sepatu berwarna hitam memiliki  sudut sepatu berwarna berlainan, karena tidak ada sepatu yang hitam polos kecuali sepatu paskibra atau sepatu yang biasa dipakai bisnisman untuk pergi ke kantor.

SIALNYA, BANYAK GURU KONO YANG MASIH PUNYA IZIN MENGAJAR

Sepenggal cerita nyata yang di paparkan adik saya tadi adalah sepenggal cerita penyelewengan yang telah dianggap wajar oleh siswa –dan parahnya lagi oleh guru itu sendiri. Masing banyak lagi hal serupa yang sering dilakukan oleh seorang guru kepada murid-muridnya. Hal-hal yang dianggap efektif dan merepresentasi guru sebagai penguasa dan otoritas tunggal didalam kelas. Mungkin terlihat wajar jika Hal seperti itu dilakukan ketika kita masih hidup di zaman Jepang atau zaman orde baru, namun sebenarnya bukan merupakan cara efektif dan etis dalam mendidik di zaman milenium ke dua ini.

GURU YANG  BERBUDI PEKERTI

Ketika zaman sudah berubah, maka seorang guru harus juga ikut berubah. Mereka harus menyadari bahwa memaksakan pola otoriter dan kuno dalam mendidik peserta didik adalah hal yang fatal. Karena sikap otoriter bisa diterapkan hanya dizaman ketika sistem kolonial masih membayangi setiap jiwa manusia. Ketika sistem kekerasan fisik zaman kolonial masih menjadi kegiatan turun temurun dan secara tidak langsung juga merembet ke dunia pendidikan.

Namun sekarang kondisinya sudah berbeda. Negara kita sudah merdeka. Seorang guru yang berpendidikan pasti tidak akan bersikap otoriter dan mewarisi peserta didiknya menggunakan ilmu dengan jalan kekerasan fisik. bukan kah lebih baik jika guru bertindak dan mengajar atas  nama budi pekerti,tidak menggunakan kekerasan dan sikap sewenang wenang pada muridnya.

….Karena jika seseorang dididik dengan kebencian dan kekerasan, mereka akan menjadi generasi yang cinta akan kekeraan dan kebencian pula.

About @arghyand

interested in sustainable living

Posted on Agustus 16, 2011, in Education. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: