SEKOLAH PENJARA


kumpulan kata yang ditulis berdasarkan sudut pandang ku…

KALO MISKIN JANGAN SEKOLAH

Sekolah, menurut Arswendo Atmowiloto adalah sebuah penjara untuk orang miskin.

Kalo miskin, jangan sekolah,

kalo miskin jangan sakit.

Sekolah dan Rumah Sakit hanya untuk orang berduit.

Begitu kata seniman yang sekarang sering nongol di salah satu program stasiun TV swasta tersebut. Pernyataan seperti yang disampaikan Arswendo sudah jadi barang basi yg belum lekang zaman. Dari orang gak melek huruf sampai presiden negara ini, semua mengerti, kalau mau dapet ilmu harus ngeluarin uang, kalau gak ngeluarin uang, gk usah belajar. Saya sendiri paham itu. Jer basuki mawa beya..

SEKOLAH KU DAN BIAYANYA

 

Bagaimana dengan anggaran yang sudah mencapai 20% untuk alokasi dana pendidikan? Seperti dualisme kisah, disatu sisi, hal ini menguntungkan, di satu  sisi, malah bikin sakit hati. Dimulai sejak duduk di bangku SMP dan sekarang sudah mentas dari SMA, kisah dan perjalanan pendidikan saya terbilang mulus –lebih tepatnya beruntung. 6 tahun di sekolah Negeri –tidak termasuk Sekolah Dasar swasta saya yang dikelola yayasan Islam–, penulis  selalu mendapatkan sekolah yang favorit.

Kalau masalah biaya, sekolah SMP dan SMA penulis masih koperatif (bisa diajak kerjasama). Alasannya cukup sederhana,

1.       Termasuk sekolah favorit dan jadi acuan sekolah lain di Jember, jadi pengawasan sistem pendidikan, terlebih lagi sistem aliran uang, oleh masyarakat, Dinas Pendidikan Daerah, dan wali murid   lebih ketat dari sekolah lain.

2.       Para Siswa Siswinya –termasuk wali siswa, lebih kritis dalam  mengawasi, karena mayoritas wali siswa adalah orang yg berduit, berduit berarti lebih ngerti tentang hukum, sistem, dan plaksanaan pendidikan di sekolah.

Walaupun gak penah merasakan keringanan, tapi sebagian teman penulis pernah mendapatkan keringan biaya, bahkan hampir 3 tahun gk mbayar sepeser pun. Kalo sudah banyak keringanan, bagaimana bisa sekolah masih menjadi penjara untuk orang miskin? Begini ceritanya…

GURU MBALELO, FASILITAS ANCUR, MURID GAK NIAT–MAHAL PULA.. (SEKOLAH GAK NIAT)

 

                Sekolah di manapun, termasuk di Jember Tercinta ini, ada sekolah yg Favorit, ada sekolah yg gak niat. Baik guru sama muridnya, sama sama gak niat. Kalo sekolah favorit di Jember ini Cuma muridnya tok yang niat, kalo disekolah gak niat, baik guru sama muridnya sama sama gak niat. Anggap saja sekolah gak niat sebagai sekolah yang tidak favorit. Sekolah tidak favorit ini menyebar, dari kaki gunung sampai hilir kota.

Masalah yg dialami sekolah tidak favorit lebih kompleks lagi, lebih ruwet, mbulet, sehingga gak tau ujung pangkal masalah. Tapi kalau di rinci, masalah pendidikan disekolah favorit ada 3, yaitu :

1.       Kurangnya pengawasan pada sistem pendidikan yang berlangsung dari Pemerintah Daerah.

2.       Kurangnya dana pendidikan yang dialokasikan untuk sekolah yang tidak favorit. (bebeda dengan sekolah favorit yg pernah penulis tempati, yg melimpah bantuan)

3.       Sedikit sekali subjek yg peduli pada dunia pendidikan. Subjek yg biasanya nirlaba ini sebenarnya berperan penting sebagai kepanjangan tangan pemerintah daerah.

KISAH NYATA :

AKIBAT MAHALNYA PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR (SD MBALELO) PUTRINYA, PEMBANTU SAYA MENGELUH.

 

                Tanggal 15 Juni , musim penerimaan raport, musim ngeluarin uang banyak untuk biaya sekolah juga. Bukan hanya biaya sekolah, tapi ajang buat sekolah mbalelo untuk malak wali murid –pembantu saya contohnya. Walaupun di kota juga ada guru,murid,dan sekolah yg mbalelo lan ra niat, tapi kalau di pinggiran kota lebih parah lagi.

Hari ini pembantu saya ngeluh, karena putrinya yang kelas 5 dibebankan uang plus sumbangan jajan untuk pepisahan siwa kelas 6. Bukan hanya itu, biaya pendidikannya pun mahal, banyak tetek bengek  uang yang  harus dibayar klo mau dapet rapot. salah satunya uang buku 1 tahun.

Tidak banyak? Bayangkan jika anda adalah seorang pembantu, dengan gaji 300 ribu perbulan? Tentu terasa berat. Memang sekolah tempat putri pembantu saya besekolah dibebaskan uang SPP, walaupun bebas uang SPP, tp gk bebas biaya lain, uang buku dan sumbangan yg lain masih tetap BERLAKU !! Parahnya lagi, pembantu saya gak ngerti apa itu BOS, dan apa itu sistem pendidikan. yang dia tau cuma satu, sekolah masih aja tetep mahal,mahal karena biaya pendidikan bersaing dengan harga untuk bertahan hidup (harga kebutuhan untuk makan).

Meskipun biaya pendidikan murah, tapi kurangnya pengawasan biaya Bantuan Operasional Sekolah dari pihak wali siswa dan pihak luar, kurangnya fasilitas dan guru yg berdedikasi, membuat sekolah  pinggiran sulit untuk dijadikan tempat merubah nasib, bagi mereka yang kurang mampu.

Bagi ku, sekolah tetap sebuah penjara..

Duduk belajar dengan fasilitas minin,

Pulang dengan otak kosong..

Dari pada sekolah gratis tapi fasilitas ancur,

Dari pada sekolah gratis tapi guru mbalelo,

Dari pada sekolah gratis tapi guru ngajar ogah-ogahan dan mikirin cara dapat uang haram..

Dari pada sekolah gratis tapi masih ada tetek bengek biaya gelap

Dari pada sekolah gratis tapi masa depan suram..

Dari pada sekolah gratis tapi ngajar ASAL ASALAN..

Lebih baik kerja, nyangkul disawah, panen jelas, gk kayak panen ilmu…

*oleh pembantu rumah ku

NB : mbalelo = gak patuh

About @arghyand

interested in sustainable living

Posted on Agustus 16, 2011, in Charity, Education. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: