DOGMA PEMBELENGGU IDENTITAS PEREMPUAN


IDE DAN PEMULAAAN

Judul tersebut diatas mememang bernada kontroversial dan diluar jangkauan berfikir khalayak umum, namun demikianlah adanya. Apa yang penulis dengar dan lihat memberikan siratan bahwa banyak peraturan yang di buat -dan cenderung terus disosialisasikan- tidak cukup akomodatif terhadap gender tertentu –dalam hal ini adalah gender  feminim (perempuan). Dan kebanyakan peratuaran yang tidak memberi keleluasaan gerak dan pengakuan individu terhadap kaum hawa itu berakar dari dogma teologis agama.

PEREMPUAN DAN KETIDAK ADILAN

Bisa dikatakan, essai atau setidaknya argumen dari penulis bukan berasal dari sumber tertentu, namun pada awalnya berawal dari penafsiran penulis terhadap fenomena yang terjadi dan berkembang secara umum di lingkungan penulis. Penulis pribadi merasa ada sesuatu hal yang salah tentang pemberlakuan peraturan terhadap gender perempuan, peraturan yang berkaitan dengan hak asasi perempuan. Sejak penulis duduk di bangku SMA, penulis mulai concern dengan pelbagai hal yang berhubungan dengan opini dan hak asasi, mengingat baik penulis pribadi maupun orang dekat penulis, secara subyekti penulis berpendapat masih sering terjadi penindasan terselebung terhadap gender perempuan, yang sudah terlanjur dianggap sebagai hal yang lumrah.

Secara terpaksa atau mungkin kaum hawa telah terlanjur menerima dan menganggap perlakuan yang diberikan sebagai sesuatu yang benar dimata mereka. Perlakuan yang di mata komunitas barat dianggap sebagai pelanggaran hak asasi, dianggap sebagai penindasan terhadap kaum perempuan, yang lebih lanjut menurut mereka secara dogmatis telah membelenggu identitas dan kharakter perempuan sebagai seorang individu.

Memang tidak bisa di pungkiri bahwa dunia ini terbagi bagi menjadi beberapa suku, bangsa, sudut pandang dan pikiran. Menurut penulis pribadi, manusia, selain sebagai social being, kita juga makhluk perspektif, makhluk sudut pandang dan subyektif, sehingga me universal kan pendapat akan sulit diterima. Sehingga bisa jadi penindasan berbentuk dogmatis terhadap gender feminim (perempuan) bisa diterima pada budaya tertentu.

DOGMA AGAMA

Dogma yang penulis maksud adalah dogma dari budaya agama penulis sendiri, atau lebih tepatnya, ajaran yang berasal dari popular religion masyarakat Indonesia, yaitu Islam. Menurut sumber yang penulis dapat, Islam sebagai agama mulai pesat bekembang di tanah Jawa sekitar abad 14, ketika para wali, pedagang dan pemikir Muslim mulai membangun peradaban dan melawan penindasan raja-raja di Jawa yang tidak pro kaum miskin –setiap ajaran agama atau kebudayaaan baru sering  muncul dikarenakan ada kesenjangan sosial antar kelompok masyarakat.   Walaupun sebelum ajaran Islam datang ke bumi Indonesia, penindasan terhadap kaum perempuan juga telah terjadi, namun yang menjadi pokok bahasan penulis disini adalah dalam konteks kekinian, ketika hampir semua sendi kehidupan dijiwai oleh budaya yang sebenarnya berasal dari barat jauh Nusantara, yaitu kebudayaan arab yang dibalut dengan konteks berfikir Islam –yang sebenanya sebagian besar secara niscaya merupakan pengejawantahan budaya arab yang lebih dihaluskan dengan tujuan awal menghormati hak individu kaum tertindas pada masa itu.

Setelah membaca sekian paragraf di atas, mungkin masih tersirat pertanyaan terhadap argumen yang penulis sampaikan. Dogma macam apa yang membelenggu perempuan? Apa benar dogma itu berasal dari budaya arab? Atau apakah agama islam mengajarkan kepada kita sesuatu hal yang demikian? Jika memang Islam adalah agama penutup, jika Muhammad adalah pembawa risalah terakhir, dan jika Islam adalah agama yang digembar-gemborkan sebagai agama yang universal, tapi mengapa ajaran dengan pemeluk sekitar 2 milyar kepala  ini masih kental dengan unsur kedaerahan yang cenderung tertutup dan konservatif dimata global.

Islam, sebagai budaya maupun agama, memang pernah merajai sepertiga kawasan dunia. Tidak kuran 10 abad sejak Islam pertama kali terbentuk sebagai kekuatan kekhalifahan politik, sosial, dan  budaya di Yastrib atau sekarang lebih dikenal sebagai Madinah yang lambat laun berkembang hingga daratan Spanyol eropa. Sebagai agama baru, Islam kala itu secara historis menjadi tempat peradaban dunia baru, menjadi tempat pencerahan bagi daerah Mediterania,sebagai platform transformasi intelektual para cendikiawan, bahkan para cendikiawan Eropa banyak mencari dan bertukar ilmu dengan para cendikiawan Muslim. Namun itu dulu, sebalum Eropa bangkit dengan era rainessance (pencerahan) di awal abad 16, sebalum ratu Elizabet dan raja Ferdinand dari Spanyol mengutus Columbus untuk mencari benua baru –yang kemudian dikenal sebagai benua Amerika.

Secara instan, sebuah peradaban yang dibangun dengan pondasi keimanan vertical kepada Sang Pencipta akhirnya benar benar runtuh, ketika Mesir jatuh ditangan Napoleon Bonaparte dari Perancis tahun 1798 M. Jatuhnya Mesir ditangan Perancis menyudutkan paadigma Umat Islam bahwa Islam masih menjadi pusat peradaban dan menyadarkan bahwa mereka telah tertinggal jauh dengan apa yang telah dicapai barat dalam hal kebudayaan.  Umat Islam telah dipaksa bahwa tedapat realitas kebudayaan lain yang telah mencapai pencerahan dan kemajuan peradaban lebih dari

apa yang Umat Islam bangun dan banggakan.

KONDISI SOSIAL MEMPENGARUHI PENAFSIRAN

Stagnasi pemikiran, ijtihad, dan penafsiran terhadap naskah kalimat Tuhan pada kalangan cendikiawan dan alim ulama menyebabkan ilmu kalam hanya berkutat pada hal-hal yang berbau tanseden-spekulatif. Penafsiran ini yang kemudian dalam perkembangannya dikenal dengan sebutan ilmu kalam, atau ilmu yang menafsirkan kalimat Tuhan. Memang secara logis sebuah penafsiran dari suatu obyek sangat dipengaruhi oleh lingkup sosio-cultural yang ada. Meminjam kalimat dari Muhammad In’am Esha, penafisran pada suatu objek dalam hal ini ilmu kalam, setidaknya dipengaruhi oleh 2 hal, yaitu sebagai berikut :

Pertama, tindakan yang dilakukan seseorang bagaimanapun sangat terkait erat dengan set of faith atau keyakinan yang dimilikinya.ilmu kalam dalam hal ini, dalam konteks ini mempunyai relasi yang sangat erat dengan pembentukan keyakinan ini. Realitas adanya wacana sosial dalam berbagai pikiran baik yang berkenaan dengan pembebasan manusia dan ketertindasan, kesetaraaan hak antara laki laki dan peremnpuan maupun pluralism keagamaanyang dibingkai dalam pemikian ilmu kalam, dihaapkan akan mampu memberikan arah dan dimensi baru dalam pemikiran dan perilaku manusia menuju perikehidupan yang lebih berperadapan dan berkeadilan. Kedua, ilmu kalam secara epistemologis berada pada tataran normative agama, tetapi akualitasnya merupakan realitas sosial-antropologis(In’am Esha 2010:14).

Mengingat bahwa pengaruh sosial-antropologis sangat mempengaruhi penafsiran dari firman Tuhan, secara niscaya, Islam, sebagai agama yang terbentuk didaerah lembah kota Mekah juga banyak dipngaruhi oleh budaya yang berkembang di semenanjung arab pada masa pra-islam.

Perkembangan pemikiran manusia dan berubahnya peradaban, secara niscaya juga menuntut adanya pembaharuan ilmu kalam dengan mengacu pada hal yang menjadi realita problematika hidup saat ini, sehingga eksistensi firman Tuhan (Al-Quran) masih masih bisa menjadi pedoman dan acuan pelbagai permasalahan vertical dan horizontal dari umat manusia. Mengiat manusia saat ini telah bergeser kearah pemikiran yang berbau humanisme, rasional, hal profan, free will (kebebasan bekehendak), dan logis, dengan mengabaikan hal yang berbau spekulatif, irrasional, dan cenderung kelangitan.

Setelah mengetahui seluk beluk ilmu kalam beserta pengertiannya yang nota bene sebagai titik acuan dalam karya essai ini, mulailah kita masuk kedalam pokok permasalahan mengenai kondisi sosial abad 20 mengenai masalah gender menyangkut kesetaraan dan hak individu kaum perempuan. Penggunaan ilmu kalam sebagai acuan dalam karta essai ini disadari penulis sangat kompeten dikarenakan fiman Tuhan (Al-Quran) sendiri telah merasuk ke sendi-sendi kehidupan umat, baik Umat Islam di Indonesia, maupun Umat Islam pada umumnya. Fokus kritik penulis yang berobjekan Islam –seperti yang telah penulis sampaikan di awal, adalah dikarenakan, lingkungan dan kondisi sosial masyarakat sekitar penulis sangat kental dengan nuansa dan adat nomatif Islam.

PENAFSIRAN KALAM SOSIAL

Abad ke 20 memang menjadi masa ideal masyarakat global untuk mengkritik dalam ketidakpuasan mereka terhadap peraturan-peraturan dogma teologis yang mengikat kehidupan manusia –dalam hal ini Umat Islam, di pelbagai tempat dimana komunitas Islam tumbuh sebagai sebuah peradaban, termasuk di timur tengah dan Indonesia.

Contoh ideal untuk melihat penindasan perempuan, dalam hal “penghapusan” jati diri serta penindasan hak asasi kaum perempuan dapat dilihat dengan jelas pada daerah Asia Tengah atau bagian  selatan Semenanjung Arab. Hal ini dikarenakan Islam masih menjadi sumber hukum dan telah menjadi bagian yang takterpisahkan dari kehidupan masyarakat disana.

Islam sendiri, sebagaimana khalayak umum ketahui, telah menjadi known fact bahwa agama ini masih terlalu konservatif menghadapi perkembangan zaman. Islam seperti sebuah peradaban kuno yang terlempar ke lembah paradaban maju yang lebih open minded dalam kebebasan berfikir dan bertindak. Islam sebagai peradaban yang pernah makmur dalam hal politik dan ilmu, sekarang mulai luntur terkikis “air asam” dari kebudayaan yang berorientasi kepada western-approching.

KALAM FEMINISME

Secara singkat kemudian munculah berbagai diskursus (wacana) ilmu kalam, diantaranya adalah ilmu kalam pembebasan, ilmu kalam feminisme dan ilmu kalam pluralism. Wacana ini mencuat setidaknya dipicu oleh ketebelakangan, ketertinggalan dan termarginalkannya Umat Islam pada umumnya.

Sebagaimana yang penulis katakan di paragraf awal, pokok bahasan tentang essai ini adalah falsafah kalam fenimisme, dimana secara umum berisikan reinterpretasi firman-firman Tuhan yang tertuang dalam kitab suci (Al-Quran) pada ayat-ayat yang menyangkut peraturan normatif untuk kaum hawa.

Sebagai acuan penulis dalam menggali informasi tentang falsafah kalam feminisme menggunakan pemikiran dari Riffat Hassan, seorang tokoh cendikiawan Pakistan yang tumbuh di lingkungan patriakis –sebuah lingkungan dimana kebudayaan Islam masih sangat kental dan penindasan terhadap perempuan masih bisa dilihat dengan kasat mata. Sedikit banyak lingkungan yang patriakis menuntuk Riffat Hassan muda untuk meladeni ketidak adilan yang dialami perempuan akibat budaya patriakis. Budaya patriakis sendiri adalah budaya yang berorientasi pada gender laki-laki sentries dimana perempuan tidak diberi kebebasan banyak untuk bertindak dan dipaksa bersembunyi dalam bilik lindungan laki-laki. Bukti bahwa Pakistan adalah Negara yang tidak menghormati hak kaum perempuan dan terlebih lagi jauh tertinggal dalam hal peradaban –yang juga bisa dijadikan preseden mengenai sistem dan keadaan didaerah Timur Tengah sebagai tempat budaya Islam yang sama tertinggalnya dalam hal peradaban dan pemberian hak pada kaum perempuan- secara tersirat bisa terbukti dari pernyataan Riffat Hassan sendiri, seperti yang dikutip dalam buku Falsafah Kalam Sosial karya Muhammad In’am Esha, Ia mengatakan :

Pada tahun 1983-1984 saya terlibat dalam suatu proyek penelitian di Pakistan. Ketika itu masa pemerintahan Zia dan Islamisasi sedang dimulai. Pertanyaan yang timbul di kelapa saya pada waktu itu, mangapa kalau satu Negara atau pemeintahan mulai melakukan Islamisasi, tindakan pertama yang dilakukan adalah memaksa perempuan kembali masuk rumah, menutup seluruh tubuh mereka, membelakukan peraturan undang-undang yang mengaur tingkah laku individu terutama perempuan? Saya kemudian mempelajari teks Al-Quran secara serius dan mendalam dan akhirnya melihat perlunya reinterpretasi (In’am Esha 2010:125).

Perlunya reinterpertasi ini -sebagaimana yang dikatakan dalam kutipan perkataan Riffat Hassan sendiri- mutlak diperlukan mengingat Islam adalah ajaran yang sebenarnya mencintai kedamaian dan menjujung tinggi kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Dogma yang menyebabkan terbelenggunya perempuan dalam percaturan kehidupan dikarenakan penafsiaran yang dipengaruhi oleh kondisi sosial-patriakis yang sebenarnya salah.

Meminjam perkataan Muhammad In’am Esha, bahwa yang menarik dari falsafah kalam feminisme ini dibanding falsafah lain adalah sebagai berikut :

Hal yang menarik dari fenomena feminisme ini tidak lain adalah telah ditariknya wacana ini ke dalam dataran-dataran keagamaan. Para pemikir feminisme tidak hanya berhenti pada analisis-analisis. Para pemikir pemikir feminisme tidak hanya berhenti pada analisis sosio-antropologis, tetapi mereka  lebih jauh menohok ke jantung wilayah-wilayah yang selama ini dianggap sangat “riskan dan beresiko”, wilayah teologi agama yang nota bene dianggap “sakral” (In’am Esha 2010:123).

Paragraf diatas bisa dibenarkan, dengan “menohok kejantung wilayah agama yang sakral” menjadikan masalah penindasan terhadap kaum perempuan bisa terselesaikan hingga ke akarnya. Hal ini dikarenakan agama adalah sebuah kerangka struktural yang telah menjiwai dan menjadi acuan normatif setiap tindakan individu. Riffat Hassan  melihat realitas sosiologis masyarakat Muslim yang memperjuangkan nasib kaum perempuan yang hanya mengutamakan perbaikan-perbaikan pada skala statistik sosiologis dan belum mengarah kejantung permasalahannya, teologis (In’am Esha 2010:131). Hal ini menyebabkan dikriminasi masih sering terjadi di perbagai belahan dunia yang kebanyakan masyarakatnya adalah Islam.

Hak-hak pendidikan, hak-hak sosial dan politik adalah penting, namun jika landasan teologis  yang melahirkan kecenderungan-kecenderungan yang bersifat misogenis dalam tradisi Islam tidak dibongkar, maka diskriminasi terhadap perempuan akan terus berlanjut (In’am Esha 2010:131). Dikarenakan stagnansi keilmuwan –dalam hal ini sudut pandang mengenai perempuan- menurut penulis bukan berasal dari tidak berkembangnya seorang individu atau peradaban dibidang pemikiran dan keilmuwan, namun lebih cenderung pada hal yang berkaitan dengan kerangka dasar dari pola berpikir yang melandasi suatu pemikiran, yaitu sebuah kepercayaan berbentuk scriptural faith (agama). Jika metode dalam pemikiran agama berbentuk penafsiran belum di rubah, sangat sulit untuk mengubah paradigma patriakis ini.

Dalam perkembangan awal Islam terbentuk, idealnya agama ini secara historis justru tebentuk sebagai agama pembebasan, agama yang memerdekakan budak, kaum tertindas, dan perempuan. Hanya dalam perkembangannya, penafsiran dan perlakuan terhadap kaum yang dulunya adalah salah satu kaum yang dibebaskan (wanita), malah mendapatkan kenyataan pahit bahwa perlakuan terhadap kaum wanita justru malah bersifat statis, dan tidak mengejar laju putar roda zaman yang terus dan terus berputar.

Dalam sebuah buku yang pernah penulis baca, bahwa untuk menafsirkan suatu naskah atau ilmu, atau lebih tepat adalah sebuah penafsiran, setidaknya harus dilihat dari 2 hal,  yaitu dari sudut pandang sosial dan sudut pandang historis. Dan meminjam pernyaataan dari Riffat Hassan  sendiri, bahwa untuk mendapatkan penafsiran Islam secara benar, pendekatan historis adalah sebuah keniscayaan (In’am Esha 2010:133). Pendekatan Historis ini memang terlihat dari kalam feminisme Riffat. Seperti kritik yang dikemukakan berkenaan dengan mainstream penafsiran Al-Quran yang dalam sejarahnya menampakkan patriarchy oriented (In’am Esha 2010:133). Hal inilah yang membuat perempuan berada satu kelas dibawah laki laki, posisi kaum hawa menjadi tersubordinatkan.

Memang budaya patriakis muncul disetiap sendi kehidupan masyarakat sejarah. Sumber yang pernah penulis baca mengatakan, dimungkinkan budaya patriakis muncul ketika peradaban berburu telah berkembang ke peradaban yang menetap dan self-producing, ketika masyarakat pra-sejarah telah mengetahui bahwa untuk melanjutkan keturunan umat manusia, laki laki adalah sebagai “kunci” yang dari ritual pembuatan keturunan. Dan begitu juga budaya Timur Tengah,  dimana penduduk disana hidup dalam jarak ke-kabilahan, kesukuan. Antar suku dan kabilah  saling berperang satu sama lain, memperebutkan sumber makanan yang sedikit. Dan secara tidak langsung mengkondisikan kaum adam dalam komunitas mereka menjadi sosok maskulin yang mampu melindungi kaum hawa. Kaum hawa dikondisikan untuk beada didalam rumah atas 2 alasan : para kaum adam sering meninggalkan rumah untuk berperang dan mempertahankan suku mereka masing masing dan meninggalkan pasangan mereka, dan yang kedua perempuan mejadi barang yang sangat berharga dan harus dilindungi dari kerasnya sistim kabilah dan kesukuan masyarakat arab kuno.

Sehingga Islam datang sebagai agama secara tidak langsung turun dalam kebudayaan yang kental patriakis –walaupun, dimungkinkan esensi dari agama ini bukan demikian. Islam yang lambat laun berubah menjadi sebuah peradaban baru di tempat yang berbudaya patriakis menyebabkan, penafsiran dalam hal ilmu kalam atau firman tuhan, juga dipengaruhi oleh keadaan yang bias.

Banyaknya jaminan hak sosial dan seterusnya dan seterusnya  untuk kaum perempuan, tidak berarti apa-apa jika perempuan selalu  dikondisikan dalam mitos mitos keagamaan yang “dibalut” rapi dalam ajaran fiqih dan teologi agama yang membelenggu, hati,pikiran dan jiwa mereka.

HAWA BUKAN BERASAL DARI TULANG RUSUK ADAM

Mitos-mitos yang secara generasi ke generasi terus ditanamkan ke jati diri perempuan salah satunya adalah mitos diamana dikatakan bahwa wanita adalah terbentuk  dari tulang rusuk laki laki. Sebuah mitos yang sebenarnya penulis sendiri tidak setuju dan penulis kira adalah sebuah ajaran yang murni dari agama yang penulis anut, yang mungkin sebagian dari para pembaca akan beranggapan  serupa dengan penulis.

Ajaran ini terungkap menjadi hanya sebagai mitos, dan bukan ajaran islam murni, dikarenakan kajian Riffat Hassan mengenai kritik hadis Islamnya. Hadis-hadis tentang penciptaan perempuan yang menjelaskan bahwa Hawa diciptakan dan berasal dari tulang rusuk Adam dikaji ulang oleh Riffat  untuk mencari benang merah dari segi sosio-historisnya sebagai berikut :

Berdasarkan metode ini, Riffat lebih lanjut menjelaskan bahwa hadis-hadis yang bebicara tentang penciptaan perempuan –dalam hal ini ai meneliti enam buah hadis, masing masing tiga dari kitab sahih al-Bukhari dan tiga dari kitb sahih Muslim- tidak dapat disebut sebagai hadis sahih. Riffat beralasan sebagai berikut: petama, semua hadis tersebut atas diriwayatkan bedasarkan otoritas Abu Hurairah, seorang sahabat yang nota bene dianggap kontoversial oleh banyak sarjana Muslim awal termasuk Abu Hanifah (w. 767) sebagaimana yang dijelaskan oleh Abd al-Wahhab al-Sairani dalam kitabnya al-Mizan al-Kubra. Kedua, keenam hadis tersebut adalah garib karena hadis tersebut mengandung sebuah parawi yang merupakan perawi tunggal. Ketiga, semua hadis diatas adalah lemah karena hadis tesebut memiliki sejumlah parawi yang tidak bisa dipercaya (In’am Esha 2010:141).

Adapun dari sisi keadilan, memang ini bertentangan dalam sudut pandang Islam sebagai agama yang adil, juga bertentangan bahwa Tuhan sendiri sebagai sosok pencipta yang benci dengan diskriminasi.

Hadis tesebut secara tidak langsung menyiratkan bahwa perempuan sebagai makhluk yang secara makna sebagai sosok yang “bengkok”, dan secara tidak langsung pula hadis ini mencoba untuk mendiskiminasikan kaum hawa. Bukankan Manusia dibentuk dari fii ahsani taqwim? Dari bentuk yang paling sempurna? Pengkajian dan analisa Riffat dengan kalam feminismenya bisa memberikan sudut pandang baru terhadap kedudukan perempuan dan laki-laki yang selama ini timpang dan sangat tidak adil, bukan hany dalam konteks kecil di Negara jauh Pakistan, tapi juga di sini, di Indonesia.

ADAM TIDAK DICIPTAKAN LEBIH AWAL

            Selama ini kita beranggapan bahwa Adam adalah makhluk ciptaan Tuhan yang diciptakan pertama kali, baru kemudian Tuhan menciptakan “pendampingnya” yang oleh banyak kalangan Muslim di tafsirkan sebagai Hawa. Legenda ataupun bisa disebut mitos penciptaan laki laki dan perempuan bukan hanya dimonopoli oleh budaya Islam, tapi milik hampir semua peradaban kuno. Bahkan kebudayaan Yunani kuno beranggapan bahwa  Tuhan adalah sosok laki laki yang kemudian menciptakan alam dan seluruh isinya, temasuk didalamnya perempuan. Tradisi yang telah mengakar jauh mulai peradaban kuno ini tidak lebih dikarenakan laki laki mendominasi semua sendi kehidupan atau bisa berasal dari anggapan mereka bahwa fisik mereka lebih menonjol dari kaum perempuan, bahkan dalam bahasa Inggris laki-laki disebut handsome (hand) yang menunjukkan karakter fisik dari seorang pria.

Dalam hal ini Riffat menggunakan aplikasi metodologis untuk melakukan reinterpretasi kata adam.  Riffat beranggapan bahwa sifat superioritas laki laki atas perempuan salah satunya dikarenakan mainstream yang berkembang di mayarakat Islam cenderung mengatakan adam diciptakan lebih dulu ketimbang perempuan. Sehingga sifat perempuan sebagai “pendamping” untuk laki-laki sudah sangat melekat di benak para kaum hawa islam pada umumnya. Riffat pun mempertanyakan, benarkah adam sebagai mahluk yang pertama kali diciptakan tesebut sosok laki-laki?  (In’am Esha 2010:138). Pertanyaan Riffat Hassan ini –dan juga pertanyaan dibenak penulis atau bahkan kaum hawa sekalipun yang merasakan ketidak adilan- dijawab melalui pelacakan terminologis (istilah) untuk mendapakan makna kata yang akurat. Hasil dari pelacakan terminology tersebut adalah sebagai berikut :

Kata adam adalah istilah Ibrani berasal dari kata adamah yang artinya tanah. Kata yang muncul di dalam Al-Quran sebanyak dua puluh lima kali ini dalam relasinya dengan fenomena penciptaan yang muncul sekali, Surat Ali Imran 3:59  dan itu pun hanya berbicara dalam konteks bahwa adam adalah sosok mahluk yang diciptakan dari tanah dan sama sekali secara eksplisit tidak menjelaskan entang jenis kelaminnya (In’am Esha 2010:133).

Ayat tersebut menyatakan, “Sesungguhnya Isa di sisi Allah adalah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakan adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “jadilah”, maka jadilah dia”.

Terlebih lagi Riffat menjelaskan bahwa:

Bahwa adam bejenis kelamin maskulin, menurut Riffat, tidak lain berasal dari analisislinguistik yang selama ini dilakukan oleh para interpretator. Secara linguistic kata benda iu memang maskulin namun bukan menyangkut jenis kelamin, bahkan bedassarkan pemahaman terhadap aya-ayat lainnya seperti surat al-A’raf, 7:2627,31,35,172; dan al-Isra, 17:70, istilah “adam” berfungsi sebagai kata benda kolektif dan mengacu pada seluruh umat manusia. (In’am Esha 2010:138).    

Berdasarkan analisis tersebut penulis berkesimpulan bahwa tidak bisa diartikan bahwa adam itu adalah laki-laki. Lebih lanjut menurut analisa penulis menggunakan terjemahan konvensional Al-Quran, penulis dapatkan memang, tidak hanya pada ayat yang disebutkan Riffat Hassan, namun ada beberapa ayat lagi tentang “genesis” atau Umat Islam sering meyebut sebagai terciptanya laki laki dan perempuan, dan semuanya tidak pernah menyebutkan kata Adam sebagai makhluk yang diciptakan pertama. Bahkan surat surat itu hanya berkata kunci 3 hal, yang pertama adalah an-nas, tanah/tanah liat, serta zauj yang berarti pendamping dan sering ditafsirkan sebagai hawa atau perempuan. Bukan hanya itu, kata adam sendiri tidak pernah muncul kecuali dalam 2 tema, yaitu tema legenda kisah manusia pertama (adam) dan tema kedua adalah yang dikatakan Riffat Hassan pada paagraf sebelumnya. Sedangkan ayat penciptaan manusia sendiri idak pernah ada kata “adam” yang ada hanya kalimat yang ditafsirkan sebagai “adam” atau sosok laki laki. Untuk lebih jelasnya penulis menyarankan para pembaca essai ini untuk mengkaji surat Al-Hijr : 26,28 ,surat Sad :71-74, surat Fatir : 11, surat Azzumar : 6, Yasin : 55-56, QS 20:123, QS 30:11 QS 30:21.

Riffat menambahkan, hal ini berarti bahwa pemahaman secara kontekstual terhadap term adam dan zauj sebagaimana yang terdalap dalam surat al-Baqoroh, 2:35, al-A’raf 7:19 dan Taha 20:117menjadi sebuah kemestian.kata zauj yang biasa ditafsirkan sebaga Hawa, bagi Riffat, menjadi tidak relevan lagi (In’am Esha 2010:139). Menurut penulis sendiri setelah melakukan pengkajian terjemahan al-Quran, zauj sendiri sebenarnya diartikan sebaai pendamping, dan pendampin belum tentu sebagai seorang perempuan. Bahkan kata zauj sendiri  bisa diartikan sebagai manusia secara

kolektif atau istilah menyebutkan perempuan dan laki laki secara bersama (lihat surat Yasin ayat 55-56).

AL – QURAN SENDIRI MASIH BERSIFAT PATRIAKIS SENTRIS

            Sejauh mana kita sebagai Umat Islam memahami isi dalam kandungan Al-Quran? Bahkan sebagian teman penulis yang sebenarnya mahir dalam membaca Al-Quran, belum banyak tahu tentang isi kitab suci itu sendiri. Setelah penulis mencoba membaca tafsir dan terjemahan mengenai hukum yang mengatur hubungan lawan jenis baik dalam konteks keluarga maupun non muhrim, terdapat banyak sekali ayat yang menurut penulis terasa janggal dan patriakis sentris, yang jika ditafsirkan secara mentah mentah tanpa memperhatikan kondisi sosio-historis yang terjadi pada saat itu –dan banyak khalayak yang menafsirkannya secara mentah mentah, akan menghasilkan ketidak adilan gender. Ambil saja contoh 2 ayat yang sangat berseberangan yaitu surat An-Nisa ayat 34 dan Al-Baqoroh ayat 128, secara singkat mengatakan bahwa jika laki laki khawatir istrinya akan berbuat tidak setia dan menyimpang, laki laki berhak untuk menasehati atau juka perlu dijauhi dengan pisah ranjang atau bahkan ditampar (An-Nisa ayat 34). Namun demikian terjadi perbedaan jika masalahnya adalah para laki-laki atau suami yang dikhawatirkan berperilaku menyimpang, sang istri hanya diberi hak untuk melaporkan kepada pihak yang berwajib atau merelakan sebagian haknya dikurangi agar sang suami tidak berperilaku menyimpang dan ikatan pernikahan terus berlanjut (Al-Baqoroh ayat 128).

Sebuah ayat yang menurut penulis yang menyiratkan pemberian otoritas mutlak seorang laki-laki terhadap perempuan. Dan lebih lanjut memeberikan siratan bahwa perempuan seolah olah tidak diakui keberadaannya dengan alasan bahwa mereka tidak mendapatkan hak mutlak untuk  berfikir dan memberikan pendapat. 

MITOS KETIDAKSEJAJARAN LAKI LAKI DAN PEREMPUAN

Ketidak sejajaran laki laki dan perempuan, sebenarnya bukan berasal dari esensi agama tiu sendiri, namun muncul ketika agama ditafsirkan terhadap suatu kebudayaan tertentu, dalam hal ini kebudayaan yang aristosentris dan patriakis. Asumsi – asumsi mitos teologi yang berkembang dimasyarakat selaindisebabkan oleh 2 hal yang telah menjadi bagian dai berkembangnya budaya Islam, Riffat Hassan menambahkan bahwa :

Tedapat tiga asumsi teologis yang menyebabkan muncul dan terjadinya ketidaksejajaran laki lakidan perempuan. Pertama, bahwa ciptaan Tuhan yang utama adalah laki laki bukan perempuan, karen telah diyakini bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki laki (Adam), sehingga secara ontologism bersifat derifatif dan sekunder. Kedua, bahwa perempuan adalah penyebab jatuhnya Adam dari dari surga, karena itu anak perempuan hawa harus dipandang sebagai rasa benci, curiga,dan jijik.  Ketiga, bahwa perempuan tidak saja diciptakan dari laki-laki, namun juga untuk laki-laki, sehingga eksistensinya bersifat instrumental dan tidak meiliki makna mendasar In’am Esha 2010:149).

Tiga hal mendasar yang dikatakan Riffat inilah yang sering lalu lalang dibenak pemikiran kita, yang kemudian dikontruksikan kebenak dan batin kita sehingga mitos yang sebenarnya salah ini telah menjadi mind set yang ada dibenak khalayak umum,termasuk para perempuan. Sebuah mitos yang tidak berdasar dan    salah kaprah. Jika anggapan ini telah bisa dihapus dan Umat Islam pada umumnya diberi pemahaman yang baru, maka isu kesetaraan dan emansipasi

gender perempuan  yang melingkupi dunia Islam lambat laun menghilang dan tidak akan menjadi soal.

UPAYA DEKONTRUKSI MITOS

Penghapusan paradigma dari hal yang sebenarnya mitos diharapkan bisa menuntaskan masalah diskriminasi perempuan oleh laki-laki. Relasi dan permasalahan gender antara laki-laki dan perempuan selalu akan terjadi mengikuti perkembangan zaman dan masa. Sebuah epic dan cerita rakyat telah banyak menghiasi konflik dan relasi antara dua mahluk yang berbeda tapi memiliki kedudukan setara dimata Tuhan, mulai dari Rama – Shinta, Romeo – Juliet, Siti – Nubaya dan banyak lagi.

Distingsi kodrati biologis memang menjadi keniscayaan, namun pandangan rendah kaum laki-laki terhadap perempuan sudah sepantasnya tidak terjadi. Kita manusia bukanlah malaikat yang memang sempurna mutlak, namun jika kita percaya, Tuhan menciptakan 2 gender untuk saling melengkapi satu sama lain. Paham superioritas gender satu atas yang lain mungkin sulit dihapus total, tapi sebuah pemahaman atas rekontruksi paradigma akan menghasilkan keadilan yang lebih merata. Keadilan yang tanpa paksaan terhadap kaum perempuan yang jarang mendapatkan opsi dikarenakan mitos yang mengekang mereka atas nama agama.

Merekontruksi pemahaman idiologis agama mungkin sering dianggap tabu, namun menjadi pilihan yang mungkin dan layak dilakukan mengingat, di lingkungan penulis, agama masih menjadi aturan aturan imajiner pada setiap sendi pemikiran dan kehidupan, meskipun Indonesia pada khususnya bukan merupakan Negara Islam layaknya Pakistan, namun secara umum masalah gender masih menjadi isu yang riuh rendah di antara belantara pemasalahan negeri ini.

Alhasil anggapan penulis pribadi bahwa “agama telah digunakan lebih sebagai alat penindas ketimbang sarana pembangun kesetaraan dan perdamaian pembebasan kaum perempuan”  bisa dihapuskan jika kita, punya konsep yang baru tentang sudut pandang agama itu sendiri. Melihat agama bukan secara kaku, namun lebih kearah toleran, moderat dan mengambil inti dan esensi dari kearifan nilai-nilai moral agama.

About @arghyand

interested in sustainable living

Posted on Agustus 16, 2011, in Education, Opinion, Social and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: