PEREMPUAN BER ROK MINI


3 hari lalu saya menyempatkan diri untuk cuci mata sekaligus ngintip diskon di Matahari Departement Store Jember. Tapi yang namanya toko besar, sebesar apapun diskonnya, harganya tetap saja mahal. Kesempatan cuci mata di pusat belanja kota Jember tersebut menyiratkan fakta kecil yang belum pernah saya perhatikan –dan baru 3 hari lalu saya mulai menyadarinya. Bukan fakta mengenai harga baju yang selangit atau brand dagang yang populer, namun yang saya perhatikan adalah pegawainya 🙂

ROK 10 CM

Kebanyakan pegawai toko baju adalah perempuan, dan sebagian besar masih dalam kisaran umur 23 tahun. Maaf sebelumnya, tapi saya perhatikan, seragam yang dipakai pegawai Matahari hampir bisa dikatakan tidak nyaman bagi pegawai itu sendiri. Bajunya begitu ketat dan memakai bawahan rok pendek setinggi hampir 10 cm diatas lutut. Enatah itu kebijakan baru dari pengelola atau saya saja yang tidak memperhatikan dengan teliti beberapa tahun belakangan ini, namun pakaian pegawai seperti itu setidaknya merugikan 2 pihak. Merugikan pembeli dan pemakai. Pemakai bukannya hanya dirugikan karena ketidaknyamanan dijadikan objek tontonan karena menunjukkan kaki mereka, gerak mereka juga menjadi tidak fleksibel dan nyaman, karena ditambah hak sepatu yang juga tinggi.

ADAKAH SEBUAH JATI DIRI?

Pertanyaannya adalah, apakah kita, dan bahkan si pemakai, mewajarkan pemakaian seragam seperti itu? Apakah si pemakai telah membiasakan diri dengan ketidak nyamanan hanya untuk sekedar mendapatkan upah? Atau mereka bangga dengan berdandan sedemikian rupa dan menjadi objek perhatian? Atau mereka telah menyerahkan jati diri mereka dan menjadikan dirinya sebagai objek perhatian? Karena Saya pernah membaca buku tentang perempuan, dan penulis buku itu mengatakan bahwa hampir dikatakan perempuan tidak memiliki jati diri, karena jati diri mereka selalu dibentuk oleh tuntutan zaman dan keadaan.

Perempuan ber-rok mini, apa pun tujuannya. sudah Seharusnya laki-laki lebih bisa menjaga pandandangan dan diri mereka sendiri. Karena laki-laki pun sadar, mereka hanya dijadikan objek pemanis dalam dinamisnya peradaban.

Iklan

About @arghyand

interested in sustainable living

Posted on Juli 27, 2011, in Social. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: