LAPORAN FIELD TRIP PERTANIAN SUBAK BALI


SISTEM IRIGASI PADA SISTEM PERTANIAN SUBAK BALI

I. PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Ketersediaan air saat ini sangat terbatas. Sementara itu, karena adanya pertambahan penduduk yang cepat, dan adanya perkembangan pendapatan penduduk serta perkembangan di luar sektor pertanian, menyebabkan kebutuhan air menjadi semakin besar, baik secara kuantitatif dan kualitatif. Dengan demikian, persaingan antar sektor dalam penggunaan air semakin kompetitif.

Kasus di Bali menunjukkan hal yang sepadan. Perkembangan pembangunan sektor non-pertanian menyebabkan sektor pertanian menjadi terdesak. Hak guna air yang sejak dahulu kala menjadi hak petani, saat ini mulai mengalami destorsi. Sementara itu petani tidak memiliki akses untuk mengadakan pembelaan, karena mereka tidak memiliki wadah koordinasi untuk memperjuangkan hak-haknya. Sementara itu lembaga sedahan-agung yang seharusnya eksis untuk membela kepentinan petani/subak, saat ini kelembagaannya menjadi subordinat dari Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda). Oleh karenanya diperlukan langkah langkah-langkah untuk membentuk wadah koordinasi antar sistem subak yang mendapatkan air irigasi dari satu sumber air (satu bendung). Tujuannya adalah agar wadah ini dapat memperjuangkan hak-hak dan keberatan-keberatan petani dalam mempertahankan eksistensinya.

Sistem irigasi subak pada dasarnya dapat dipandang sebagai suatu sistem teknologi sepadan, dan juga dapat dipandang sebagai sistem kebudayaan. Karena adanya fenomena dan pengertian seperti ini, maka sering disebutkan bahwa sistem subak tersebut adalah sebagai suatu sistem teknologi yang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat, atau sistem seperti ini disebutkan pula sebagai suatu sistem teknologi yang telah berkembang menjadi fenomena budaya masyarakat. Karena sistem subak dipandang sebagai sistem teknologi, maka sistem ini memiliki kemampuan untuk ditransformasikan ke daerah lain.

Sistem subak sebagai sistem teknologi, maupun sebagai sistem kebudayaan memiliki keterbatasan kemampuan untuk mengatasi masalah-masalah yang ekstrim misalnya saja masalah kekurangan air yang selalu terjadi pada setiap musim kemarau. Masalah-masalah seperti ini pada umumnya dipecahkan dengan cara-cara tertentu berdasarkan konsep harmoni dan kebersamaan, yang sesungguhnya merupakan cerminan dan implementasi dari konsep Tri Hita Karana (THK), yang merupakan landasan dari sistem irigasi subak. Sistem subak seperti inilah sesungguhnya yang akan ditransformasikan ke daerah lain. Hal ini kiranya perlu dilaksanakan karena di masa depan kehidupan manusia akan semakin beragam, dan permasalahan yang muncul berkaitan dengan permanfaatan air tampaknya tidak akan bisa dipecahkan semata-mata dengan aturan-aturan formal. Untuk itu sangat diperlukan suatu lembaga yang dapat memadukan aturan-aturan formal dan norma-norma religius secara operasional sebagaimana halnya telah berlaku dalam aktivitas sistem irigasi subak.

Petanian Organik merupakan sebuah bentuk solusi baru akan tetapi sudah ada sebelumnya guna menghadapi kebuntuan yang dihadapi petani sehubungan dengan maraknya intervensi barang-barang sintetis atas dunia pertanian sekarang ini. Dapat kita saksikan, mulai dari pupuk, insektisida, perangsang tumbuh, semuanya telah dibuat dari bahan-bahan yang disintesis dari senyawa-senyawa murni (biasanya un organik) di laboratorium.

Dalam kegiatannya tak semua dari bahan-bahan yang sintesis tersebut jelek akan tetapi pada tempo yang panjang (apalagi jika digunakan dengan tidak hati-hati dan tidak tepat dosis), dimana akumulasi bahan-bahan tersebut menjadi jenuh di tanah, terbukti telah menjadi masalah yang sangat serius. Rantai makanan yang tadinya selalu berputar karena proses degradasi yang baik, tiba-tiba menjadi berhenti karena ketidak mampuan alam (bakteri) untuk meluruhkan bahan-bahan sintetis tersebut. Kita sudah mulai melihat kecenderungan tanah menjadi asam dan pengerasan tanah yang disebabkan oleh pupuk urea. Resistennya hampir semua jenis hama terhadap insektisida dan menuntut penggunaan bahan yang berintensitas lebih tinggi untuk dapat membunuhnya. Apalagi penggunaan pestisida oleh petani dilakukan dengan cara yang berlebihan dan tidak sesuai dosis, maka dengan begitu organisme pengganggu tanaman akan menjadi kebal terhadap pestisida yang digunakan.

Pertanian organik itu sendiri sebetulnya bukanl baru bagi para petani bahkan petani di Indonesia, pertanian modern yang lebih melakukan segala kegiatannya dengan bahan sintetis seperti sekarang ini, adalah sesuatu yang baru kita kenal beberapa puluh tahun terakhir ini saja. Sejak dahulu  petani di Indonesia lebih menuju pada sistem pertanian organik, pertanian modern yang lebih kearah dengan menggunaaan bahan-bahan sistesis seperti sekarang ini baru saja terjadi. Hal ini dikarenakan dengan menggunakan bahan-bahan sintesis dianggap lebih menguntungkan bagi para petani. Dengan menggunakan pestisida sistesis misalnya organisme pengganggu tanaman dari berbagai macam jenis lebih mudah mati berbeda jika kita menggunakan pestisida nabati maka hasil yang didapatkan sebaliknya. Hasil dari pestisida nabati akan lebih lama sehingga organisme pengganggu tanaman yang menyerang akan lebih lama terbasmi.

Salah satu tempat atau daerah yang menggunakan sistem pertanian organik yaitu di Golden Leaf Farm yaitu Desa Wanagiri, kawasan Wisata Bedugul, Kabupaten Buleleng, Bali. Banyak tanaman yang dibudidayakan di Golden Leaf Farm tersebut, misalnya adalah papermint, salad, kentang, wortel dan lain-lain. Dari semua tanaman yang ditanaman tersebut didapatkan dengan cara sistem pertanian organik sehingga hasil yang diperoleh jika dihitung dengan materi sanga tinggi.

1.2    Tujuan

  1. Untuk mengetahui sistem subak yang diterapkan di daerah bali dan mengetahui perbedaan sistem perairan subak bali dengan sistem perairan biasa.
  1. Mengetahui cara atau teknik penanaman suatu tanaman dengan menggunakan sistem pertanian organik.

II.      TINJAUAN PUSTAKA

Masalah irigasi pada umumnya terkait dengan upaya penenuhan air untuk pertanian secara luas. Termasuk didalamnya pemenuhan kebutuhan aiur untuk tanamana pangan, peternakan dan perikanan, kebutuhan bagi tanaman perkebunman dan hortikultura yang meliputi tanaman sayur-sayuran, buah-buahan, dan tanaman hias. Walaupun kebutuhan irigasi untuk padi masih mendominasi kebutuhan irigasi secara menyeluruh sebagai warisan praktek yang telah dilakukan selama berabad-abad namun kecenderungan oergeseran sudah mulai nampak walaupun dalam lingkup yang masih terbatas (Efendi, 2005).

Dalam kehidupan awal manusia hubungan antara air dengan pangan dilakukan melalui proses pemberian air untuk tanaman atau lebih dikenal sebagai proses irigasi. Sistem irigasi dibangun manusia karena menyadari bahwa untuk dapat menjamin diperolehnya keberhasilan panen dan produksi yang lebih tinggi, maka kebutuhan air tanaman tidak dapat sepenuhnya tergantung lagi dari hujan atau bentuk-bentuk presipitasi alami lainnya yang bersifat stochastik. Keberhasilan produksi tanaman memerlukan jaminan perolehan air yang lebih deterministik. Proses pembangunan dan pengelolaan sistem irigasi dilakukan manusia sejak awal kebudayaan dan disesuaikan secara harmoni antara alam dan lingkungannya. Proses keharmonisan ini masih dijumpai dalam subak sebagai salah satu bentuk organisasi pengelolan irigasi yang bersifat religius. Subak mendasarkan sistem pembangunan dan pengelolaan irigasi berdasarkan konsep Tri Hita Karana yang didasarkan atas konsep agama Hindu. Konsep ini menyatakan keharmonisan antara unsur Tuhan- Alam dan Manusia. Tuhan menciptakan alam untuk ditempati dan digunakan manusia dalam melakukan kehidupan untuk mengabdi kepada Tuhan yang Maha Esa. Meskipun demikian konsep Tri Hita Karana merupakan suatu konsep universal dan dapat dialihkan ke tempat lain (Edi, 2005).

Subak adalah suatu masyarakat hukum adat yang memiliki karakteristik sosioagraris-religius, yang merupakan perkumpulan petani yang mengelola air irigasi di lahan sawah. Pengertian subak seperti itu pada dasarnya dinyatakan dalam peraturan-daerah pemerintah-daerah Provinsi Bali No.02/PD/DPRD/l972. Karakteristik  sosio-agraris-religius dalam sistem irigasi subak, dengan menyatakan lebih tepat subak itu disebut berkarakteristik sosio-teknis-religius, karena pengertian teknis cakupannya menjadi lebih luas, termasuk diantaranya teknis pertanian, dan teknis irigasi (Arif, 1999).

Subak sebagai suatu sistem irigasi merupakan teknologi sepadan yang telah menyatu dengan sosio-kultural masyarakat setempat. Kesepadan teknologi sistem subak ditunjukkan oleh anggota subak tersebut melalui pemahaman terhadap cara pemanfaatan air irigasi yang berlanadaskan Tri Hita Karana (THK) yang menyatu dengan cara membuat bangunan dan jaringan fisik irigasi, cara mengoperasikan, kordinasi pelaksanaan operasi dan pemeliharaan yang dilakukan oleh pekaseh (ketua subak), bentuk kelembagaan, dan informasi untuk pengelolaannya. Sistem subak mampu melakukan pengelolaan irigasi dengan dasar-dasar harmoni dan kebersamaan sesuai dengan prinsip konsep THK, dan dengan dasar itu sistem subak mampu mengantisipasi kemungkinan kekurangan air (khususnya pada musim kemarau), dengan mengelola pelaksanaan pola tanam sesuai dengan peluang keberhasilannya. Selanjutnya, sistem subak sebagai teknologi sepadan, pada dasarnya memiliki peluang untuk ditransformasi, sejauh nilai-nilai kesepadanan teknologinya dipenuhi (Wayan, 2005).

Pengertian Subak dapat dilihat segi fisik dan segi sosial. Secara fisik, subak adalah hamparan persawahan dengan segenap fasilitas irigasinya, sedangkan secara sosial Subak adalah organisasi petani pemakai air yang otonom. Ciri dasar Subak adalah: (1) Subak merupakan organisasi petani yang mengelola air irigasi untuk anggota-anggotanya. Sebagai organisasi, Subak memiliki pengurus dan aturan-aturan keorganisasian (Awig-awig) baik tertulis maupun tidak tertulis; (2) Subak mempunyai suatu sumber air bersama, dapat berupa bendung di sungai, mata air, air tanah, ataupun saluran utama suatu sistem irigasi; (3) Subak mempunyai suatu areal persawahan; (4) Subak mempunyai otonomi, baik internal maupun eksternal; dan (5) Subak mempunyai satu atau lebih Pura Bedugul (atau pura yang berhubungan dengan kesubakan, untuk memuja Dewi Sri, manifestasi Tuhan sebagai Dewi Kesuburan) (Baliaga, 2000).

Sebagai suatu organisasi, Subak mempunyai unsur pimpinan yang disebut dengan Prajuru. Pada Subak yang kecil, struktur organisasinya sangat sederhana, hanya terdiri dari seorang ketua Subak yang disebut Kelihan Subak atau Pekaseh, dan anggota Subak. Sedangkan pada Subak-subak yang lebih besar, prajuru subak umumnya terdiri atas : Pekaseh (Ketua Subak), Petajuh (Wakil Pekaseh), Penyarikan (Sekretaris), Petengan atau Juru Raksa (Bendahara), Juru arah atau Kasinoman (Pembawa informasi), dan Saya (Pembantui khusus). Prajuru Subak umumnya dipilih oleh anggota Subak dalam suatu rapat pemilihan, untuk masa jabatan tertentu (biasanya 5 tahun). Untuk Juru arah biasanya dijabat bergilir oleh anggota Subak dengan pergantian setiap bulan (35 hari) atau enam bulan (210 hari), sedangkan Saya dipilih berdasarkan upacara keagamaan Subak az (Agus, 2007).

Sistem irigasi subak terdiri dari empelan (bendungan dam), yang berfungsi sebagai bangunan pengambilan air dari sumbernya (sungai), aungan (terowongan), telabuh (saluran primer), tembukuaya (bangunan bagi primer), telabah gede (bagunan sekunder), tembuku gede (bangunan bagi sekunder), telabah pemaron (saluran tersier), tembuku pamaron (bagunan bagi tersier), telabah penyahean (saluran kuarter), tebuku penyahean (bangunan bagi kuater terdiri dari 10 orang), tembuku penyulupan (Pemasukan secara individual), dan tali kuda (saluran individu) (Gusti, 2006).

Subak-subak yang besar biasanya dibagi atas sub-sub yang disebut dengan Tempek yang dipimpin seorang Kelihan Tempek. Untuk tujuan-tujuan tertentu, misalnya koordinasi dalam distribusi air dan atau upacara pada suatu pura, beberapa Subak dalam suatu wilayah bergabung dalam suatu koordinasi yang disebut Subak Gede. Subak anggota dari suatu Subak Gede umumnya berada dalam satu daerah irigasi, meskipun ada juga Subak Gede yang Subak anggotanya memiliki sistem irigasi sendiri-sendiri. Fungsi dan tugas yang dilakukan Subak dapat berupa fungsi dan tugas internal dan eksternal. Secara internal, tugas utama yang harus dilaksanakan Subak adalah: (1) Pencarian dan distribusi airi irigasi, (2) Operasi dan pemeliharaan fasilitas irigasi, (3) Mobilisasi sumberdaya, (4) Penanganan persengketaan, dan (5) Kegiatan upacara/ritual. Sedangkan secara eksternal, Subak merupakan lembaga agen pembangunan pertanian dan perdesaan yang telah terbukti memegang peranan penting dalam melaksanakan program-program pembangunan seperti program Bimas, Insus, Supra Insus, pengembangan KUD, dan sebagainya (Dharmayuda, 2001).

Baik Dharma Tirta maupun Subak, sebagai organisasi pengelola air irigasi tersier di tingkat akar rumput, bekerja pada suatu jangkauan wilayah kerja hidrologis dengan karakter yang tidak mengenal batas-batas administratif. Hanya saja karena tingkatannya berupa tersier, maka wilayah kerjanyapun sebatas antar desa atau kelurahan atau antar bagian-bagian wilayah dari beberapa kecamatan (Irfan, 2006).

Sistem irigasi subak yang berlandaskan THK seperti yang disebutkan sebelumnya itulah yang akan ditransformasikan. Dipersyaratkan bahwa dalam transformasi tersebut, luaran atau tujuan sistem irigasi subak yang melakukan pengelolaan dan pelayanan irigasi berdasarkan harmoni dan kebersamaan, tidak mengalami perubahan yang nyata. Hubungan elemen-elemen dalam sistem irigasi subak yang berlandaskan THK sangat komplek yang sebagian diantaranya mengandung nilai-nilai kuantitatif, misalnya pada elemen-elemen yang bersifat kebendaan, dan sebagian lainnya mengandung nilai-nilai kualitatif, misalnya, pada elemen-elemen yang bersifat pola pikir dan sosial. Hubungan antara elemen-elemen penyusun sistem subak tersebut, tidak dapat dipisahkan antara satu elemen dengan elemen lainnya dan berbentuk fungsi yang tidak linier (Wayan, 2006).

Subak sebagai sistem irigasi tradisional yang khas Bali sudah dikenal sejak tahun 1071 Masehi sehingga sampai sekarang kalau dihitung-hitung usianya telah mencapai berabad-abad sehingga boleh dikatakan merupakan bagian kehidupan (way of life) yang tidak terpisahkan dari masyarakat Bali.Dalam Subak sendiri terkandung makna filosofis kehidupan yang dalam tentang bagaimana mewujudkan kebersamaan dan hubungan yang harmonis antara Tuhan dengan manusia, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan alam semesta, di mana konsep ini dikenal oleh masyarakat Bali sebagai konsep Tri Hita Karana (THK). Sistem ini dibuat dengan menggunakan teknologi sepadan (appropriate technology) dalam pertanian beringas! yang disebut Subak. Dengan sistem irigasi Subak, pembagian air kepada masing-masing petani yang menjadi anggota organisasi diatur oleh Pekaseh (Ketua Subak) secara tertib, adil dan merata sehingga semuanya memperoleh jatah air yang cukup untuk bercocok tanam padi di lahan sawahnya.Berkat manajemen pengelolaan air yang baik, maka ketersediaan air tetap terjamin sekalipun di musim kemarau di mana debit air sungai biasanya mengecil (Endro, 2009).

III.   METODOLOGI

3.1    Waktu dan Tempat

3.1.1. Waktu

Field trip tentang Sistem Irigasi Subak ini dilaksanakan pada hari Minggu, 28 November 2010

Field trip tentang pertanian organik ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 27 November 2010, pada pukul 09.00 WITA

3.1.2 Tempat

Tempat pelaksanaan field tri pertanian organik berada di Golden Leaf Farm di Desa Wanagiri, kawasan Wisata Bedugul, Kabupaten Buleleng, Bali.

Tempat  pelaksanaan field trip Sistem Irigasi Subak ini dilakukan di Subak Katulampa, Jembrana-Bali.

IV.   HASIL DAN PEMBAHASAN

 4.2    Pembahasan

4.2.1  Pembahasan Golden Leaf Farm

Field trip dilaksanakan di Desa Wanagiri, kawasan Wisata Bedugul, Kabupaten Buleleng, Bali yaitu di Golden Leaf Farm. Di Desa Wanagiri, kawasan Wisata Bedugul, Kabupaten Buleleng, Bali. Di Golden Leaf Farm berbagai macam tanaman yang dibudidayakan disana. Segala kegiatan budidaya tanaman di Golden Leaf Farm menggunakan sistem pertanian organik.

Tanaman yang dibudidayakan di Golden Leaf Farm beraneka ragam macam tanaman akan tetapi dapat dipastikan bahwa tanaman yang dibudidayakan memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Dalam sistem pertanamannya, sistem pertanaman yang digunakan di Golden Leaf Farm menggunakan sistem monokultur. Dalam setiap satu lahan tanaman yang digunakan dibudidayakan hanya satu jenis tanaman saja, oleh sebab itu sistem pertanaman yang digunakan di Golden Leaf Farm yaitu monokultur.

Dalam jenis tanaman yang digunakan yang beranekaragam tidak diketahui varietas atau klon atau galur yang digunakan. Akan tetapi asal kesemua benih yang dibudidayakan berasal dari BPSB, Di Golden Leaf Farm hanya membudidayakan tanaman tersebut hingga membuahkan hasil yang pada akhirnya mendapatkan keuntungan.

Kebutuhan benih tanaman yang dibudidayakan di Golden Leaf Farm setiap hektar tergantung jenis tanaman yang akan dibudidayakan. Sebab besar tanaman akan mempengaruhi berapa benih dari setiap tanaman yang dibudidayakan setiap hektarnya. Akan tetapi diketahui bahwa rata-rata bibit yang dibutuhkan setiap musim semai adalah 20.000 bibit tanaman.

Tanaman yang paling banyak  budidaya di Golden Leaf Farm adalah jenis tanaman salad, sebab kebutuhan akan salad didaerah bali itu sendiri sangat tinggi terlebih didaerah luar bali seperti jakarta dan kota-kota besar lainnya. Selain kebutuhan akan salad sangat banayak harga jual dari salad juga sangat tinggi. Sehingga cocok dibudidayakan terlebih cara budidaya tanaman salad dengan menggunakan sistem pertanian organik. Jarak tanam salad yang dikembangkan di Golden Leaf Farm adalah 20 x 20 cm. Pembudidayaan tanaman salad yang akan dijadikan bibit dikembangkan pada sebuah bak kecil yang nantinya dikembangkan di lahan.

Dengan sistem pertanian organik yang dilakukan untuk mengembangkan tanaman di Golden Leaf Farm maka pemupukan secara pasti juga menggunakan pupuk organik. Pupuk yang digunakan berasal dari kotoran sapi dan juga urine sapi. Dalam pembuatan pupuk organik di Golden Leaf Farm membuat pupuk sendiri sehingga meminimalisir pembelian dari luar dan juga menjaga agar pupuk yang digunakan benar-benar pupuk organik. Kebutuhan pupuk setiap hektarnya adalah 250gr/Ha dan cara pemupukannya juga sangat sederhana yaitu dengan cara disebar. Sistem pertanian yang digunakan akan menghasilkan produksi tanaman yang dalam hal ini adalah salad yaitu sebanyak 250 ton/Ha atau per bulan. Hasil produksi akan dijual kerestourant dan juga hotel. Seperti yang kita ketahui bahwa Bali merupakan kota pariwisata yang banyak dikunjungi para turis mancanegara oleh sebab itu restourant dan hotel di Bali banyak meminta pasokan salad terutama yang dikembangkan secara organik.

Dalam proses pengairan segala kegiatan pengairan di Golden Leaf Farm  menggunakan sistem pengairan yang bermacam-macam yaitu menggunakan sistem tetes, sprinkle dan selang. Pengairan yang dilakukan berasal dari sumur-sumur bor yang kemudian disedot dan ditempatkan pada galon-galon besar yang nantinya disalurkan keseluruh bagian lahan di Golden Leaf Farm. Ketiga sistem pengairan yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis tanaman yang akan diairi.

Dalam sistem pertanian organik yang digunakan budaya sangat berperan penting. Oleh sebab itu segala kegiatan yang dilakukan mendahulukan nilai-nilai agama atau budaya.

Di Golden Leaf Farm cara penanganan hama juga menggunakan sistem yag sangat sederhana. Hal ini tampak dari setiap tanaman yang dibudidayakan akan dicari tanaman apa yang menjadi penghambat hama yang akan menyerang tanaman yang dibudidayakan. Selain itu di Golden Leaf Farm terdapat inovasi dalam sistem pemanfaatan air yang telah dibuat. Air yang telah digunakan akan ditempatkan pada suatu tempat yang dimana tempat tersebut ditanami oleh eceng gondok. Sehingga air yang telah digunakan akan dapat digunakan lagi. Penanaman eceng gondok tersebut dilakukan agar air yang akan digunakan terbebas dari senyawa Si atau senyawa logam berat lainnya.

 4.2.2        Pembahasan Pertanian Subak

Dari hasil wawan cara yang telah dilakukan saat fieldtrip dapat diketahui bahwa subak merupakan organisasi petani pemakai air yang otonom atau yang telah menyatu dengan sosio-kultural masyarakat setempat. Dalam organisasi pengairan subak ini terdapat Pekaseh (Ketua Subak), Petajuh (Wakil Pekaseh), Penyarikan (Sekretaris), Petengan atau Juru Raksa (Bendahara), Juru arah atau Kasinoman (Pembawa informasi), dan Saya (Pembantui khusus).

Sistem subak sebagai sistem teknologi, maupun sebagai sistem kebudayaan, memiliki keterbatasan kemampuan untuk mengatasi masalah-masalah yang ekstrim, misalnya saja masalah kekurangan air yang selalu terjadi pada setiap musim kemarau. Masalah-masalah seperti ini pada umumnya dipecahkan dengan cara-cara tertentu berdasarkan konsep harmoni dan kebersamaan, yang sesungguhnya merupakan cerminan dan implementasi dari konsep Tri Hita Karana (THK), yang merupakan landasan dari sistem irigasi subak. Sistem subak seperti inilah sesungguhnya yang akan ditransformasikan ke daerah lain. Hal ini kiranya perlu dilaksanakan karena di masa depan kehidupan manusia akan semakin beragam, dan permasalahan yang muncul berkaitan dengan permanfaatan air tampaknya tidak akan bisa dipecahkan semata-mata dengan aturan-aturan formal. Untuk itu sangat diperlukan suatu lembaga yang dapat memadukan aturan-aturan formal dan norma-norma religius secara operasional sebagaimana halnya telah berlaku dalam aktivitas sistem irigasi subak.

Menurut salah satu narasumber bahwa Sistem pengairan subak di Bali ini dahulu sebelum ada waduk sering kali mengalami kendala. Kendala yang paling sulit diatasi yaitu kekurangan air. Dan setelah dibuat waduk kendala-kendala kekurangan air tersebut tidak pernah terjadi lagi. Sumber Air irigasi subak ini  yaitu berasal dari dua danau yang ada di sekitar daerah tersebut, yang ditampung ke dalam waduk. Dari waduk inilah air mulai dialirkan ke bendungan besar sampai akhirnya ke sawah masyarakat. Pengelolan lahan yang dikelola menggunkan irigasi subak ini seluas 51 hektar.

Masyrakat bali yang menerapkan sistem subak ini dalam menanam padi secara keseluruhan menggunakan varietas jenis Ciherang dan IR 64. Sistem pertanian atau tanam yang digunakan yaitu monokultur. Dan kebutuhan benih pada 1 hektar lahan mencapai 50 kg benih. Jenih tanah yang terdapat pada daerah ini yaitu jenis lempung. Dan dalam pengolahan tanahnya masih menggunakan cara tradisional dengan menggunakan bajak(kerbau atau sapi) tetapi dengan perkembangan waktu sebagian petani sudah mulai menggunakan traktor.

Penanaman padi mulai dilakukan setelah proses pengolahan tanah yang disebut melesah (penggaruan) yaitu meratakan tanah. Jika tanah sudah rata maka penanaman bibit padi mulai dilakukan. Sebelum di tanam bibit padi ini melalui proses persemaian. Setelah padi di persemaian berumur 20 hari barulah bibit padi mulai ditanam dilahan yang sudah selesai proses melesah. Tetapi adakalanya benih langsung ditanam dilahan biasa disebut dengan tabela. Dalam melakukan penanaman jarak tanam yang digunakan yaitu 20X20 cm. Dan jarak tanam yang digunakan pada tanah yang lebih subur biasanya 25X25 cm. Namun kebanyakan petani subak ini menggunakan jarak tanam yang 20X20 cm.

Setelah padi berumur sekitar 10 hari setelah tanam, pemupukan dasar atau awal mulai dilakukan. Petani subak ini dalam melakukan pemupukan dasar menggunakan campuran pupuk urea 200 kg, ppupuk ponska 200 kg dan pupuk petro organik 300 kg. Pemupukan dilakukan sampai tiga kali tahapan. Tahapan pemupukan kedua ini dilakukan setelah padi beruur 21 hari dengan menggunakan 200 kg urea dan 200 kg ponska.  Tahapan pemupukan terakhir dilakukan setelah padi kurang lebih berumur 60 hari atau sebelum masa pemasakan dengan menggunkan pupuk 200 kg urea dan 200 kg ponska.

Pada masa perkembangan dan pertumbuhan padi di bali subak ini juga terdapat serangan atau ganggua dari OPT. OPT yang banyak menyerang pada saat umur padi masih muda yaitu hama keong mas. Dan untuk mengatasi permasalahan ini petani masih melakukan dengan cara manual yaitu mengambil keong tersebut satu per satu. Selain keong juga adad hama lain seperti walang mentimun/walang sangit. Bila padi diserang hama ini petani mengatasinya dengan menggunakan daun ketiman yang ditancapkan pada sudut-sudut sawah. Selain itu untuk mengatasi keiong mas dan walang sangit petani subak juga menggunakan wewangian seperti diterjen dan obrong. Hama lain yang sering mengganggu tanaman padi di daerah ini yaitu tikus. Untuk menangani tikus petani subak menggunakan musuh alaminya seperti ular. Jika tanaman terserang penyakit tungro petani subak menaganinya dengan cara langsung mencabut tanaman yang menunjukkan serangan adanya tungro. Hal ini dilakukan agar penyakit tungro tersebut tidak menyebar keseluryh tanaman. Para petani subak sangat mengetahui gejala serangan penyakit tungro dan setiap hari petani melakukan pengontrollan sehingga apabila ada tanaman yang menunjukkan terkena tungro dapat langsung diatasi. Namun dalam mengatasi hama wereng petani subak menggunakan pestisida kimia jenis matador, selain itu juga menggunakan musuh alami seperti katak. Dan untuk mengatasi gulma petani subak melakukan kegiatan mejukut atau biasa disebut penyiangan yautu dengan mencabut gulma satu persatu. Selain menggunakan cara-cara tersebut untuk mengatasi serangan hama, penyakit dan gulama petani subak juga menggunakan cara dengan melakukan ngaci atau upacara-upacara adat yang dipendu oleh ketua subak. Tujuan dari kegiatan ini yaitu untuk meminta perlindungan kepada para dewa dengan cara memberi sesajen.

Dalam melakuikan perawatan tanaman padi selain dengan melakukan pemupukan dan mejukut petani subak juga menambahkan penggunaan ZPT untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi yang dibudidayakan. Penggunaaan ZPT  ini dilakukan karena petani subak mendapat informasi dari SLPHT yang melakukan penyuluhan didaerah ini. ZPT yang digunakan petani subak ini diperoleh dari SLPHT tersebut sehingga petani subak tidak mengetahui ZPT jenis apa yang digunakan.

Setelah musim panen datang, hasil padi yang diperoleh petani subak tidak semuanya di jual. Biasanya sebagian untuk makanan sendiri. Harga jual padi petani subak ini biasanya seharga 2500/kg atau 170000-200000/are , harga ini merupkan harga dasar setelah panen raya. Dan dari luas lahan yang dikelola dalam subak ini hasil per hektarnya mencapai 9 ton/ha atau 80-90 kg/are.

 

 V.      KESIMPULAN DAN SARAN

5.1    Kesimpulan

5.1.1 Kesimpulan Golden Leaf Farm

  1. Dalam sistem pertanian organik segala kegiatannya denar-benar menggunakan bahan-bahan yang organik.
  2. Dengan menggunakan eceng gondok dapat menyerap unsur-unsur logam berat dalam air.
  3. Petanian Organik merupakan sebuah bentuk solusi baru akan tetapi sudah ada sebelumnya guna menghadapi kebuntuan yang dihadapi petani sehubungan dengan maraknya intervensi barang-barang sintetis atas dunia pertanian sekarang ini.
  4. Dalam sistem pertanian organik memerlukan biaya perawatan yang sangat besar dan ekstra hati-hati dalam perawatannya.

5.1.2 Kesimpulan Pertanian Subak

  1. Subak merupakan organisasi petani pemakai air yang otonom atau yang telah menyatu dengan sosio-kultural masyarakat setempat.
  2. Dalam organisasi pengairan subak ini terdapat Pekaseh (Ketua Subak), Petajuh (Wakil Pekaseh), Penyarikan (Sekretaris), Petengan atau Juru Raksa (Bendahara), Juru arah atau Kasinoman (Pembawa informasi), dan Saya (Pembantui khusus).
  3. Konsep Tri Hita Karana (THK), merupakan landasan dari sistem irigasi subak yang digunakan untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi terutama masalah kekeringan pada musim kemarau.
  4. Petani subak dalam mengatasi adanya serangan OPT selain menggunkan cara-cara mekanik dan kimia juga menggunakan cara adat yaitu dengan melakukan ngaci/pemberian sesajen melalui upacara adat yang dilakukan.
  5. Sumber irigasi subak ini berasal dari dua danau yang terdapat didaerah ini dan kemudian ditampung ke dalam waduk yang kemudian mulai di alirkan ke ladang/sawah.

5.2    Saran

5.2.1 Saran Golden Leaf Farm

Dalam sistem pertanian organik hendaknya segala kegiatan yang berhubungan dengan pertanaian tersebut benar-benar diketahui jelas asal-usulnya terutama untuk pengairan. Sebab jika pengairan tidak diperhatikan dikawatirkan telah terkontaminasi oleh zat atau senyawa yang berbahan sintetis atau bersifat kimiawi.

5.2.2 Saran Pertanian Subak          

Dalam mengendalikan OPT cara-cara adat yang dilakukan juga harus tetap menggunkan upcara adat. Agar adat tersebut tidak hilang karena berjalannya waktu. Dan untuk mahasiswa sebaiknya dalam melakukan kegiatan wawancara dilakukan dengan bahasa atau kata-kata yang mudah dipahami oleh narasumber. Sehingga data yang diperoleh lengkap.

 

DAFTAR PUSTAKA

Agus. 2007. Eksistensi Desa Adat Dan Kelembagaan Lokal: Kasus Bali. PPMA. Bali

Arif. l999. Applying Philosophy of Trihita Karana in Design and Management of Subak Irrigation System, dalam A Study of Subak as Indigenous Cultural Social, and Technological System to Establish a Culturally base Integrated Water Resources Management Vol.III. (ed: S.Susanto), Fac.of Agric.Technology, Gadjah Mada Univ, Yogyakarta.

Baliaga. 2000. Bentuk Desa di Bali. Dalam: http//www.baliaga.com, di akses 6 Desember 2010

Dharmayuda. 2001. Desa Adat Kesatuan Masyarakat Hukum Adat di Bali. Upada Sastra. Denpasar

Edi. 2005. Peran Budaya Lokal Dalam Menunjang Sumber Daya Air Yang Berkelanjutan. Kanisius. Yogyakarta

Efendi. 2005. Reformasi Irigasi Dalam Kerangka Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air. Analisa Kebijakan Pertanian. Vol. 3, No. 3

Endro. 2009. Warisan Budaya Harmoni Kehidupan Di Dalam Subak. Dalam: http://endrone.blogspot.com/2009/06/subak.html , diakses 6 Desemer 2010

Gusti. 2006. Upaya Pemerintah Dalam Melestarikan Subak Di Kabupaten Tabanan. Visioner. Vol. 2, No. 1

Irfan. 2006. Desentralisasi Dalam Pengelolaan Air Irigasi Tersier. Makara, Sosial Humaniora.Vol. 10, No. 1

Wayan. 2005. Sistem Irigasi Subak Dengan Landasan Tri Hita Karana (THK) Sebagai Teknologi Sedapan Dalam Pertanian Beririgassi. Appropriate Technology. Bali

Wayan. 2006. Transformasi Sistem Irigasi Subak Yang Berlandaskan Konsep Tri Hita Karana. Universitas udayana. Denpasar

About these ads

Posted on Desember 7, 2012, in Agriculture and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: