MANAJEMEN UMUM PERTANIAN: MANAJEMEN PENGOLAHAN LAHAN TANAH ANDISOL / ANDOSOL UNTUK TANAMAN KENTANG


MANAJEMEN DAN PENGOLAHAN TANAH ANDISOL UNTUK TANAMAN KENTANG

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kentang (Solanum tuberosum, L) merupakan tanaman hortikultura yang mempunyai kandungan kalori dan mineral penting bagi kebutuhan manusia. Kentang adalah tanaman pangan utama keempat dunia, setelah gandum, jagung, dan padi. Tingginya nilai gizi menyebabkan banyak diproduksi kentang di berbagai wilayah, termasuk daerah yang kurang produktif.  Produksi kentang di Indonesia telah berkembang dengan pesat dan menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil terbesar di Asia tenggara. Dari tahun ke tahun luas areal, hasil produksi, dan produktivitas kentang berfluktuasi. Pada tahun 2003 luas panen kentang di Indonesia 65 923 ha, produksi 1 009 979 ton dengan produktivitas 15.32 ton/ha. Produksi kentang menurun menjadi 1 003 732 ton pada tahun 2007, produktivitas naik menjadi 16.09 ton/ha pada luas panen 62 375 ha .

Di Indonesia pada umumnya kentang dibudidayakan di dataran tinggi. Hal tersebut dikarenakan selama pertumbuhan tanaman kentang menghendaki temperatur rata-rata antara 15,5° C – 18,3° C dan tampaknya temperatur malam yang dingin lebih penting daripada temperatur yang rendah di siang hari. Hal ini ada kaitannya dengan tuberisasi yang dipacu oleh hari pendek.

Di Indonesia, kentang biasanya ditanam di daerah dataran tinggi. Tanah dataran tinggi yang digunakan untuk budidaya tanaman kentang di Indonesia mayoritas adalah tanah bertipe andisol. Tipe tanah  andisol merupakan tanah yang paling baik untuk budidaya tanaman  kentang. Tanah Andosol terbentuk dari pelapukan materi vulkanik dari gunung api. Tanah ini subur dengan warna kehitaman yang remah. Walau tipe tanah Andosol di indonesia sangat banyak namun masih sedikit dimanfaatkan untuk areal budidaya tanaman kentang.

Meskipun tanah andisol merupakan tanah yang  paling cocok  untuk  budidaya  kentang, namun dubutuhkan manajeman lahan  yang baik. Manajemen  lahan  tersebut meliputi, penambahan bahan organik yang akan meningkatkan kualitas tanah dengan memperbaiki agregasi, aerasi dan kapasitas tanah. Untuk evaluasi kesesuaian lahan tanah andisol untuk budidaya tanaman kentang, dibutuhkan pemahaman tertentu mengenai ciri  tanah andisol dan juga cara budidaya tanaman kentang yang benar. Tindakan yang tepat dalam memandukan produksi tanaman dari penanaman hingga panen di suatu areal pertanian bagi petani dan pengusaha pertanian membutuhkan pemahaman  yang baik mengenai manajemen pertanian, termasuk didalamnya adalah  manajeman  pengolahan  tanah.

1.2 Tujuan

1. Mengetahui sifat dan  karakteristik tanah Andisol.

2. Mengetahui  karakter tanaman yang dapat tumbuh pada tanah Andisol.

3. Mengetahui keunggulan dan kelemahan tanah Andisol pada budidaya tanaman kentang.

4. Mengetahui manajemen dan persiapan lahan budidaya tanaman kentang pada tanah Andisol.

5. Mengetahui input yang dibutuhkan pada budidaya tanaman kentang di  tanah  Andisol.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanah Andisol

Andisol merupakan salah satu jenis tanah memiliki sifat fisika dan kimia yang khas. Sifat khas yang dimiliki antara lain bahan organik tinggi, bulk densiti rendah sehingga kapasitas menahan air dan porositasnya tinggi. Andisol didominasi mineral liat amorf yaitu alofan. Alofan memegang peranan utama dalam menentukan bulk densiti yang rendah. Selain itu, Andisol mengandung bahan organik dan KTK yang tinggi.

Andisol terbentuk dari debu volkanik. Debu vulkanik kaya dengan mineral

liat amorf atau alofan yang mengandung banyak Al dan Fe. Logam-logam ini  akan dibebaskan oleh proses hancuran iklim. Khelasi antar asam humik dan Al dan Fe tersebut, membentuk khelat logam-humik, yang juga akan meningkatkan retensi humus terhadap dekomposisi mikrobiologis.

Penyebaran tanah Andisol dominan di wilayah dekat dengan pusat-pusat erupsi gunung api dan di pegunungan. Jenis tanah banyak tersebar di Chile, Peru, Ecuador, Colombia, Amerika Tengah, USA, Kamchatka, Jepang, Filipina, Indonesia, New Zealand, dan Negara bagian kepulauan Selatan-Barat Pasifik. Di Indonesia, luas penyebaran Andisol 3,4 % luas daratan Indonesia yang diperkirakan seluas 6.491.000 ha. Andisol paling banyak tersebar di Sumatera Utara dengan luas area 1.875.000 ha, Jawa Timur 0,73 juta Ha, Jawa Barat 0,50 juta Ha, Jawa Tengah 0,45 juta Ha, dan Maluku 0,32 juta Ha.

Kondisi yang subur pada tanah andisol sangat baik untuk digunakan untuk budidaya pertanian Sifat-sifat tanah inilah yang mendukung terpenuhinya kebutuhan hara bagi tanaman. Tanaman yang cocok dibudidayakan pada tanah andisol adalah untuk tanaman hortikultura dan tanaman perkebunan seperti kentang, wortel, bawang, jeruk, kopi, dan lainnya untuk tanaman hortikultura dan tanaman perkebunan seperti kentang, wortel, bawang, jeruk, kopi, dan lainnya.

2.2 Tanaman Kentang

2.2.1 Gambaran Umum Tanaman Kentang

Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan tanaman pangan di dunia dan salah satu komoditas penting di dunia. Meskipun menempati urutan keempat setelah padi, gandum dan jagung, kentang menempati urutan pertama dalam hal energi dan produksi protein per hektar dan per unit. Kentang berasal dari wilayah Pegunungan Andes di Peru dan Bolivia karena sebagian besar keragaman genetik tanaman kentang ditemukan di wilayah itu.

Kentang adalah tanaman dikotil tahunan berumur pendek yang biasanya ditanam sebagai tanaman setahun untuk diambil umbi bawah tanahnya yang dapat dimakan. Seperti tanaman sayuran lain, kentang di Indonesia ditanam di daerah dataran tinggi lebih dari 1.000 m di atas permukaan laut. Tanaman kentang yang dihasilkan secara aseksual dari umbi akan memiliki akar serabut dengan percabangan halus, agak dangkal dan akar adventif yang berserat menyebar, sedangkan tanaman kentang yang tumbuh dari biji akan membentuk akar tunggang ramping dengan akar lateral yang banyak.

Kentang termasuk dalam Kingdom Plantae, divisi Magnoliophyta dengan kelas Magnoliopsida, termasuk dalam ordo Solanales dan famili Solanaceae dengan genus Solanum dengan nama spesies Solanum tuberosum L.

2.2.2 Morfologi Tanaman Kentang

Tanaman kentang merupakan tanaman  yang tergolong umbi-umbian. Tanaman kentang adalah salah satu contoh tanaman yang menggunakan  perkembangbiakan vegetatif berupa umbi akar. Secara morfologi, umbi adalah batang pendek, tebal dan berdaging dengan daun yang berubah menjadi kerak atau belang, berdampingan dengan tunas samping (aksilar) yang biasa dikenal sebagai mata. Proses pembuahan umbi ditandai dengan terhentinya pertumbuhan memanjang dari rizoma/stolon dan diikuti pembesaran hingga rizoma tersebut membengkak. Bentuk umbi tanaman kentang beragam, mulai  dari bulat, hingga berbentuk lonjong.

Tanaman kentang memiliki daun yang rimbun dan terletak berselang-seling pada batang. Daun tanaman kentang berbentuk oval dengan ujung meruncing dengan tulang daun menyirip dan berwarna hijau muda hingga hijau tua. Batang tanaman kentang berbetuk segi empat atau segi lima tergantung varietas kentang, tidak berkayu dan bertekstur sedikit keras. Batangnya bercabang dan di setiap batang ditumbuhi daun yang rimbun. Batang di bawah permukaan tanah (rizoma), umumnya disebut stolon yang berfungsi untuk menimbun dan menyimpan produk fotosintesis dalam umbi yang membengkak di dekat bagian ujung. Berdasarkan beberapa sumber, tanaman kentang ada yang berbunga, ada pula yang tidak. Bunga tanaman kentang bergerombol membentuk tandan simosa, memiliki lima lembar mahkota bunga yang menyatu dengan warna berkisar antar putih hingga merah jambu dan keunguan. Bunga pada tanaman kentang tidak bermadu dan biasanya mengalami penyerbukan silang oleh angin dan oleh serangga.

III. PEMBAHASAN

3.1 Karakteristik Tanah Andisol

3.1.1 Karakter fisik tanah Andisol

Memiliki BD atau Bulk Density yang rendah yaitu 0,90 g/cm3 atau pada retensi  air 33 kPa. Tanah andisol memiliki porositas yang tinggi. Tanah Andisol merupakan tanah dengan tekstur berlempung. Tanah Andisol bersifat ringan dan berwarna hitam.

3.1.2 Karakter kimia tanah Andisol

Tanah Andisol merupakan tanah yang mengandung material seperti mengandung bahan organik dan lempung tipe amorf, terutama alofan serta sedikit

silika, alumina atau hodroxida-besi. Tanah ini dicirikan memilki kompleks pertukaran kation (KTK) yang didominasi oleh bahan amorf yang bermuatan variabel serta retensi fosfat yang tinggi.

Kandungan P dan K potensial bervariasia, mulai rendah sampai tinggi. Jumlah basa dapat tukar, tergolong sedang sampai tinggi. Jumlah basa dapat tukar tergolong sedang sampai tinggi dan didominasi ion Ca dan Mg, juga sebagian K. KTK tanah sebagian besar sedang sampai tinggi, dengan KB sedang. Dengan demikian potensial kesuburan Andisols dinilai tergolong sedang sampai tinggi. Reaksi tanah. Untuk penetapan klasifikasi tanah tingkat seri, reaksi tanah (pH) dikelompokkan atas 2 kelas, yaitu (1) tanah masam pH < 5.5; dan (2) tanah tidak masam pH >5.5.

3.1.3 Karakter  biologi tanah Andisol

Tanah disebut Andisol jika mengandung bahan organik < 25 % (berdasarkan berat) karbon organik.  Tanah andisol 10% nya terdiri atas humus. Tingginya bahan organik di andisol diyakini disebabkan oleh adsorbsi molekul organik oleh alofan dan imogolit. Alofan dan imogolit memiliki komposisi kimia yang beragam, tergantung pada variasi rasio molar SiO2/AlO3 dan kandungan air. Alofan mampu berikatan dengan humus tanah dengan ikatan kompleksasi membentuk khelasi Al dalam alofan dengan membentuk komplek yang cukup resisten (Sudiharjo, 2006).

3.2 Karakter dan Jenis Tanaman pada Tanah Andisol

Dikarenakan sifatnya yang subur dan ringan, maka tanah ini cocok untuk ditanami pada hampir semua jenis tanaman, terutama tanaman yang membutuhkan nutrisi dalam waktu singkat, seperti tanaman palawija dan sayuran. Tanah Andisol  juga baik ditanami tanah umbi-umbian, karena dengan sifat tanah  yang ringan akan  memungkinkan umbi berkembang lebih baik dan memudahkan pemanenan.

3.3 Keunggulan dan Kelemahan Tanah Andisol

3.3.1 Keunggulan tanah  Andisol

Tanah jenis ini memiliki keunggulan karena biasanya bersifat subur dan bertekstur gembur hingga lempung, bahkan dibeberapa tempat bertekstur debu. Sehingga petani menyukainya karena mudah dalam pengolahan. Sangat ringan dicangkul dan pori-pori tanahnya memudahkan sirkulasi udara masuk ke akar tanaman.

3.3.2 Kelemahan Tanah  Andisol (Retensi Unsur P)

Salah satu kelemahan  umumnya adalah tanah Andisol beraksi kuat dengan unsur fosfor (P). Kapasitas jerapan P atau fosfor pada tanah Andisol  sangat tinggi, bahkan melebihi jerapan P oksida hidrat Al dan Fe. Hal ini disebabkan karena bahan amorf mempunyai permukaan spesifik yang begitu luas, sehingga jerapan P lebih tinggi. Selain itu, kandungan alofan  yang tinggi  juga  menyebabkan tanah andisol sering  meretensi unsur P sehingga unsur P tidak  tersedia bagi  tanaman (Yuwono,2010). Reaksi unsur fosfor dengan tanah Andisol akan membuat tanah  menjadi padat, tidak mudah larut oleh air, dan membuat nutrisi yang dibutuhkan  tanaman  tidak  tersedia.  Sifat tanah yang keras akibat  fosfor juga menyulitkan  pengolahan  tanah (http://www.britannica.com).

Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa tanah Andisol mengandung jumlah mineral Al dan Fe yang tinggi sehingga dapat memfiksasi fosfor pada Andisol, reaksi tanah sedikit masam hingga netral, kapasitas tukar kation bernilai tinggi, mempunyai kemampuan menjerap fosfat sangat kuat, akan tetapi berbobot isi rendah yaitu kurang dari 0.85 gr/cm3. Tingginya kemampuan Andisol menjerap fosfat yang dihubungkan dengan reaktivitas fiksasi yang tinggi dan disertai dengan mineralisasi P-organik yang lambat menentukan rendahnya ketersediaan fosfor yang menjadi faktor pembatas ketersediaan unsur hara P

Kelemahan lain tanah andosol adalah, karena struktur yang gembur dan rapuh, maka tanah jenis ini sangat mudah terseret air hujan, angin dan longsor atau mengalami erosi.

3.3.3 Kelemahan Tanah Andisol pada Tanaman Kentang

Telah diketahui bahwa tanah Andisol sering meretensi unsur P atau fosfor yang menyebabkan unsur makro esensial tersebut tidak dapat tersedia bagi tanaman. Unsur P sangat dibutuhkan tanaman terutama pada perkembangan awal tanaman dan untuk pertumbuhan akar. Pada tanaman  kentang, unsur P sangat dibutuhkan sepanjang pertumbuhan. Namun demikian,  pada fase pertumbuhan awal, tanaman kentang sangat membutuhkan unsur P untuk membentuk akar yang  kuat. Akar yang kuat dan baik akan memungkinkan tanaman mencari nutrisi atau  hara  di  dalam tanah secara  optimum. Selain  itu, tanaman kentang  juga  membutuhkan unsur P untuk pembentukan umbi. Kekurangan unsur P akan membuat hasil panen berkurang secara kuantitas dan kualitas (Mikkelsen, 2006).

Melihat dari data tebel tersebut, dapat diketahui bahwa kebutuhan P pada tanaman kentang memang tidak  sebanyak unsur Nitrogen dan Kalium, meskipun demikian, tanaman kentang tetap membutuhkan unsur P atau fosfor untuk pembentukan akar pada awal pertumbuhan dan perkembangan umbi (Mikkelsen, 2006).

 3.4 Manajeman dan Persiapan Lahan Budidaya Tanaman Kentang pada Tanah Andisol

Pada tanah Andisol, Tanahnya tergolong tanah yang ringan (BV < 0,7 g/cm3), sehingga mudah diolah, secara keseluruhan memiliki struktur yang sesuai untuk tanaman kentang. Tanah Andisol yang ber BD ringan, yaitu sekitar 0,85 g/cm3 sehingga dalam mengelola tanah Andisol tidak diperlukan  pengolahan tanah intensif  atau bahkan dapat  menggunakan prisip tanpa  olah tanah (TOT) (Ketaren, 2008).

Tanah Andisol memiliki kemampuan untuk menyediakan lengas bagi tanaman yang termasuk tinggi (Yuwono, 2010). Mayoritas tanah Andisol memiliki kelengasan tanah yang tinggi (kelembapan tinggi), sehingga tidak membutuhkan irigasi yang intensif. Kelengasan tanah yang tinggi tersebut disebabkan oleh kandungan bahan organik tanah Andisol yang lumayan tinggi.

3.5 Inovasi yang Dapat Dilakukan Terhadap Tanah Andisol

3.5.1 Input Pupuk pada Budidaya Tanaman Kentang Tanah Andisol

Tanah Andisol adalah tanah yang subur  karena  mengandung mineral dari abu vulkanik. Selain itu, tanah Andisol juga mengandung unsur organik  yang tinggi (Sudiharjo, 2006). Kedua hal tersebut  membuat aplikasi pupuk pada tanah andisol tidak terlalu dibutuhkan  dalam kuota  yang besar. Namun demikian, tanah andisol mempunyai permasalahan dalam  ketersediaan unsur P atau fosfor. . Hal ini disebabkan karena bahan amorf mempunyai permukaan spesifik yang begitu luas, sehingga jerapan P lebih tinggi. Selain itu, kandungan alofan  yang tinggi  juga  menyebabkan tanah andisol sering  meretensi unsur P sehingga unsur P tidak  tersedia bagi  tanaman (Yuwono,2010). Teretensinya unsur P pada tanah menyebabkan tanaman kentang tidak dapat menyerap unsur P. Solusi dari masalah kekahatan P pada tanah Andisol salah satunya adalah menambahkan pupuk organik dan melakukan pengolahan tanah secara minimum (minimum tillage). Dari penelitian yang telah dilakukan, diketahui  bahwa dengan memberikan  pupuk organik berupa Kompos Mabar dan pengolahan tanah secara minimum, akan meningkatkan  P-tersedia pada tanah Andisol sebesar 96,89% (Ketaren, 2008).

3.5.2 Pemberian Silikat

Umumnya pada tanah-tanah masam seperti Oxisol fosfor terikat oleh ion AI, Fe dan Mn sehingga membentuk senyawa fosfat yang sukar larut. Demikian juga keberadaan P pada tanah Andisol. Tanah ini dicirikan oleh kandungan mineral muorf yang tinggi terutama allofan, sehingga menyebabkan terjadi fiksasi P yang sangat tinggi  (Ilyas dkk, 2000).

Tingginya kapasitas fiksasi P pada Andisol, merupakan salah satu kendala dalam bidang pertanian. Salah satu altematif untuk mengupayakan P menjadi tersedia dalam tanah adalah dengan pemberian silikat, karena silikat dapat melepaskan fosfor terjerap dan mencegah terjadinya fiksasi . Hal ini karena silikat termasuk salah satu anion penentu potensial yang dapat berkompetisi dalam menduduki kompleks jerapan. Dengan demikian sifat kompetisi ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ketersediaan fosfor . pemberian silikat dapat mengurangi jerapan P . Walaupun silikat itu sendiri secara umum tidak digolongkan sebagai unsur esensial bagi pertumbuhan tanaman. Silikat dapat diperoleh dari beberapa sumber antara lain dari garam-garam silikat (Ca-silikat, Kmetasilikat, Na-metasilikat, K-silikofosfat), asam silikat, terak baja,  semen serta sekam padi dan abu sekam. Kandungan silikat dari abu sekam dapat mencapai 69,3%. Peranan abu sekam sebagai sumber silikat sudah pemah diteliti antara lain oleh Ishibashi (l 957) danBromfield (1959), hasilnya menunjukkan adanya pengaruh yang sangat baik sehubungan dengan pelepasan P oleh silikat. Dari segi kandungan silikat, penggunaan abu sekam (96% SiO2) lebih menguntungkan dibandingkan dengan sekam padi (16% SiO2). Penggunaan abu sekam pada lahan pertanian selain sebagai sumber silikat juga merupakan salah satu alternatif untuk mengurangi pencemaran lingkungan oleh limbah pertanian di sekitar lokasi penggilingan padi dan sekaligus sebagai upaya pengembalian sisa panen ke areal pertanian (Ilyas dkk, 2000).

 IV. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Tanah Andisol merupakan salah satu jenis tanah memiliki sifat fisika, biologi dan kimia yang khas. Sifat khas yang dimiliki antara lain bahan organik tinggi, bulk densiti rendah sehingga kapasitas menahan air dan porositasnya tinggi.

2. Tanah Andisol sering meretensi unsur P atau fosfor yang menyebabkan unsur makro esensial tersebut tidak dapat tersedia bagi tanaman. Tetapi Tanah jenis ini memiliki keunggulan karena biasanya bersifat subur dan bertekstur gembur hingga lempung.

3. Inovasi yang dapat diterapkan pada tanah andisol adalah menambahkan pupuk organik dan melakukan pengolahan tanah secara minimum serta mengupayakan P menjadi tersedia dalam tanah dengan pemberian silikat.

DAFTAR PUSTAKA

Ilyas, et.al. 2000. Analisis Pemberian Limbah Pertanian Abu Sekam sebagai Sumber Silikat pada Andisol dan Oxisol terhadap Pelepasan Fosfor Terjerap dengan Teknik Perunut. Staf Pengajar Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala dan Universitas Brawijawa.

 

Mikkelaen, R. 2006. Best Management Practise for Fertilizer. Potash Phosphate Institute (PPI) and the Potash & Phosphate Institute of Canada (PPIC).

 

Ketaren, S. 2008. Pengaruh Beberapa Sifat Kimia Tanah Andisol pada Sistem Pertanian Organik Akibat Pengolahan Tanah dan Pemberian Pupuk Organik. Skripsi Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, Universitas Sumtera Utara, Medan.

Sudiharjo, A. M., N. Tejoyuwono dan D. Mulyadi. 2006. Andisolisasi Tanah-tanah di Wilayah Karst Gunung Kidul. Ilmu Tanah Universitas Gadjah Mada.

 

Yuwono, N, et.al. 2010. Kesuburan Tanah Lahan Petani Kentang di Dataran Tinggi Dieng. Jurusan tanah, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

About these ads

Posted on Oktober 18, 2012, in Agriculture and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.224 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: