ANALISIS KEBERLANJUTAN PERTANIAN MONOKULTUR LAHAN SAWAH PADI


ANALISIS KEBERLANJUTAN PERTANIAN MONOKULTUR LAHAN SAWAH PADI

I. PENDAHULUAN

1.1 Lahan Pertanian Padi
Tumbuhan padi adalah tumbuhan yang tergolong tanaman weterplant atau disebut juga tanaman air. Tanaman air disini bukan berarti padi hanya dapat tumbuh pada tanah yang terus menerus digenangi air hal tersebut dikarenakan tanaman padi juga mampu tumbuh pada lahan-lahan kering yang tidak digenangi air asalkan tanaman padi hidup pada lahan yang curah hujannya tercukupi (Siregar, 1981). Padi dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 mdpl dengan temperatur 19-270C , memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan. Padi menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm dan pH tanah 4 – 7.
Jenis padi dibedakan menjadi dua, yaitu padi sawah dan padi ladang. Padi sawah tumbuh baik pada lahan yang digenai air, sedangkan padi ladang adalah padi yang dapat tumbuh di lahan kering. Di Indonesia, budidaya tanaman padi sering dilakukan di tanah sawah. Lahan tanah sawah yang digunakan untuk menanam padi harus tergenangi air. Penggenangan sawah dapat dilakukan dengan membuat galengan. Air selain berfungsi sebagai sarat mulak agar padi tumbuh, tujuan dari penggenangan bertujuan untuk memudahkan petani mengolah sawah. Selain itu, penggenangan dengan air juga berfungsi untuk memusnahkan rerumputan yang tumbuh di sawah (Siregar, 1981).
Tanah sawah untuk area penanaman padi umumnya ditemukan pada tanah-tanah yang cukup baik di daerah datara atau berbukit yang diteraskan. Umumnya terdapat didaerah Jawa, Bali, Lombok, Sumatra Utara, dan Aceh atau daerah lain yang airnya cukup tersedia. Tidak adanya lahan sawah pada daerah Kalimantan dan Irian Jaya dikarenakan tanah pada daerah tersebut sering tercuci sehingga tanah daerah tersebut sering tercuci dan miskin unsur hara (Hardjowigeno dan Rayes, 2005).

1.2 Definisi Pertanian Monokultur
Sebagian besar rakyat Indonesia terdrir atas petani. Pertanian telah memberikan sumbangan devisa yang besar untuk Negara. Bahkan beberapa jenis hasil pertanian Indonesai telah dikenal dunia. Rangkain pulau di Nusantara telah banyak yang dirubah menjadi lahan atau kawasan pertanian. Bertani merupakan tata cara kehidupan orang Indonesia. Menurut perkiraan kasar pada tahun 1973, dari 45.000.000 tenaga kerja di Indonesia, kurang lebih terdapat 30.000.000 penduduk yang berprofesi sebagai petani (Soeriaatmadja, 1997).
Secara garis besar, orang Indonesia telah memanfaatkan alam untuk kegiatan pertanian. Umumnya penduduk Indonesia telah tergolong dalam golongan cara bertani berladang (membuka hutan). Sehingga menurut Tohir (1991), hanya berkisar 5,7% dari luas daratan seluruh Indonesia yang merupakan tanah persawahan. Seluruh tanah sawah yang ada di Indoenesia yaitu sekitar 4 juta hektar, 55% merupakan sawah irigasi, lebih kurang 37% adalah tnah sawah tadah hujan, 3% adalah sawah lebak dan sisanya merupakan sawah pasang surut (Tohir, 1991).
Pada lahan sawah terdapat ekosistem. Ekosistem sawah baik sawah pertanian di Indonesia maupun tempat lain merupakan ekosistem yang mencirikan ekosistem pertanian sederhana dan monokultur berdasarkan atas komunitas tanaman dan pemilihan vegetasinya. Selain itu ekosistem yang berada di sawah bukanlah ekosistem alami, akan tetapi sudah berubah sehingga akan sangat rentan terjadi ledakan suatu populasi di daerah tersebut.
Menurut Soeriaatmadja (1997), pertanain memiliki tujuan umum yaitu memperoleh produksi maksimum per unit luas tertentu dari luas tanah pertanian serta mencegah penurunan kapasitas produksi sistem pertanian. Dengan demikian sasaran strategi pertanian adalah dengan mengubah komunitas alam yang stabil dan keragaman hayati tinggi namun kurang bermanfaat bagi manusia menjadi kawasan yang kurang keragaman hayatinya (monokultur) namun bermanfaat bagi manusia. Strategi tersebut sering dikenal dengan sistem pertanian monokultur.
Definisi dari pertaian monokultur adalah pertanian yang memiliki penataan tanaman secara tunggal sepanjang umur tanaman tertentu pada suatu lahan. Ada beberapa penataan pertanaman secara tunggal (monokultur) pada lahan sawah, diantaranya adalah penataan bergiliran secara berurutan dan bergiliran secara berjajar. Untuk sistem bergiliran secara berurutan, sistem tersebut dilakukan pada musim hujan, yakni tanah sawah ditanami padi. Sedangkan pada musim kemarau lahan ditanami palawija atau bero tergantung pada keadaan tanah, pengairan, iklim, dan sebagainya. Untuk sistem bergiliran secara berjajar atau pararel, sistem tersebut dilakukan dengan mengelola sebidang tanah sawah yang luas dengan cara pada musim rendengan seluruh sawah ditanami padi, tetapi pada musim kemarau ada bagian yang terpaksa dikosongkan, ada yang ditanaman berbagai palawija. Cara penataan menggunakan sistem berjajar dibedakan menjadi dua, yaitu penataan pertanaman berladang dan penataan tanaman secara glebengan di atas tanah sawah tadah hujan (Soetriono et. al., 2006).
(kelebihan dan kekurangan pertanian monokultur TOLONG CARI)

III. PEMBAHASAN

3.1 Pembahasan Pertanian Monokultur
3.1.1 Keragaman Hayati Lahan Monokultur
Manusia dengan sistem pertanian monokultur menghendaki keadaan dimana lahan memiliki produktivitas setinggi mungkin. Untuk itu dalam sistem pertanian monokultur manusia menanam jenis tumbuhan yang lebih produktif. Contoh dari kasus tersebut adalah menanam padi dengan bulir yang banyak dan berumur pendek. Dengan mengurangi keragaman spesies namun menaikan homogenitas dari jenis tanaman menyebabkan kawasan pertanian monokultur menjadi tidak stabil. Dampak dari hal tersebut adalah prakterk bertani masih tergantung pada energi dari luar untuk memelihara kemantapannya. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa aliran keluar dan masuknya energi berlangsung lebih cepat, disertai pembalikan bahan mineral tanah yang terlampau deras, menyebabkan proses kerusakan tanah pertanian tak dapat dihindari lagi (Soeriaatmadja, 1997).

3.1.2 Ketersediaan Hara pada Lahan Monokultur
Pertanian monokultur tidak menghendaki adanya keanekaragaman hayati yang melimpah. Akibat dari hal tersebut adalah kestabilan lahan menjadi rentan. Bukti dari hal tersebut adalah tanah pertanian monokultur harus sering diolah. Tanpa menjadi tidak subur. Hal tersebu dikarenakan pada pertanian monokultur kandungan unsur hara yang tersedia bagi tanaman sangat sedikit. Ketersediaan unsur hara sangat berkaitan dengan kandungan bahan organik dan makhluk organik dalam tanah yang menguraikan mineral kompleks menjadi mineral sederhana anorganik yang dapat dikonsumsi oleh tanaman.

3.3 Pertanian Monokultur dan Hubungannya dengan Pertanian Berkelanjutan
3.3.1 Hubungannya Pertanian Monokultur dengan Ketersediaan hara
Dalam kaitannya dengan pertanian berkelanjutan, padi sawah yang ditanam secara monokultur belum memenuhi semua prinsip agroekosistem berkelanjutan. Hal tersebut dikarenakan lahan sawah yang ditanami padi secara monokultur belum dapat mengoptimalkan ketersediaan hara. Unsur hara pada pertanian monokultur lebih sering habis dan tidak dapat didaur ulang dikarenakan tanah pertanian monokultur miskin mikroba. Selain itu, ciri dari pertanian monokultur padi lahan sawah adalah ketergantungan terhadap pupuk dari luar. Penggunaan pupuk yang terus menerus dan berlebihan dapat mengakibatkan terjadi proses degradasi tanah yang menjadikan tanah tidak sehat baik secara fisik, kimiawi, maupun biologi.

3.3.2 Hubungan Pertanian Monokultur dengan Keragaman Spesies
Usaha pertanian modern memiliki ciri yaitu meminimalkan spesies yang tidak perlu dan mebudidayakan spesies tertentu yang diinginkan. Namun demikian, adanya kegiatan pertanian semacam itu akan berakibat pada rendahnya keragaman hayati pada lahan pertanian monokultur. Terlebih lagi, pertanian monokultur sering menggunakan bahan kimia berbahaya seperti pestisida yang mengakibatkan spesies yang dianggap merugikan mati. Matinya atau tidak adanya spesies tertentu akan berdampak pada terputusnya jaring-jaring makanan di daerah sawah yang ditanami padi. Terputusnya jaring-jaring makanan mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan ekologi. Selain itu, terputusnyajaring-jaring makanan akan mengakibatkan berkurangnya interaksi biologis yang menguntungkan dan sinergisme atantara tanaman dan hewan tertntu.

3.3.3 Hubungan Pertanian Monokulur dengan Strategi Agroekologi dalam Merancang Agroekosistem Berkelanjutan.
Salah satu strategi pertanian berkelanjutan adalah melakukan rotasi tanaman. Dalam pertanian monokultur padi sawah, prinsip rotasi tanaman telah dilakukan. Pola tanam yang sering digunakan adalah pergiliran padi dengan tanaman palawija. Adanya pergiliran padi dengan tanaman palawija akan membantu tanah untuk meningkatkan kesuburan tanah (nutrien).

3.3.4 Hubungan Pertanian Monokultur dengan Penggunaan Input Alami Lokal
Salah satu ciri pertanian berkelanjutan adalah mencipakan suatu bentuk pertanian yang mempertahankan produktivitas jangka panjang dengan mengoptimalkan sumber daya lokal (tanaman lokal) yang tersedia. Namun demikian, kebanyakan pertanian monokultur termasuk pertanian monokultur padi jarang sekali menggunakan input alami lokal. Hal tersebut dikarenakan pertanian monokultur sering diidentikan dengan pertanian industri bertujuan komersil yang memenuhi kebutuhan dan permintaan konsumen baik tingkat nasional maupun global. Dengan demikian pertanian monokultur jarang sekali menanam dan menggunakan sumber daya lokal (tanaman lokal).

3.3.5 Hubungan Pertanian Monokulur dengan Input Eksternal Non-Terbarukan
Salah satu ciri pertanian berkelanjutan adalah adanya kegiatan pertanian yang mengurangi penggunaan input eksternal dan non terbarukan yang berpotensi besar merusak lingkungan. Namun demikian, pertanian monokultur mengalami masalah dalam keberlanjutan ekologi. Hal tersebut dikarenakan pertanian monokultur sering menggunakan pestisida. Pestisida dalam hal ini dapat mereduksi kepadatan populasi serangga dan hama sasaran dengan cepat sekali. Namun demikian terdapat kesan sampingan lain yang bersifat negatif. Pertama, pengurangan kepadatan populasi serangga dan hama akan mereduksi persaingan intra spesifik dalam spesies serangga itu sendiri, sehingga daya kemampuan hidup, daya pembiakan, dan daya tumbuh serangga hama akan meningkat. Hal tersebut berarti generasi berikutnya akan terdapat lebih banyak serangga dan hama dari pada sebelum di semprotkan pestisida. Selain itu, pestisida dapat meningkatkan kelangsungan hidup serangga dan hama dalam bentuk ketahanan dan resistensi (Soeriaatmadja, 1997).

3.2.6 Hubungan Pertanian Monokulur dengan Efisiensi dan Efektifitas Pratek Pertanian.
Salah satu langkah proses menuju pertanian berkelanjutan adalah meningkatkan efisiensi dan efektifitas pratek pertanian. Namun demikian, pertanian monokultur secfara umum masih belum dapat mengurangi penggunaan input yang efisien. Kegiatan pertanian monokultur sering menggunakan alsintan yang memiliki emisis karbon tinggi. Hal tersebu dikarenakan kebanyakan lahan monokultur sanga luas dan dibutuhkan tenaga tambahan berupa mesin untuk mengelola lahan.

DAFTAR PUSTAKA

Soeriaatmadja, R.E. 1997. Ilmu Lingkungan. Bandung: ITB

Soetriono, Suwandari, Rijanto. 2006. Pengantar Ilmu Pertanian. Malang: Bayumedia Publishing.

Tohir, K.A. 1991. Seuntai Pengetahuan Usaha Tani Indonesia. Jakarta: Aneka Cipta.

Siregar, H. 1981. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Jakarta: P.T. Sastra Husada

Hardjowigeno, S. Dan Rayes, L. 2005. Tanah Sawah (Karakteristik, Kondisi, dan Permasalahan Tanah Sawah di Indonesia). Malang: Bayumedia Publishing.

About these ads

Posted on April 3, 2012, in Agriculture and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Reblogged this on emsybrothers.

    Suka

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.225 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: