ISLAM DAN TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA


ISLAM DAN TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA

TUGAS : Makalah Mata Kuliah Umum Agama

I. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Dalam perjalanan sejarah manusia, Islam  menempati posisi yang sangat penting. Selain menjadi salah satu agama besar, Islam juga melahirkan beberapa peradaban besar. Bekas-bekas peradaban tersebut  masih bisa  kita saksikan sekarang. Islampperupakan agama  terbesar  kedua dengan pemeluk  yang mencapai 1,2 milyar. Dari jumlah tersebut, sekitar 800 juta jiwa tinggal di 45 negara yang penduduknya  Islam, sedangkan sisanya berada di sekitar 149 negara yang mayoritas penduduknya memeluk  agama  non Islam.[1]

Sebagai sebuah agama yang terus berkembang, analisis historis untuk menghargai konsep umat merupakan faktor penting yang menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan  peradaban  Islam. Dalam wacana kontemporer, umat dugunakan sebagai  konsep analisis untuk menjelaskan kondisis sosial, ekonomi, dan politik di negara Islam. Dalam hal tersebut menurut Hassan (2006), perkembangan agama Islam salah satunya dapat dilihat melalui tingkat kesadaran umat Islam akan pluralisme budaya dan isu toleransi.[2]

Lebih lanjut  dikatakan bahwa, penyebab dari menculnya kesadaran umat Islam  akan pluralisme budaya dan isu toleransi disebabkan oleh pesatnya arus informasi yang masuk. Arus informasi tersebut dapat  berupa  informasi digital yang membuka batas-batas  geografis  yang  tidak  dapat ditembus ratusan tahun lalu. Dengan adanya era informasi global  ini,  kepercayaan umat Islam yang meyatakan  bahwa agama  Islam tidak sekedar  sebuah  agama,  namun  juga pandangan hidup sedikit  demi  sedikit terhapuskan. Menurut Hassan (2006), jaringan komunikasi global yang ada  sekarang membuat kaum  Muslim  dan  non-Muslim  mengalami  realitas  budaya  Islam yang  berbeda. Fakta  kejadian  semacam  ini  secara tidak  langsung  dapat berisikan pertukaran mengenai  kesamaan ajaran antara agama Islam dengan non-Islam sekaligus berisikan pertukaran informasi mengenai perbedaan-perbedaan prinsip diantara keduanya.[3]

Salah satu akibat  dari adanya permasalahan tersebut  diatas adalah munculnya konsep pemahaman kemajemukan agama, atau sering disebut sebagai konsep pluralisme agama. Pluralisme adalah sifat kemajemukan yang keutamaan (keunikan) dan kekhasan.  Pluralisme sebagaimana halnya seluruh fenomena dan mazhab pemikiran, memiliki sifat pertengahan atau  adil. Hal tersebut juga dipertegas dalam kitab  suci umat Islam (Al-Quran), bahwa salah satu kekhasan umat Islam dan salah satu karakteristik agama Islam adalah bahwa islam  merupakan  agama  yang moderat  atau  agama pertengahan.[4]

Dan, demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu….” (al-Baqarah: 143).[5]

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dengan  perkembangan zaman, Islam yang menerima moderenisasi dengan  konsep kemajemukan dan toleransi umat beragama adalah  benar jika ditanggapi dalam kadar yang seharusnya, dengan cara  merangkum kemajemukan mazhab-mazhab dan aliran yang diakui oleh konsep yang merangkum tataran  akidah Islam dengan  tataran kebudayaan dan nilai keimanan yang menyentuh ruang lingkup non-Muslim dalam tataran  yang  beragam dan bermacam-macam dibawah faktor kesatuan Islam.[6]

Dalam kitab suci umat Islam (Al-Quran) juga dikatakan  bahwa pluralitas atau  keberagaman merupakan keniscayaan dari kebesaran Yang Kuasa,  Allah SWT. Dalam Firmannya yang tercantum dalam Al-Quran, menyebutkan bahwa,

Dan, diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan  berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya  pada yang  demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang yang mengetahui” (ar-Rum: 22).[7]

Lebih lanjut, dalam bahasa agama, pluralisme atau kebinekaan merupakan sunnatullah (kepastian hukum Tuhan) yang bersifat abadi (perennial); argumen historis yang menunjukkan keniscayaan sejarah akan pluralisme agama ini, dikemukakan oleh Ismail Raji al-Faruqi bahwa kebinekaan atau pluralisme agama tersebut disebabkan oleh perbedaan tingkat perkembangan sejarah, peradaban dan lokasi umat yang menerimanya. Sejalan keniscayaan tersebut berkembang menjadi suatu agama historis atau tradisi agama yang spesifik dan beraneka plural.[8]

Untuk itu, Islam sebagai agama terakhir, harus menentukan sikapnya terhadap agama-agama yang datang mendahuluinya. Sesungguhnya Islam, dan agama lain adalah agama-agama yang saling berhubungan, yang perbedaan-perbedaan di antara ketiganya sangatlah kecil.

Bagian dari persoalan penting umat Islam adalah memahami dengan baik tentang gagasan (konsep) ‘pluralisme’ yang sejalur dengan totalitas pandangan dan keyakinan agama ini. Apa makna dan bagaimana Islam mendudukkan gagasan ini secara proporsional akan dikanji lebih lanjut dalam makalah ini, sehingga ide tentang pluralisme tidak bertabrakan dengan aqidah yang membentuk keyakinan Islam itu sendiri.

Untuk mencari solusi konflik antar umat beragama perlu adanya pendekatan-pendekatan yang tepat sesuai dengan akidah Islam. Pada tugas kelompok kali ini, akan dijelaskan mengenai paham pluralisme, dan melihat pluralisme dari sudut pandang agama Islam.

 

1.2 Rumusan Masalah

            1.  Bagaimana makna kerukunan dan toleransi antar umat beragama ?

            2.  Bagaimana peran agama Islam sebagai Rohmatan Lil Alamin ?

            3.  Apakah tujuan dari ukhuwah islamiyah dan insaniyah ?

 

1.3 Tujuan

            1.  Mengetahui makna kerukunan dan toleransi antar umat beragama

            2.  Mengetahui peran agama Islam sebagai Rohmatan Lil Alamin

            3.  Mengetahui tujuan dari ukhuwah islamiyah dan insaniyah

 

II. KAJIAN PUSTAKA

2.1 Agama Islam

  Agama Islam menurut etimologi merupakan jadian dari “aslama” dari bahasa Arab yang dalam bahasa Indonesia berarti: sejahtera, selamat, tidak cacat, damai, seimbang, dan patuh serta berserah diri. Dalam Al-Quran sendiri kata Islam mempunyai beberapa arti,  antara  lainsebagai lawan dari kata syirik. Hal tersebut  seperti  yang tersebut  dalam  kitab  suci Al-Quran :

“Sesungguhnya  aku (Nabi Ibrahim) diperiintahkan untuk  menjadi orang pertama yang mengislamkan diri dan janganlah  kamu menjadi sekalian tergolong ke dalam golongan orang yang syirik (menyekutukan Allah)”(A-an’am: 14).[9]

Dari uraian diatas dapatdiketahui bahwa secara terminologi yaitu istilah yang dipakai, islam antara lain memiliki arti patuh dan taat serta berserah diri kepada Allah secara menyeluruh  sehingga terwujudnya  “salam” dalam dunia maupun akhirat.[10] Lebih lanjut, dapat dikatakan bahwa secara terminologi, Islam adalah agama wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia, di mana pun dan kapan pun, yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Cukup banyak ahli dan ulama yang berusaha merumuskan definisi Islam secara terminologis. KH Endang Saifuddin Anshari  mengemukakan, setelah mempelajari sejumlah rumusan tentang agama Islam, lalu menganalisisnya, ia merumuskan dan menyimpulkan bahwa agama Islam adalah wahyu yang diurunkan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada segenap umat manusia sepanjang masa dan setiap persada. Islam juga dapat disebut sebagai suatu sistem keyakinan dan tata-ketentuan yang mengatur segala perikehidupan dan penghidupan asasi manusia dalam pelbagai hubungan: dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lainnya.[11]

Selain pengertian secara etimologi dan terminologi, Islamjuga  dapat diartikan dari sudut pandang pengertian Arab. Pengertian Islam dalam pengertian Arab disebut Dinul Islam. Kata Islam berasal dari kata kerja Aslama yang artinya menyerah, tunduk, atau patuh. Dari asal kata aslama ini diderivisikan menjadi beberapa arti yaitu salam artinya keselamatan, taslim artinya penyerahan, salam artinya memelihara, sullami artinya titian dan silm artinya perdamaian. Dinul Islam mengandung pengertian peraturan yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada para rasul untuk ditaati dalam rangka menciptakan keselamatan, kesejahteraan dan perdamaian bagi umat manusia.[12]

Sebagai sebuah agama, Islam memiliki peraturan dan norma. Dalam kaitannya dengan norma, islam merupakan agama yang paling lengkap dan sempurna. Hal tersebut dikarenakan dua alasan, yaitu dapat ditinjau dari sudut pandang agama dan dilihat dari sudut pandang aturan atau biasa disebut syariah. Penggabungan antara syariah dengan Islam memberikan arit bahwa norma-norma agama Islam tersebut diatas harus benar-benar sesuai dengan  ajaran Islam  yang dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW.[13]

2.2 Toleransi Beragama

Kerukunan antar umat beragama dalam pandangan Islam (seharusnya) merupakan suatu nilai yang terlembagakan dalam masyarakat. Islam mengajarkan bahwa agama Tuhan adalah universal karena Tuhan telah mengutus Rasul-Nya kepada setiap umat manusia (QS. al-Nahl (16): 36). Selain itu, ajaran Islam juga mengajarkan tentang pandangan tentang kesatuan kenabian (nubuwwah) dan umat yang percaya kepada Tuhan (QS. al-Anbiya’ (21): 92).

Toleransi (Arab: as-samahah) adalah konsep modern untuk menggambarkan sikap saling menghormati dan saling bekerjasama di antara kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda baik secara etnis, bahasa, budaya, politik, maupun agama. Toleransi, karena itu, merupakan konsep agung dan mulia yang sepenuhnya menjadi bagian organik dari ajaran agama-agama, termasuk agama Islam. Toleransi itu sendiri memiliki beberapa makna dan arti, diantaranya adalah : Kerelaan hati karena kemuliaan dan kedermawanan, Kelapangan dada karena kebersihan dan ketaqwaan, Kelemah lembutan karena kemudahan, Muka yang ceria karena kegembiraan, Rendah diri dihadapan kaum muslimin bukan karena kehinaan, Mudah dalam berhubungan sosial (mu’amalah) tanpa penipuan dan kelalaian, Menggampangkan dalam berda’wah ke jalan Allah tanpa basa basi, dan Terikat dan tunduk kepada agama Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa ada rasa keberatan[14]

Dalam konteks toleransi antar-umat beragama, Islam memiliki konsep yang jelas yaitu tidak ada paksaan dalam hal mengenai agama.hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Quran yang berbunyi,

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan)antara jalan yang benar dan jalan yang sesat.” (Al Baqarah: 256).[15]

 Fakta itu menunjukkan bahwa masalah toleransi dalam Islam bukanlah konsep asing. Toleransi adalah bagian integral dari Islam itu sendiri. Kemudian rumusan-rumusan ini disempurnakan oleh para ulama dengan pengayaan-pengayaan baru sehingga akhirnya menjadi praktik kesejarahan dalam masyarakat Islam.[16]

Menurut ajaran Islam, toleransi bukan saja terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap alam semesta, binatang, dan lingkungan hidup.  Dengan makna toleransi yang luas semacam ini, maka toleransi antar-umat beragama dalam Islam memperoleh perhatian penting dan serius. Apalagi toleransi beragama adalah masalah yang menyangkut eksistensi keyakinan manusia terhadap Allah. Ia begitu sensitif, primordial, dan mudah membakar konflik sehingga menyedot perhatian besar dari Islam.

2.2 Rahmatan Lil Alamin

Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Pernyataan  bahwa Islam adalah agamanya yang memiliki rahmat bagi alam terdapat pada firman Allah pada kitab suci umat Islam yaitu Al-Quran yang berbunyi,

Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia(QS. Al Anbiya: 107).

Secara bahasa, rahmat memiliki arti kelembutan yang berpadu dengan rasa iba atau dengan kata lain rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang. Sehingga dapat disimpulkan  bahwa diutusnya Nabi Muhammad adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia. Para ahli tafsir kemudian menjabarkan makna rahmatan lil alamin tersebut secara rinci, yang diantaranya mengatakan bahwa Islam merupakan agama yang membawa rahmat bagi setiap manusia.[17]

Dalam pernyataan rahmatan lil ‘alamin, Allah SWT memberikan rahmat bagi seluruh makhluknya dengan diutusnya pemimpin para Nabi yaitu Nabi Muhammad. Beliau diutus dengan membawa kebahagiaan yang besar bagi seluruh umat manusia. Beliau juga menyelamatkan manusia dari kesengsaraan yang besar. Beliau menjadi sebab tercapainya berbagai kebaikan di dunia dan akhirat. Beliau memberikan pencerahan kepada manusia yang sebelumnya berada dalam kejahilan. Beliau memberikan hidayah kepada menusia yang sebelumnya berada dalam kesesatan. Inilah yang dimaksud rahmat Allah bagi seluruh manusia.

Kontribusi Islam pada peradaban dunia diabad pertengahan adalah contoh prestasi universal konsep Rahmatan lil ‘alamin. Pada saat zaman pertengahan tersebut, Timur Tengah adalah pusat ilmu dan budaya. Konsep Rahmatan lil ‘alamin juga memberikan keuntungan sendiri bagi  umat Islam, keuntungan tersebut berupa kemudahan bagi umat Islam dalam berpartisipasi dalam dunia yang lebih luas tanpa dibatasi oleh agama dan budaya.[18]

2.3 Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Insaniyah

2.3.1 Ukhuwah

            Al-Qur’an mengenalkan lima dimensi ukhuwah: (1) persaudaraan sesama manusia (ukhuwah insaniyah), (2) persaudaraan nasab dan perkawinan/semenda (ukhuwah nasabiyah shihriyah), (3) persaudaraan suku dan bangsa (ukhuwah sya’biyah wathaniyah), (4) persaudaraan sesama pemeluk agama (ukhuwah diniyah), (5) persaudaraan seiman-seagama (ukhuwah imaniyah). Namun demikian, Persaudaraan sesama manusia dilandasi oleh kesamaan dan kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT.  Hal tersebut sesuai dengan ajaran yang terkandung dalam Al-Quran yang berbunyi,[19]

            “Hai manusia! Kami ciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan suku bangsa, supaya kamu saling mengenal bukan supaya saling membenci, bermusuhan. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah yang paling bertakwa. Allah Mahatahu, Maha Mengenal.” (Al-Hujurat: 13).

 

2.3.1 Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah berasal dari kata dasar akhu yang berarti saudara, teman, atau sahabat. Kata ukhuwah sebagai kata jadian yang memiliki pengertian persaudaraan, persahabatan, dan dapat pula berarti pergaulan. Sedangkan kata Islamiyah berasal dari kata Islam yang dalam hal ini memberi / menjadi sifat dari ukhuwah, sehingga jika dipadukan antara kata ukhuwah dan Islamiyah akan berarti persaudaraan umat islam atau pergaulan secara dan menurut  aturan agama Islam.[20]

Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa pengertian Ukhuwah Islamiyah adalah gambaran tentang hubungan antara orang-orang Islam sebagai satu ikatan persaudaran, dimana antara yang satu dengan yang lainnya seakan-akan berada dalam satu ikatan.[21]

            Dikarenakan ukhuwah diartikan sebagai sebuah persaudaraan atau hubungan antar pemeluk muslim,  maka dapatdikatakan bahwa terapat sebuah kewajiban antar umat Islam, sehingga terciptanya rasa saling bersaudara dan menghormati.

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa Ukhuwah Islamiyah merupakan hal yang pokok dan mendasar yang harus ditegakkan demi kelangsungan kejayaan umat Islam. Agar terciptanya Ukhuwah Islamiyah yang baik, maka dibutuhkan tindakan yang berprinsip Amar Makruf Nahi Mungkar, agar persatuan dan kesatuan dikalangan umat dapat ditegakkan. Bagi pemeluk ajaran Islam, Ukhuwah Islamiyah merupakan modal untuk menuju kemenangan cita-cita Islam.[22]

3.2.2 Ukhuwah Insaniyah

Makna Ukhuwah Insaniyah adalah persaudaraan sesama manusia, Ukwah Insaniyah dilandasi oleh ajaran bahwa  sesama umat manusia adalah makhluk Allah.[23] Semua umat manusia itu bersaudara. Pada ajaran Islam, telah dikatakan bahwa, Allah di bumi ini telah diciptakan banyak keberagaman, perbedaaan warna kulit dan sebagainya. Hal tersebut senada dengan firman Allah SWT yang berbunyi,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (Ar-Rum: 22)

III. METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu

          Tugas kelompok ini dibuat dan dilaksanakan di Jember pada tanggal 10-14 maret 2012.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

            1. Alat Elektronik berupa komputer untuk membantu pengetikan.

            2. Sambungan Jaringan Internet.

3.2.2 Bahan

            1. Media referensi berupa buku.

2. Media referensi berupa tulisan, kajian, dan artikel on line berupa Internet.

3.3 Cara Kerja

            1. Mencari rumusan masalah.

            2. Mencari dan menyusun kerangka makalah.

            3. Membahas permasalahan sesuai dengan referensi yang ada.

            4. Membuat kesimpulan dari makalah.

IV. PEMBAHASAN

4.1 Makna Toleransi dan Kerukunan antar Umat Beragama

            Dalam Islam, pluralitas merupakan kecenderungan Individual dan perbedaan masing-masing pihak masuk dalam kategori  fitrah yang telah digariskan oleh Tuhan umat Islam, yaitu Allah bagi seluruh umat manusia. Pluralitas atau keragaman merupakan ketentuan (sunnah) dari Allah SWT yang tidak dapat dirubah atau digantikan.[24] Hal tersebut seperti yang dicantumkan dalam AL-Quran sebagagai berikut,

            “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia mat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan, untuk itulah Allah menciptakan mereka….” (Hud: 118-119).

            Berdasarkan pernyataan diatas, adalah sebuah keniscayaan jika Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang beragam pula. Manusia diciptakan dari yang satu, yaitu Adam a.s. dan Istrinya Hawa, kemudian mereka memiliki keturunan. Hal tersebut tercantum dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa,

            “….Dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan, bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan periharalah hubungan silaturahmi….”(an-Nisa: 1).[25]

            Dalam kerangka kesatuan ini, terjadi pluralitas perbedaan antara ras, warna kulit, umat, bangsa, agama, dan lain sebagainya. Dalam Al-Quran yang merupakan kitab suci umat Islam dijelaskan pada al-Baqoroh: 62, bahwa,

            “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiin, siapa saja mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

            Makna ayat tersebut diatas sangat  jelas, menurut Sayyid Husseyn Fadhullah dalam Rakhmat (2006), dijelaskan bahwa keselamatan pada hari akhirat akan dicapai oleh semua kelompok agama yang berbeda-beda dalam pemikiran danpandanganagama berkenaan dengan akidah dan kehidupan dengan satu syarat yaitu memenuhi kadiah keimanan kepada Allah.[26]

            Terhadap pernyataan tersebut kemudian dapat diartikan bahwa hukum untuk menghormati umat beragama lain sangatlah diperlukan yang namanya toleransi. Hal tersebut juga sebenarnya telah tercantum dalam makna agama Islam itu sendiri. Hal tersebut dikarenakan Islam secara definisi adalah “damai”, “selamat” dan “menyerahkan diri”. Definisi Islam yang demikian sering dirumuskan dengan istilah “Islam agama rahmatal lil’ālamîn” (agama yang mengayomi seluruh alam). Ini berarti bahwa Islam bukan untuk menghapus semua agama yang sudah ada. Islam menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati. Islam menyadari bahwa keragaman umat manusia dalam agama dan keyakinan adalah kehendak Allah.[27]

            Lebih lanjut dikatakan bahwa toleransi beragama menurut Islam bukanlah untuk saling melebur dalam keyakinan. Bukan pula untuk saling bertukar keyakinan di antara kelompok-kelompok agama yang berbeda itu. Toleransi di sini adalah dalam pengertian mu’amalah (interaksi sosial). Jadi, ada batas-batas bersama yang boleh dan tak boleh dilanggar. Inilah esensi toleransi di mana masing-masing pihak untuk mengendalikan diri dan menyediakan ruang untuk saling menghormati keunikannya masing-masing tanpa merasa terancam keyakinan maupun hak-haknya.[28]

Dalam Islam, syari’ah telah menjamin bahwa tidak ada paksaan dalam agama. Karena pemaksaan kehendak kepada orang lain untuk mengikuti agama kita adalah sikap historis, yang tidak ada dasar dan contohnya di dalam sejarah Islam awal. Justru dengan sikap toleran yang amat indah inilah, sejarah peradaban Islam telah menghasilkan kegemilangan sehingga dicatat dalam tinta emas oleh sejarah peradaban dunia hingga hari ini dan insyaallah di masa depan.[29]

              Walaupun disebutkan diatas bahwa Islam memahami dan melegalkan toleransi antar umat dan mengakui pluralitas (keberagaman), namun islam tetap tidak membenarkan adanya pluralisme. Islam hanya mengakui adanya pluralitas agama dan keyakinan. Maknanya Islam hanya mengakui adanya agama dan keyakinan di luar agama islam, serta mengakui adanya identitas agama-agama selain Islam. Islam tidak memaksa pemeluk agama lain untuk masuk Islam. Mereka dibiarkan memeluk keyakinan dan agama mereka. Hanya saja, pengakuan Islam terhadap pluralitas agama tidak boleh dipahami bahwa Islam juga mengakui adanya kebenaran pada agama selain Islam. Islam tetap mengajarkan bahwa agama di luar Islam adalah kesesatan, meskipun diijinkan hidup berdampingan dengan Islam. Hal tersebbut dikarenakan Islam merupakan  satu-satunya agama yang diridoi Allah.[30] Hal tersebut diperkuat firman Allah dalam Al-Quran bahwa,

“Sesungguhnya agama yang diridloi di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imron:19).

dan juga firman Allah dalam Al-Quran yang berbunyi,

“Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imron:85)

4.2 Agama Islam sebagai Agama Rohmatan Lil Alamin

            Agama islam adalah agama ALLAH swt, demikian firman ALLAH swt dalam surat Ali Imron ayat 19:

Artinya :“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”.

Agama islam adalah agama yang diajarkan oleh Allah SWT oleh nabi-nabi dan rosul-rosul Allah SWT, ajaran yang diajarkan oleh semua kitap-kitap Allah SWT yaitu Al-Quran. Agama islam tidak langsung turun dengan utuh ke bumi tetapi dengan bertahap. Dalam al-quran Allah SWT berfirman di surat Ghafir (Al-mu’min) ayat 78 :

Artinya: “Dan sesungguhnya kami telah utus rosul-rosul sebelum engkau (muhammad)di antara mereka ada yang kami kisahkan atas engkau (dalam al-quran) dan diantara mereka ada yang tidak kami kisahkan kepada engkau.”

            Ajaran yang diajarkan kepada nabi-nabi dan rosul-rosul sebelum Nabi Muhammad saw belum lengkap karena pada zaman itu keadaan manusia masih sangat terbelakang, belum pandai menulis maupun membaca. Kemudian setelah masyarakat kala itu sudah pandai membaca dan menulis, Allah SWT melengkapi nabi-nabi dan rosul-rosul itu dengan menurunkan kitab-kitab Allah SWT, tetapi pada waktu itu masyarakat ada yang berniat jahat maka kebanyakan kitab-kitab Allah SWT tidak terpelihara dan banyak yang di kurangi maupun di tambahi, bahkan ada sampai berubah sehingga tidak terjaga keasliannya lagi, karena terdapat perubahan-perubahan itulah di dalam masyarakat timbul perselisihan yang mengangkibatkan perpecahan di antara penganut agama islam, sampai pecah menjadi Yahudi dan Kristen, akan tetapi akhirnya Allah SWT mengutus nabi dan rosul penutup yang memberi petunjuk dan pedoman atas perselisihan yang timbul tersebut serta melengkapkan dan menyempurnakan semua ajaran yang diajakan oleh Allah SWT sehingga tidak perlu lagi mengutus nabi dan rosul yang baru. Islam adalah agama oyang terakhir dengan disempurnakan oleh nabi dan rosul yang terakhir.[31] Dalam firman Allah SWT surat Al-maidah ayat 3 sudah dijelaskan :

Artinya:”Hari ini Aku (ALLAH) telah sempurnakan agamamu, dan Aku telah lengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan aku ridho (puas,seang) islam menjadi agamamu.”

            Kitab yang disempurkan oleh nabi Muhammad saw adalah Al-quran, Rosullah saw telah menyempurnakan Al-quran dan menghafalkan isi dari Al-quran. Allah SWT telah berfirman dalam surat Al-baqoroh ayat 2 yang menjelaskan bahwa Al-quran harus dijaga dan dirawat keasliannya yaitu:

Artinya: “Hanya kitab itulah (Al-quran) yang tidak diragukan(kebenarannya sebaga kalam illahi), menjadi petunjuk bagi orang-orang taqwa.”

Ada kisah yang membuat seseorang memberi penghargaan atas isi-isi didalam Al-quran. Napoleon Bonaparte setelah menguasai seluruh Eropa termasuk Mesir, lalu ia datang ke mesir dan mempelajari tentang islam dan Al-quran sampai ia menyatakan penghargaan atas Al-quran dan berkata:

            “i hope the time is not far off when i shall be able to unite all the wish and educated men of all the countries and establish a uniform regime based on the prinsiple of the Quran which alone are true and which alone can be lead men to happines.”

(saya berharap tidak lama lagi saya akan dapat mempersatukan semua orang terpelajar dan pintar dari semua negara, lalu membentuk suatu angkatan yang seragam berdasarkan pokok-pokok ajarang Al-quran, karena hanya Al-quran yang benar dan hanya Al-quran sajalah yang membawa manusia kepada kegembiraan”[32]

            Agama islam merupakan agama rohmatan lil alamin yang maksudnya agama yang menghadirkan kedaiman bagi manusia dan alam semesta serta dengan kitab yang telah disempurakan dan telah terjaga keasliannya. Dengan diturunkannya nabi muhammad saw bukan hanya sebagai penyempuna kitab-kitap allah tetapi juga sebagai rahmat seluruh alam semesta dengan agama yang dibawanya yaitu islam maka Rosulullah saw menjadi rahmat seluruh umat manusia. Dalam firman Allah SWT telah menegaskan di surat Al-Anbiya ayat 107

Artinya:“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)

Islam selalu mengedepankan sifat toleransi dan sifat kasih sayang kepada seluruh ciptaan Allah SWT di dunia ini. “Ahli fikir sejarah terbesar dalam abad ini yaitu Arnold Joseph Toynbee (asal inggris lahir 14 April 1889, wafat 22 oktokber 1975), mengarang banyak buku dan yang paling terkenal yang terakhir adalah “A study of history”, 12 jilid. Ia tekun mempelajari sejarah dalam waktu 27 tahun. Beliau tulis bahwa agama adalah kunci dari misteria eksistensi. Beliau mengagumi Rosulullah sebagai orang terbesar dalam sejarah islam umat manusia. Islam adalah satu-satunya yang dapat menyelamatkan peradapan umat manusia dari kehancuran. Yang sangat dihargai oleh Toynbe dari ajaran agama islam ada 2 hal adalah: sifat toleransi yang tinggi dan tidak adanya prasangka bangsa di kalangan orang islam”[33]. Dalam pernyataan itu merupakan salah satu sikap dan sifat ciri-ciri orang islam. Sebagai agama yang rahmatan lil alamin islam juga tidak melupakan hak-hak setiap manusia. Kesewenangan, ketidak-adilan, kekerasan yang tidak dibenarkan itu merupakan salah satu hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT, sebaliknya islam adalah agama yang menganjurkan untuk saling menjaga dan salaing memelihara.

            Sebagai agama yang rohmatan lil alamin, Islam selalu memelihara kedaiman dan kasih sayang terhadap semua sesama ciptaan Allah SWT. Islam melarang merusak dan menebarkan permusuhan di antara ciptaan-Nya. Pesan kerahmatan islam benar benar tersebar di dalam kitab-kitab islam baik di al-quran maupun hadist, bahkan kata-kata rahmat dan rahim yang di ambil dari kata rahmat merupakan nama-nama Allah SWT di asmaul husna. Sebagaimana diketahui dalam syariat islam, ada dua bentuk hubungan, yaitu ibadah dan mu’amalah yang bersumber kepada al-quran dan sunnah Rosulullah. Ibadah adalah seperangkat aktivitas dengan ketentuan-ketentuan dengan sairiat yang mengatur pola hubungan manusia dengan tuhanNya.  Sedangkan mu’amalah ialah usaha atau pola daya hubungan anatara manusia yang satu dengan manusia yang lain sekaligus dengan lingkungan sekitar (alam). Hubungan antar sesama manusia disebut hablum minannas. Semua manusia diciptakan dari satu asal yang sama. Tidak ada kelebihan yang satu dari yang lainnya, kecuali yang paling baik (bertakwa) dalam menunaikan fungsinya sebagai pemimpin(khalifah) dimuka bumi sekaligus sebagai hamba Allah Swt. Atas prinsip persamaan itu, maka setiap orang mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Islam tidak memberi hak-hak istimewa bagi seseorang atau golongan lainnya, baik dalam bidang kerohanian, maupun dalam bidang politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan. Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam kehidupan masyarakat, dan masyarakat mempunyai kewajiban bersama atas kesejahteraan tiap-tiap anggotanya. Islam menentang setiap bentuk diskriminasi, baik diskriminasi secara keturunan, maupun karena wana kulit, kesukuan, kebangsaan, kekayaan dan lain sebagainya.  Dari sinilah konsep ajaran Islam dapat diketahui dan dipelajari. Persaudaraan manusia semakin dikembangkan, karena sesama manusia bukan hanya berasal dari satu bapak satu ibu (Adam dan Hawa) tetapi karena satu sama lain saling membutuhkan, saling menghargai dan saling menghormati. Pada akhirnya terciptalah kehidupan yang tenteram dan sejahtera. Itulah hakikat Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin

4.3 Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Insaniyah

Manusia sebagai makhluk sosial tidak pernah dapat hidup sendiri, ia membutuhkan hubungan dengan orang lain. Agama Islam menekankan hubungan sesama muslim berdasarkan kesamaan iman. Karena iman merupakan dasar keyakinan yang berpengaruh pada seluruh perilaku seorang muslim. Rasulullah mengajarkan umatnya untuk saling memberikan perhatian dan kepedulian terhadap sesama muslim, sehingga terwujud ukhuwwah islamiah yang penuh kasih sayang.

4.3.1. Definisi Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah yang biasa diartikan sebagai “persaudaraan”, terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti “memperhatikan”. Makna asal ini memberi kesan bahwa persaudaraan mengharuskan adanya perhatian semua pihak yang merasa bersaudara.

Ukhuwah atau persaudaraan lahir karena adanya persamaan-persamaan, semakin banyak persamaan semakin kuat persaudaraan itu. Ukhuwwah Islamiah didasarkan kepada persamaan pada persoalan yang paling mendasar dalam hidup, yaitu persamaan aqidah.[34] Persamaan ini melahirkan adanya perhatian dan keakraban, sehingga derita yang dialami satu pihak dirasakan oleh pihak yang lain (Al Hujurat: 10).

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”(Al-Hujarat:10).

Kasih sayang yang ikhlas terlahir dari kesamaan iman itu merupakan dasar utama pergaulan di kalangan umat islam. Kasih sayang tersebut akan memancar dan membentuk pola hubungan antar kaum muslimin yang memandang orang lain sebagaimana dirinya sendiri.

Kasih sayang dalam ukhuwwah islamiah akan membentuk hubungan yang akrab,  saling mengasihi, dan saling memberikan perhatian.

4.3.1.1  Macam-Macam Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah Islamiah adalah ukhuwah yang bersifat Islami atau yang diajarkan oleh Islam. Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menyinggung masalah ukhuwah Islamiyah dan dapat kita simpulkan bahwa di dalam kitab suci ini memperkenalkan paling tidak empat macam persaudaraan yaitu, 1. Ukhuwwah  ‘ubudiyyah  atau   saudara   kesemakhlukan   dan kesetundukan kepada Allah; 2. Ukhuwwah  insaniyyah (basyariyyah) dalam arti seluruh umat manusia adalah bersaudara, karena mereka  semua  berasal  dari seorang  ayah  dan  ibu. Rasulullah Saw. juga menekankan lewat sabda beliau,Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.Hamba-hamba Allah semuanya bersaudara; 3. Ukhuwwah wathaniyyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan  dalam keturunan dan kebangsaan; 4. Ukhuwwah fi din Al-Islam, persaudaraan antar sesama Muslim. Rasulullah n yang datang sesudah (wafat)-ku.[35]

4.3.1.2  Hal-hal yang Menguatkan Ukhuwah Islamiyah:

  1.  Memberitahukan kecintaan kepada yang kita cintai
    Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda: “ Ada seseorang berada di samping Rasulullah lalu salah seorang sahabat berlalu di depannya. Orang yang disamping Rasulullah tadi berkata: ‘Aku mencintai dia, ya Rasullah.’ Lalu Nabi menjawab: ‘Apakah kamu telah memberitahukan kepadanya?’ Orang tersebut menjawab: ‘Belum.’ Kemudian Rasulullah bersabda: ‘Beritahukan kepadanya.’ Lalu orang tersebut memberitahukan kepadanya seraya berkata: ‘ Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.’ Kemudian orang yang dicintai itu menjawab: ‘Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.”
  1.  Memohon didoakan bila berpisah“Tidak seorang hamba mukmin berdo’a untuk saudaranya dari kejauhan melainkan malaikat berkata: ‘Dan bagimu juga seperti itu” (H.R. Muslim).
  1.  Menunjukkan kegembiraan dan senyuman bila berjumpa“Janganlah engkau meremehkan kebaikan (apa saja yang dating dari saudaramu), dan jika kamu berjumpa dengan saudaramu maka berikan dia senyum kegembiraan.” (H.R. Muslim).
  1.  Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim)“Tidak ada dua orang mukmin yang berjumpa lalu berjabatan tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah.” (H.R Abu Daud dari Barra’).
  1.  Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara).
  2.  Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu.
  3.  Memperhatikan saudaranya dan membantu keperluannya.
  4.  Memenuhi hak ukhuwah saudaranya.
  5.  Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan.

4.3.1.4 Manfaat Ukhuwah Islamiyah

Banyak persaudaraan lain yang bukan karena islam dan persaudaraan itu tidak akan kuat disebabkan mereka tidak memenuhi persyaratan ukhuwah, yaitu kurangnya mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah yang bersungguh-sungguh.
Betapa indah ukhuwah islamiyah yang diajarkan Allah SWT. Bila umat islam melakukannya, tentunya terasa lebih manis rasa iman di hati dan terasa indah hidup dalam kebersamaan.

     Ukhuwah Islamiyah merupakan hal yang pokok dan mendasar yang harus ditegakkan demi kelangsungan kejayaan umat Islam, maka dari Umat Islam harus selalu meningkatkan dakwah Islamiah dan Amar Makruf Nahi Mungkar, agar persatuan dan kesatuan dikalangan umat dapat ditegakkan. Sekaligus umat Islam harus senantiasa menyadari akan pentingnya Ukhuwah Islamiyah sebagai modal menuju kemenangan cita-cita Islam. Kemenangan itu tidak akan tercapai tanpa adanya kekuatan. Dan kekuatan tidak akan terwujud tanpa adanya persatuan. Sedangkan persatuan tidak akan mungkin tercapai tanpa adanya Ukhuwah Islamiyah.

4.3.2        Ukhuwah Insaniyah

4.3.2.1 Pengertian Ukhuwah Insaniah

Persaudaraan dengan seluruh umat manusia (Ukhuwah Insaniyah) mengandung arti bahwa seluruh umat manusia adalah saudara karena mereka berasal dari seorang ayah dan ibu. Manusia mempunyai motivasi dalam menciptakan iklim persaudaraan hakiki yang tumbuh dan berkembang atas dasar rasa kemanusiaan yang bersifat universal.[36]

Seluruh manusia di dunia adalah saudara. Tata hubungan dalam Ukhuwah Insaniyah menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan martabat kemanusiaan untuk mencapai kehidupan yang sejahtera, adil dan damai. Ukhuwah Insaniyah bersifat solidaritas kemanusiaan.[37]

Semua umat manusia itu bersaudara. Allah SWT dalam Islam memang telah menegaskan bahwa di bumi ini telah diciptakan banyak kepentingan, perbedaaan warna kulit dan sebagainya.[38]  Kita simak firman Allah SWT berikut:
           “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”  (ar-Rum:22).

4.3.2.2  Contoh Ukhuwah Insaniah

  1. Menyantuni orang Non Muslim yang lemah
  2. Memaafkan orang Non Muslim yang berbuat kesalahan
  3. Bergaul dengan sesama manusia dengan baik
  4. Mengupayakan sikap perdamaian (rekonsiliasi) jika terjadi perselisihan
  5. Kadang-kadang harus bersikap tegas terhadap orang yang ingkar (kafir).
  6. Memohonkan ampunan Allah untuk mereka di kala mereka masih hidup


 

V. KESIMPULAN DAN SARAN

 

5.1 Kesimpulan

  1. Islam menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling    menghormati. Islam menyadari bahwa keragaman umat manusia dalam agama dan keyakinan adalah kehendak Allah. Namun didalam Al-Quran dijelaskan bahwa satu-satunya agama yang diridhoi adalah Agama Islam.
  2. hakikat Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin dibuktikan dengan rasa saling menghormati umat manusia. Dalam konteeks perbedaan agama, “Islam agama rahmatal lil’ālamîn” (agama yang mengayomi seluruh alam) memberikan dasar bahwa Islam mengakui dan tidak menghapus ajaran-ajaran Allah terdahulu.
  3. Ukhuwah Islamiah didasarkan kepada persamaan pada persoalan yang paling mendasar dalam hidup, yaitu persamaan aqidah. Sedangkan Ukhuwah Insaniyah adalah hubungan yang menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan martabat kemanusiaan untuk mencapai kehidupan yang sejahtera, adil dan damai. Lebih lanjut dapat  dikatakan bahwa Ukhuwah Insaniyah bersifat solidaritas kemanusiaan.

5.2 Saran

Tugas makalah kelompok ini disadari belumlah sempurna dikarenakan keterbatasan waktu dan ilmu dari para  pembuatnya. Untuk itu kegiatan diskusi dan jejak pendapat sangatlah diperlukan untuk meningkatkan pemahaman secara lebbih mendalam mengenai makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA BUKU

Arifin Bey. (Tanpa Tahun). Hanya Islam. Surabaya: PT bima ilmu.

Cherfils.(Tanpa Tahun). Bonarparte et Islam. [Tanpa Penerbit].

Hasan Riaz. 2006. Keragaman Iman Studi Komperatif  Masyarakat Muslim. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Ibrahim Muslim. Pendidikan Agama Islam Mahasiswa. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Imarah Muhammad. 1999. Islam dan Pluralitas Perbedaan dan Kemajemukan dalam Bingkai Persatuan. Jakarta: Gema Insani Press.

 

Jalaluddin Rakhmat. 2006. Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaaan. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.

Suryana dkk. 1996. Pendidikan Agama Islam. Bandung: Tiga Mutiara.

DAFTAR PUSTAKA INTERNET

Admin, “Pendekatan Interfaith” http://ibtikarizzan.wordpress.com/, [12 Maret 2012].

 

Admin, “Arti Islam : Etimologis dan Terminologis”, http://pusdai.wordpress.com/2008/11/12/arti-islam-etimologis-terminologis/, [12 Maret 2012].

 

Admin, “Islam Rahmatan Lil Alamin”, http://www.facebook.com/notes/jasmine-slalu-hepi-semoga-kamu-mendapat-hidayah-allah/apa-itu-islam-rahmatan-lil-alamin-/21019, [12 Maret 2012].

 

Admin, “Toleransi (As-Samahah) dalam Pandangan Islam”, http://aljaami.wordpress.com, [12 Maret].

 

Admin, “Toleransi Umat Beragama dalam Pandangan Islam”, http://www.annaba-center.com, [12 Maret 2012].

 

Admin, “Islam yang  Rahmatan Lil ‘Alamin”, http://muslim.or.id/al-quran/islam-rahmatan-lil-alamin.html, [12 Maret 2012].

 

Admin, “Ukwah dan Kerukunan dalam Islam”, http://thepowerofsilaturahim.com, [12 Maret 2012].

 

Admin, “Kerukunan Umat Beragama”, http://tafany.wordpress.com/2009/12/24/, [12 Maret 2012].

 

Admin, “Motivasi Ukwah Islamiyah Insaniyah dan Wathoniyah”, http://mnhmotivator.blogspot.com,               [12 Maret 2012].

 

Admin, “Kerukunan antar Umat Beragama”, http://lukito75fatwa.blogspot.com/2010/12/kerukunan-antar-umat-beragama.html,  [12  Maret 2012].

 

Admin, “Toleransi antar Umat Beragama dalam Pandangan Islam”, http://www.annaba-center.com/main/kajian/detail.php?detail=20090312204755, [12 maret 2012].

 

Admin, “Toleransi antar Umat Beragama dalam Pandangan Islam”, http://www.annaba-center.com/main/kajian/detail.php?detail=20090312204755, [12 Maret 2012].

 

Admin, “Pluralisme Agama dalam Pandangan Islam”, http://www.muslimdaily.net, [13 Maret 2012].

 

Jamilatun Insan, “Islam yang Rohmatan Lil Alamin”, http://regional.kompasiana.com,  [ 12 Maret 2012].

 

Quraish Shihab, “Wawasan Islam”, http://media.isnet.org/islam/Quraish,  [13 Maret 2012].

Sri Wulandari, “Islam Itu Rahmatan Lil ‘Alamin Bukan Rahmatan Lil Muslimin”, http://muda.kompasiana.com/2011/11/13/islam-itu-rahmatan-lil-alamin-bukan-rahmatan-lil-muslimin/, [12 Maret 2012].



[1] Riaz Hasan, Keragaman Iman Studi Komperatif  Masyarakat Muslim, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006, hlm. 12.

[2] Ibid, hal 270.

[3] Ibid, hal 272.

[4]Muhammad Imarah, Islam dan Pluralitas Perbedaan dan Kemajemukan dalam Bingkai Persatuan, Gema Insani Press, Jakarta, 1999, hlm. 11.

[5]Ibid, hal 11.

[6]Ibid, hal 11.

[7]Ibid, hal 12.

[8]Admin, “Pendekatan Interfaith” http://ibtikarizzan.wordpress.com/, [12 Maret 2012].

[9]Muslim Ibrahim, Pendidikan Agama Islam Mahasiswa, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1996, hlm. 15.

[10]Ibid.

[11]Admin, “Arti Islam : Etimologis dan Terminologis”, http://pusdai.wordpress.com/2008/11/12/arti-islam-etimologis-terminologis/, [12 Maret 2012].

[13]Muslim Ibrahim, Pendidikan Agama Islam Mahasiswa, Penerbit Erlangga, 1996,  hlm. 23.

[14]Admin, “Toleransi (As-Samahah) dalam Pandangan Islam”, http://aljaami.wordpress.com, [12 Maret].

[15]Jamilatun Insan, “Islam yang Rohmatan Lil Alamin”, http://regional.kompasiana.com,  [ 12 Maret 2012].

[16]Admin, “Toleransi Umat Beragama dalam Pandangan Islam”, http://www.annaba-center.com, [12 Maret 2012].

[17]Admin, “Islam yang  Rahmatan Lil ‘Alamin”, http://muslim.or.id/al-quran/islam-rahmatan-lil-alamin.html, [12 Maret 2012]

[19]Admin, “Ukwah dan Kerukunan dalam Islam”, http://thepowerofsilaturahim.com, [12 Maret 2012].

[20]Admin, “Kerukunan Umat Beragama”, http://tafany.wordpress.com/2009/12/24/, [12 Maret 2012].

[21]Ibid.

[22]Admin, “Motivasi Ukwah Islamiyah Insaniyah dan Wathoniyah”, http://mnhmotivator.,               [12 Maret 2012].

[23]Admin, “Kerukunan antar Umat Beragama”, http://lukito75fatwa.blogspot.com/2010/12/kerukunan-antar-umat-beragama.html,  [12  Maret 2012].

[24]Muhammad Imarah, Islam dan Pluralitas Perbedaan Kemajemukan dalam Bingkai Persatuan, 2006,  hlm. 33.

[25]Ibid, 139.

[26]Jalaluddin Rakhmat, Islam dan Pluralisme: Akhlak Islam Menyikapi Perbedaan,PT Serambi Ilmu Semesta, 2006,  hlm. 22.

[27]Admin, “Toleransi antar Umat Beragama dalam Pandangan Islam”, http://www.annaba-center.com/main/kajian/detail.php?detail=20090312204755, [12 maret 2012].

[28]Ibid.

[29]Admin, “Toleransi antar Umat Beragama dalam Pandangan Islam”, http://www.annaba-center.com/main/kajian/detail.php?detail=20090312204755, [12 Maret 2012].

[30]Admin, “Pluralisme Agama dalam Pandangan Islam”, http://www.muslimdaily.net, [13 Maret 2012].

[31] Bey Arifin, Hanya Islam, PT bima ilmu, Surabaya, 1982, hlm. 49-50.

[32]Cherfils, Bonarparte et Islam, [Tanpa Penerbit], [Tanpa Tahun], hlm 105-125.

[33] Bey Arifin, Hanya Islam, PT bima ilmu, Surabaya, 1982, hlm. 49-50.

[34]Suryana dkk, Pendidikan Agama Islam, Tiga Mutiara, Bandung, 1996, hlm. 164.

[35]Quraish Shihab, “Wawasan Islam”, http://media.isnet.org/islam/Quraish,  [13 Maret 2012].

[36] Suryana dkk, Pendidikan Agama Islam, Tiga Mutiara, Bandung, 1996, hlm. 177.

[37] Ibid, hlm. 178.

[38] Suryana dkk, Pendidikan Agama Islam, Tiga Mutiara, Bandung, 1996, hlm. 187.

Posted on Maret 20, 2012, in Opinion, Social and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.223 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: