PENGARUH CAHAYA MATAHARI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TANAMAN PISANG


PENGARUH CAHAYA MATAHARI TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN PISANG (Musa spp)


1.    PENDAHULUAN

Radiasi sinar matahari merupakan sumber energi dari benda hidup di bumi. Salah satu yang membutuhkan radiasi sinar  matahari adalah tanaman budidaya. Radiasi sinar matahari terdiri dari 3 spektrum. Spektrum tersebut adalah cahaya tampak, cahaya gelombang pendek (Ultraviolet), dan cahaya gelombang panjang (Inframerah). Cahaya tampak dan gelompang panjang (Inframerah) berperan penting dalam proses fisiologi tanaman, khususnya pada fotosintesis, respirasi, dan transpirasi melalui proses sintesis klorofil, fotosintesis, dan melalui mekanisme aktifitas fototropisme dan fotoperiodik.

Cahaya dalam bentuk intensitas, kualitas, dan durasi yang benar sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Panjang hari dan lama penyinaran  menentukan waktu pembungaan dan mempengaruhi jumlah karbohidrat terlarut pada tanaman. Atas dasar tersebut, tanaman diklasifikasikan kedalam 3 klasifikasi. Yaitu tanaman hari pendek, tanaman hari panjang, dan day-neutral plants. Berdasarkan kebutuhan intensitas cahaya matahari, dikenal dua tipe tanaman yaitu C3dan C4. Tanaman C3 memiliki kompensasi cahaya rendah dan dibatasi oleh tingginya fotorespirasi. Tanaman C4 memiliki kompensasi cahaya tinggi dan tidak dibatasi oleh  fotorespirasi.

Daun menyerap sinar matahari dalam bentuk foton. Daun tanaman menyerap secara selektif gelombang cahayaDaun menyerap sinar matahari dalam bentuk foton. Daun tanaman menyerap secara selektif gelombang cahaya matahari seperti yang tertera pada gambar 1.1. cahaya yang didapat oleh daun kemudian dipergunakan dalam proses fotosintesis untuk  memproduksi gula (karbohidrat). Melalui sel-sel yang berespirasi, energi tersebut akan dikonversi menjadi energi ATP sehingga dapat digunakan bagi pertumbuhannya. Reaksi umum dari proses fotosintesis adalah : 6 H2O + 6 CO2 C6H12O6 + 6 O2. Tanpa adanya sinar matahari, maka proses fotosintesis tidak akan bisa berjalan, dan proses pertumbuhan vegetatif dan  generatif tanaman  akan  terganggu.

3.    PEMBAHASAN

3.1    Pengaruh  Panjang Hari Pada Kemunculan Tandan Buah Tanaman Pisang

            Tanaman pisang (Musa spp) merupakan tanaman hari netral. Tanaman hari netral yaitu tanaman yang dapat berbunga atau melakukan fase generatif jika lamanya waktu siang sama dengan waktu malam. Tanaman pisang dapat berbunga kapanpun dalam satu tahun, namun mereka menunjukkan variasi musiman dalam berbunga dan melakukan fase generatif. Dalam hal ini menurut (Jeanie A, 2011), telah diketahui bahwa penyinaran yang lebih dari 12 jam pada vase mid-vegetatif berdampak positif pada mempercepat laju pembungaan. Namun, singkatnya fotoperiodik akan memperlambat kemunculan tandan pisang. Kemudian juga disebutkan bahwa fotoperiodisme yang panjang saat fase reproduksi dikorelasikan dengan kemunculan tandan hingga 8-11 hari lebih awal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tanaman pisang memiliki respon fakultatif terhadap lama penyinaran yang lebih dari 12 jam.

3.2  Pengaruh Panjang Hari Terhadap Pertumbuhan Tandan Buah Tanaman Pisang

            Tanaman pisang merupakan tanaman hari netral. Namun demikian, adanya lama penyinaran yang kurang dari 12 jam mengakibatkan terhabatnya laju awal pertumbuhan jumlah tandan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa lama penyinaran matahari pada tanaman pisang (Musa spp) berkontribusi pada proses pembungaan pisang, bahkan pada kondisisi lingkungan tropis dengan temperatur sedang (David W. Turner, 2007)

3.3  Pengaruh Naungan Terhadap Tanaman Pisang

             Rendahnya intensitas cahaya akibat naungan yang menutupi tanaman pisang dapat  mempengaruhi morfologi, pertumbuhan, dan produktifitas tanaman tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh (Y. Israili, 2000) pada tanaman pisang yang diberi naungan buatan “black saran screen” berkerapatan ringan, sedang, dan lebat menunjukkan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan vegetatif pada tanaman pisang. Selain itu, adanya naungan menunda waktu dari 6 hari, 9 hari, 15 hari dan berat tandan berkurang dari 8%, 21%, dan 55% masing masing pada tanaman pisang dibawah naingan ringan, sedang, dan lebat.  Penelitian tersebut mengindikasikan bahwa terdapat efek negatif pada tanaman pisang yang diberi naungan. Efek tersebut secara umum menghambat pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pisang merupakan tanaman C4, yaitu tanaman yang memiliki titik kompensasi cahaya yang tinggi, sanggup hidup pada daerah yang kadar CO2 rendah atau kadar O2 tinggi, dan tidak dibatasi oleh fotorespirasi.

4.    KESIMPULAN

  1. Terdapat variasi musiman pada masa pembungaan dan generatif tanaman pisang. Dibuktikan dengan kemunculan tandan menjadi kebih cepat 8-11 hari jika tanaman pisang masa reproduksi diberi sinar mata hari lebih dari 12 jam. Sehingga tanaman pisang meskipun merupakan tanaman hari netral namun masih memiliki respon fakultatif terhadap lama penyinaran yang lebih dari 12 jam.
  2. Sehingga dapat disimpulkan bahwa lama penyinaran matahari pada tanaman pisang (Musa spp) berkontribusi pada proses pembungaan pisang. Hal tersebut dibuktikan bahwa enyinaran yang kurang dari 12 jam pada tanaman pisang menyebabkan terhambatnya laju awal pertumbuhan jumlah tandan.
  3. Tanaman pisang merupakan tanaman C4. Hal tersebut dibuktikan dengan menurunnya tingkat pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman pisang yang diberi naungan. Contohnya adalah terlambatnya masa berbunga, menurunnya berat tandan, dan pertumbuhan batang yang pendek. Semakin lebat naungan yang diberikan, maka proses pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman semakin terhambat.

 

5.    DAFTAR PUSTAKA

Jeanie A. Fortescue, David W. Turner, and Ronald Romero. 2011. Evidence that banana (Musa spp.), a tropical monocotyledon, has a facultative long-day response to photoperiod.  Journal Functional Plant Biology 38(11) 867-878. [serial on line]. http://www.sciencedirect.com/science/ [1 Maret 2012].

Y. Israeli, Z. Plaut, A. Schwartz. 2000. Effect of shade on banana morphology, growth and production.  Journal   Scientia Horticulturae Volume 62, Issues 1–2, April 1995, Pages 45–56. [serial on line].  http://dx.doi.org/10.1016/0304-4238(95)00763-J. [1 Maret 2012]

Harpal S Mavi dan Graeme J Tupper. 2004. Agrometeorology Principles and Applications of Climate Studies in Agriculture. NY : Food Products Press, an imprint of The Haworth Press, Inc.

About these ads

Posted on Maret 8, 2012, in Agriculture and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.225 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: