FILM “SANG PENCERAH”


Setelah menonton film Sang Pencerah di “Bioskop Prodeo” Kusuma 3 hari lalu,  walaupun sedikit kurang nyaman karena orang orang yang mau nonton kurang lebih selalu bersama -semisal satu keluarga atau pasangan muda-mudi yang masih menikmati “dunia milik berdua”- sedangkan pibadi hanya sebatang kara, garing, plus bawa uang pas pasan.  Namun dibalik film inspiratif  yang nampaknya di buat terlalu sederhana dan lebih mirip film untuk pelajaran sejarah di sekolah SMP ku dulu dari pada untuk tujuan konvensional komersil, ada hikmah yang bisa kita ambil. Dan pasti penggemar film, penonton awam, atau orang yang jarang liat film sudah barang tentu  bisa mengambil kesimpulan dengan observasi ainul yaqinmereka  dari film tersebut.

Yang paling menarik dari sesi film berdurasi 2 jam itu  (sebenarnya karena bayarnya hanya 10ribu perak, jadi pemilik bioskop memotong durasi waktunya) , yaitu setelah kepulangan Ahmad Dahlan dari  perjalan sepiritual ke Mekkah atau ibadah Haji dalam budaya Islam ( dahulu dinamakan perjalanan spiritual murni, karena benar benar membutukan ketabahan dalam perjalanan 3 setengah bulan, serta  bentuk akomodasi yang masih terbatas) , singkatnya setelah  dirinya menemukan bahwa terjadi kesalahan posisi kiblat yang tidak menghadap Ka’bah –yang sebenarnya bukan masalah  prinsip yang fundamental-,  Ahmad Dahlan mengadakan pertemuan dengan menunjukkan Peta Dunia. Kemudian, slah satu anggota pertemuan itu berkata “saya pernah melihat peta semacam itu di rumah milik kolinial Belanda, peta itu milik orang KAFIR, hati hati dengan usaha orang Kafir untuk  merusak iman kita kepada ALLAH , saya tidak setuju.” Setidaknya demikian yang ia katakan. Sontak penonton satu bioskop ‘ngakak’ liat pernyataan konyol semacam itu. Namun tentu jelas amat sangat wajar jika pernyataan itu terlontar dalam konteks latar waktu di film tersebut.

Jadi teringat apa yang ibu saya katakan ketika pribadi pulang sehabis membeli chasing HP Nokia 2100 berlogo “RED DEVIL, MANCHASTER UNITED” 9 tahun silam. Lucunya, yan dikatakan ibu saya mirip seperti yang dikatakan anggota pertemuan di film Sang Pencerah. “hati hati le, mungkin itu niat terselubung dari orang Kafir agar menyembah SETAN MERAH. Reaksi pribadi kala itu  jelas setuju 100%  , dan itu maklum dikarenakan lingkungan pendidikan ketika pribadi bersekolah SD adalah berbasis Islam, ditambah ibu saya dulu lagi gencar gencarnya ikut pengajian dan semacam perkumpulan Jama’ah di Masjid Al-Furqon, tempat pribadi bersekolah.

Tapi setelah 9 tahun setelahnya, dan tepat waktu nonton film itu, pribadi pikir, ungkapan  pemikiran yng menghakimi tanpa menelaah terlebh dahulu faedahnya dan nampak konservatif itu sabaiknya ditinggalkan, jika tidak mau  dimata dunia barat, Islam dianggap sebagai agama miskin dan bodoh.

Kesimpulan dari artikel sederhana dan mungkin (masih) memiliki kesalahan tata bahasa ,sebaiknya dalam mengartikan sebuah petuah (maxim) atau wahyu, sudah sebaiknya kita menafsirkannya bukan hanya dari segi konseptual saja, namun juga dari sisi Historis –Azhar, Muhammad. Filsafat Politik, Perbandingan Antara Islam dan Barat, 1997–. Agar para pengikut Islam  tidak tergilas oleh perubahan waktu, tidak persikap apatis dengan budaya yang diciptakan oleh peradaban yang berbeda. Walaupun harus tetap Mengacu pada Al-Quran dan Hadist, namun Sang Khaliq masih menyisahkan nalar dan common sense atau akal sehat, untuk manusia. Agar manusia berfikir dengan akal mereka sebelum bertindak dan mengambil keputusan..

l ilmu qabla qauli walamal . ILMU SEBELUM PERKATAAN DAN PERBUATAN.       

About these ads

About @arghyand

interested in sustainable living

Posted on Agustus 16, 2011, in Education, Opinion. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.223 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: